
Dengan terpaksa Alana mengikuti keinginan jagoan kecilnya, meskipun Alana tidak ingin bersentuhan dengan Jordan tetapi demi Arsya akan Alana lakukan meskipun dia tidak menginginkannya.
Alana menyiapkan handuk kecil yang ada di tas perlengkapan Arsya, lalu mengambil es batu. Dan berjalan menghampiri Arsya dan Jordan yang sedang berbicara.
“Kemari,” ucap Alana dengan nada ketus.
Jordan memperhatikan wajah Alana yang terlihat kesal, dia tahu Alana tidak akan mudah menerimanya kembali.
Arsya terkejut mendapati ucapan Alana yang kembali ketus pada Jordan. “Mami membenci Papi,” ucap Arsya di dalam hatinya.
Jordan mendekap Arsya, di kecupnya puncak kepala Arsya. Ada rasa tidak rela jika harus meninggalkan Arsya, tetapi dia juga tidak ingin membuat Alana semakin marah padanya.
"Papi pulang dulu ya,” ucap Jordan dengan lembut.
Arsya mendongakkan kepalanya, untuk melihat raut wajah Jordan. “Kenapa Papi pulang?” tanya Arsya dengan nada manja, karena dia masih ingin bersama Jordan.
Jordan tersenyum tipis, “Maaf, Papi ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini.”
“Tapi Mami mau sembuhkan hidung Papi dulu,” ujar Arsya.
Jordan membelai pipi Arsya, “Hidung Papi sudah tidak sakit, Arsya cepat sembuh ya. Supaya bisa main bersama Papi lagi.”
Melihat Alana yang diam saja, Arsya menganggukkan kepalanya. Arsya merasa bahwa Alana tidak menginginkan kehadiran Jordan di ruangan ini.
Dengan berat hati Jordan berjalan meninggalkan ruangan Arsya.
“Egois.”
__ADS_1
Gumam Alana terdengar jelas di telinganya, tapi Jordan tidak ingin beradu argumen atau berdebat di depan Arsya.
Setelah keluar dari ruangan Arsya, helaan nafas keluar dari mulut Jordan.
Satu kesalahan yang di buat hari ini adalah memancing emosi Alana. Mungkin Jordan tidak bisa mendekati Alana dengan cara menggodanya, dia merasa harus memikirkan cara lain untuk meluluhkan hati Alana.
Sementara melihat punggung Jordan yang menghilang di balik pintu, hanya satu butir air mata yang menetes dari kelopak mata Arsya.
“Mami,” panggil Arsya dengan suara parau karena menahan tangis.
Mendengar panggilan jagoan kecilnya, Alana menyimpan peralatan untuk mengompres Jordan ke atas nakas.
“Iya, sayang.” Alana memeluk Arsya yang tampak rapuh. Alana tahu Arsya pasti tidak rela melihat kepergian Jordan.
“Arsya ingin pulang, kembali ke Italia bersama Dady,” ucap Arsya sambil memeluk Alana dengan erat.
“Kenapa?”
“Arsya dengar semua pertengkaran Mami dengan Papi. Kalau Papi memang pria bajing*an Arsya tidak mau bertemu Papi lagi.”
‘Karena Arsya tidak mau Mami merasa sakit hati dengan kehadiran Papi, meskipun Arsya rindu dengan Papi’ ucap Arsya di dalam benaknya.
Air mata Alana turun begitu saja tanpa bisa dia cegah. Hatinya tersentuh mendapati Arsya yang rela menjauh dari Jordan demi kebahagiaannya, hanya karena Alana mengatai Jordan seorang ‘Bajing*an’.
Padahal Alana tahu seberapa bahagianya Arsya jika bertemu dan bermain dengan Jordan.
Hanya karena tidak bertemu Jordan selama dua hari saja, jagoan kecilnya sampai demam.
__ADS_1
Isak tangis Alana memenuhi ruang rawat Arsya, dia merasa menjadi ibu yang paling beruntung memiliki Arsya.
Tapi hatinya sakit, Alana tahu seberapa Arsya menginginkan sosok Jordan di hari-harinya.
Rasa sakit itu tergambar jelas di hatinya, apalagi Jordan memanggil sayang pada wanita lain di depannya.
Mungkin sekarang Jordan sudah memiliki wanita lain di hatinya. Dia menyatakan cintanya karena ingin Arsya bersamanya.
‘sakit’
Hanya karena memikirkan Jordan memiliki wanita lain saja, bagaikan ada beberapa anak panah yang menghunjam jantungnya.
“Arsya tidak butuh Papi, selama ini Arsya bahagia bersama Mami. Arsya juga ingin melihat Mami bahagia, tidak seperti sekarang ... Mungkin Arsya memang masih kecil seperti yang Mami bilang, tapi Arsya tidak pernah melihat Mami bersikap kasar pada siapa pun.” Arsya mengeluarkan semua pendapat yang ada di hatinya.
Alana mempererat pelukannya, air matanya semakin deras mendengar penuturan Arsya.
Setelah hatinya merasa tenang Alana melepaskan pelukannya, dia menangkup wajah mungil Arsya dengan kedua tangannya.
Jagoan kecilnya terlihat berurai air mata, wajahnya lesu dan bibirnya terlihat pucat.
“Apa Arsya bahagia bersama Papi?” Tanya Alana dengan suara lembut.
Melihat Arsya menggelengkan kepalanya, rasa bersalah di hati Alana semakin dalam.
“Jawab yang jujur sayang, Mami tidak pernah mengajarimu berbohong,” pinta Alana.
“Arsya bahagia kalau Mami bahagia,” jawab Arsya tulus.
__ADS_1