
Sudah dua hari Alana tidak mendapat kabar tentang Jordan. Bahkan Nik pun tidak membalas pesannya. Sebenarnya Jordan sedang mengerjakan apa?
Alana mencoba bertanya pada An mengenai ke mana perginya Jordan, tapi kepala pelayan pun tidak tahu. Alana bingung, dia tidak tahu harus bertanya pada siapa.
Alana tidak bisa menutupi hatinya, jujur dia merindukan setiap perhatian kecil yang di berikan Jordan. Sementara Jordan tidak menghubunginya sama sekali, pria itu bagaikan lenyap di telan bumi.
Satu butir air mata Alana menetes pada ponsel yang di genggamnya, hatinya sakit. Jordan sepetinya tidak menganggap Alana dalam hidupnya, mungkin Alana bukan prioritas Jordan.
***
Sementara di salah satu apartemen elit perempuan bermata biru itu memeluk tubuh Jordan dengan sangat erat, seakan tidak ingin kehilangan pria di dalam pelukannya.
“Lepaskan Em, aku harus pulang,” ucap Jordan dengan lembut sambil mengecup kening wanita yang di panggil Em oleh Jordan.
“Kau milikku, Mik,” lirih Em.
“Iya aku milikmu, jaga bayi yang ada di dalam perutmu! Aku berjanji akan lebih sering menengokmu, tapi sekarang aku harus pulang.”
Bola berwarna biru itu tampak sedih saat menatap Jordan. “Aku pegang janjimu, Mik.” Dengan tidak rela Em melepaskan pelukannya.
“Mari tuan, pesawat sudah siap,” imbuh Niko.
Jordan lebih dulu berjalan, sementara Niko mendekati Em. “Jaga dirimu baik-baik Em. Jangan buat tuan Khawatir.” Seperti biasa Nik selalu mengingatkan semua wanita yang mengancam ketenangan tuannya.
Em mengerucutkan bibirnya, “Aku akan menjaga diriku, tanpa kau perintah!” Sekretaris Mikhael selalu seperti itu padanya.
__ADS_1
Niko tersenyum tipis pada Em, dan berjalan dengan cepat menyusul tuan muda.
***
Nik membukakan pintu mobil untuk tuan muda, Jordan keluar dan menatap Nik. “Pastikan kebutuhan Em terpenuhi!” tegas Jordan.
“Baik tuan.”
Niko mengikuti langkah tuan muda yang masuk ke rumahnya, saat Jordan menghentikan langkahnya Nik pun turut menghentikan langkahnya.
Jordan berbalik menghadap Nik, “Pulang! Kau butuh istirahat.”
“Terima kasih tuan.” Nik menunduk hormat.
Jordan masuk ke kamarnya, dia tersenyum tipis mendapati Alana yang tertidur di balik selimut tebalnya.
Bola hitam pekat itu terlihat buram, Alana mengucek matanya perlahan. Senyumnya mengembang melihat wajah Jordan yang berada di atas wajahnya.
Bahkan Alana bisa merasakan hembusan nafas Jordan yang menerpa wajahnya. “Ini sudah siang Alana, dan kau masih ada di balik selimut.”
Alana menatap bola mata hitam Jordan, “Semalam aku tidak bisa tidur.”
“Merindukanku?”
Alana menampikan senyum malu-malu miliknya, “Hmmm.”
__ADS_1
“Bersiaplah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Jordan menghisap bibir Alana sebentar lalu melepaskannya.
Alana menikmati pemandangan di depanya, hamparan lautan biru. Jordan merapatkan tubuh Alana padanya.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, sementara kapal pribadi Jordan membelah lautan. Kapal yang mereka tumpangi berada tepat di titik lurus matahari.
Warna jingga dari matahari yang hampir tenggelam tampak sangat memukau setiap mata. Jordan sengaja membawa Alana untuk menikmati sunset di atas kapal pribadinya.
“Kau suka?”
“Ya aku suka,” jawab Alana dengan senyum yang merekah.
Jordan mengikis jarak di antara mereka, memeluk pinggang ramping Alana menggunakan satu tangannya. Jordan menyatukan kening mereka.
Bola coklat itu seperti menghipnotis dirinya untuk selalu merindukan pemiliknya. Pelan tapi pasti Jordan menghisap lembut bibir Alana.
Siapa pun yang melihat kemesraan mereka akan merasa iri. Termasuk perempuan yang sedang memegang ponsel. Wanita itu memperhatikan foto pasangan romantis di depan sunset yang tampak sedang berciuman, dengan latar lautan.
“Kau milikku, Mikhael.”
__ADS_1