
Eduard sudah menghubungi Averyl beberapa kali. Namun panggilannya tidak kunjung di terima, akhirnya Eduard memilih menjemput Averyl ke perusahaan Arysa. Namun saat sampai di ruangan sekretaris Eduard tidak mendapati keberadaan Averyl. Ia berjalan ke ruangan Arsya dan masuk tanpa permisi.
“Ada apa?”
“Averyl ke mana?”
Arsya menghentikan aktivitas memandangi layar monitor dan menatap Eduard. “Ada di ruangannya, hari ini tidak ada jadwal ke luar.”
“Dia tidak ada di sana, bahkan teleponku tidak di angkat.”
Arsya mencoba menghubungi telepon di ruangan Averyl. Benar tidak ada yang jawab. Ia mencoba menghubungi nomor pribadi Averyl, tapi hasilnya sama tidak di jawab.
Arsya mencoba membuka kamera pengawas yang ada di ruangan Averyl. Setelah perbincangan mereka Averyl masuk ke ruangannya dan menerima telepon. Arsya melirik Eduard yang tiba-tiba berdiri di sampingnya dan ikut melihat. Mereka dengan saksama memperhatikan ke mana pun Averyl pergi. Hingga Averyl masuk ke dalam sebuah mobil.
Eduard menelepon Simon untuk mencari lokasi dan pemilik mobil tersebut. Setelah mengetahui bahwa mobil itu milik keluarga Namira Eduard tidak bisa tinggal diam.
“Ed kau mau ke mana?” tanya Arsya yang melihat Eduard pergi dari ruangannya dengan wajah khawatir.
Eduard tidak memedulikan pertanyaan Arsya yang terpenting kini ia harus menemukan Averyl sekarang juga. Eduard pergi bersama Simon untuk mencari keberadaan Averyl.
__ADS_1
***
Namira masuk ke ruangan di mana Averyl terbaring. Ia duduk di samping tempat tidur. Dengan lembut Namira membelai rambut Averyl. “Kamu sekarang sudah besar. Ibu tak marah jika kau membangkang dari Gumelar dan memilih menyendiri. Tapi ibu tidak akan membiarkan Eduard membawamu ke dalam neraka yang sudah ia siapkan.” Namira mengecup kening putri yang harus terpisah jauh darinya. Suaminya tidak ingin perselingkuhan Namira dan Gumelar tercium media dan menimbulkan masalah untuk perusahaan. Ia terpaksa menyerahkan Averyl pada Gumelar.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!”
Seorang pria yang bernama Abimanyu masuk dan menunduk hormat pada Namira. “Semua kebutuhan Nona Averyl sudah siap, tinggal menunggu keberangkatan pesawat tiga puluh menit lagi ... Maaf Nyonya, Tuan menghubungi saya dan bertanya tentang keberadaan Nyonya. Saya jawab Nyonya sedang shopping.”
“Bagus.” Namira keluar dari ruangan Averyl untuk menghubungi suaminya. Namira tidak ingin rencananya terendus oleh suaminya yang akan mengakibatkan kekacauan. Rencananya ia ingin mengirim Averyl ke luar negeri, agar Eduard tidak bisa mendekati Averyl lagi.
Setelah ia merasa semuanya aman. Pria itu berjalan mendekat ke tempat tidur. Ia membuka kancing kemeja yang di pakainya satu persatu, lalu ia naik ke atas tempat tidur dan memandang wajah polos Averyl.
Abimanyu melepaskan dasi yang di melingkar di lehernya, ia gunakan untuk mengikat tangan Averyl.
Abimanyu membuka satu persatu kancing kemeja yang di kenakan Averyl, hingga bukit indah Averyl menyembul di balik penyangga bukit. Ia mendekatkan wajahnya pada leher Averyl.
Averyl tersadar dari pingsannya, ia terkejut saat merasakan sebuah nafas di lehernya. Penglihatannya yang buram kini membaik. Ia semakin terkejut saat menyadari bahwa ada pria yang menindih tubuhnya.
__ADS_1
Averyl berusaha memberontak namun pria yang ia kenal dengan nama Abimanyu membekap mulutnya. Averyl tidak bisa berteriak untuk meminta tolong. Ia berusaha melepaskan tangannya yang terikat, namun ikatan tersebut terlalu kuat.
“Tenanglah, mari kita nikmati persatuan singkat ini,” ujar Abimanyu di telinga Averyl.
Tubuh Averyl gemetar, baru kali ini ia merasa ketakutan yang luar biasa. Ia tidak bisa melawan untuk membebaskan diri. Untuk pertama kalinya air mata Averyl mengalir begitu deras. Ia terus menggerakkan tubuhnya berharap keajaiban akan datang padanya. Pria itu mendekatkan wajahnya pada bukit indah Averyl bahkan memberikan kecupan cukup lama di sana.
Averyl merasa dunianya hancur, ia tidak rela jika tubuhnya di jadikan pelampiasan nafsu pria bejat. Kalau sampai itu terjadi Averyl benar-benar berniat untuk mengakhiri hidupnya.
Hanya satu harapannya. Ia berdoa dalam hati dengan sungguh-sungguh. “Tuhan tolong aku,” batin Averyl.
Sementara Abimanyu tersenyum penuh kemenangan melihat air mata Averyl yang turun begitu deras.
***
Sesak nafas sekali buat bab ini. Semoga kalian gak ikutan sesak nafas juga bacanya ya 😄
Btw aku nulisnya tengah malam loh. Gak maksud apa-apa, cuma pengen ngasih tau aja.
Jangan lupa dukungannya supaya aku lebih semangat untuk update. Tinggalkan komentar, like, dan vote. Terima kasih orang-orang baik.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya 💕