
Alana tersenyum malu-malu di panggil sayang oleh Jordan, apalagi di sana ada Nik.
Jordan menatap Nik, “Pulang sekarang!”
Nik yang merasa mendapat angin segar langsung berdiri dari tempat duduknya, “Kalau begitu saya pamit tuan, nona.”
Alana menatap makanan Nik yang masih banyak, “Kok kamu suruh Nik pulang, kan kesihan belum selesai makannya.”
“Nik bisa makan di luar,” jawab Jordan. Dia mengambil slice daging yang belum di masak oleh Alana.
Memasukkannya ke bumbu, lalu Jordan menyalakan apinya.
Alana memperhatikan Jordan yang sedang mengaduk slice daging pada saus. Alana kagum pada Jordan, ternyata pria itu lebih berpengalaman soal memasak dari padanya.
Jordan menyimpan slice yang sudah dia lumuri saus di atas panggangan, “Ini saus barbeque Alana, aku lebih suka memanggangnya dengan saus.”
“Kok enggak pakai minyak wijen kaya di video yang aku tonton?”
Jordan mengalihkan perhatiannya dari panggangan dan menatap Alana. “Minyak wijen itu hanya untuk aroma saja. Aku tidak suka terlalu banyak minyak, dari dagingnya saja sudah banyak lemak.”
Setelah daging panggangnya matang, Jordan memindahkannya pada piring. Dia mengambil nasi, setelah dagingnya cukup dingin Jordan kembali menyuapi Alana.
Alana merasakan sensasi berbeda, rasanya jauh dari milik Alana. Ini mamang pertama kalinya Alana mencoba makanan ini, dan rasanya lebih enak daging yang di masak Jordan.
__ADS_1
Alana melihat Jordan yang memakan dagingnya, Alana ingin tapi dia malu.
Jordan yang sadar sedang di perhatikan Alana menoleh pada gadisnya, lalu menyuapi Alana kembali.
Alana dengan senang hati membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan yang di berikan Jordan.
Alana teringat saus gochujang yang tidak terlihat ada di meja, “Aku mau saus gochujang.”
Jordan yang akan menyuapkan daging ke mulutnya seketika berhenti, “Tidak ada, aku tidak suka pedas.”
Alana mendesah, padahal dari review yang dia tonton saus gochujang yang paling cocok di makan dengan slice beef.
“Kalau kau mau nanti minta An untuk beli.”
Jordan menyimpan piring dan mengambil minum untuk Alana.
Alana merasa di perhatikan oleh Jordan, meski Jordan tidak banyak bicara namun perhatiannya cukup membuat Alana senang.
Tidak semua orang pria yang mau repot mengurusi kebutuhan kecil istrinya, seperti mengambil air minum. Padahal dulu Alana melihat ibunya yang menyediakan minum untuk Ayah, tapi kenapa ini malah sebaliknya.
“Sebetulnya aku masih marah sama kamu,” ungkap Alana.
Jordan menatap Alana, “Marah kenapa?”
__ADS_1
“Kamu mengataiku jal*ang.”
“Memang, tatapan memujamu seperti jalang di luaran sana, saat melihat tubuh seksiku.” Jordan menarik tangan Alana agar mengikutinya.
“Ya memang aku suka sama tubuhmu, aku juga sadar aku Cuma penghangat ranjangmu,” ucap Alana sambil mengikuti Jordan yang masuk ke lift.
“Hmmm,” Jordan hanya menjawab dengan deheman.
“Kamu kok enggak niat minta maaf lagi?” tanya Alana penasaran.
“Buat apa minta maaf lagi, bukannya kamu sudah memaafkan aku. Buktinya coklat yang aku kasih habis, itu coklat mahal aku yakin kamu enggak pernah makan.”
Emosi Alana kembali muncul kepermukaan, bagaimana bisa pria yang barusan sangat perhatian padanya kini menjadi pria yang sangat menyebalkan dalam hitungan menit.
“Tahu begitu enggak aku makan coklatnya,” gerutu Alana.
“Kamu masih mau merajuk?” Jordan menarik tengkuk Alana untuk mendekat pada wajahnya.
“Ti-tidak,” jawab Alana gugup.
Ting, suara pintu lift terbuka.
Jordan menarik Alana untuk masuk ke kamarnya, dia merebahkan tubuh Alana di atas tempat tidur.
__ADS_1