Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Shadow Bodyguard


__ADS_3

Halo semuanya 😊


Aku hadir untuk memberikan info karya terbaruku, jangan lupa mampir.



Deskripsi


Hidup sungguh tak adil, Alceo Melanthios tak dapat memilih lahir dari orang tua yang sempurna. Ia lahir dari seorang wanita yang tidak memiliki suami.


Menjadi korban perundungan membuatnya mengutuk tuhan dan ingin mengakhiri hidupnya. Tetapi dia tidak bisa membiarkan ibunya tinggal seorang diri di tengah kejamnya dunia.


Setelah sekian lama tak ada yang mau berteman dengannya, untuk pertama kalinya Alceo memiliki teman bernama Pandora Elita. Elita tak keberatan menjadi teman Alceo, meskipun ia ikut menjadi korban perundungan. Bagi Elita ini adalah hal yang mengasyikkan.


Bab 1


Seorang wanita tengah berada di ruang eksekusi, dress putih yang ia kenakan terkena cipratan darah. 


Seorang pria masuk ke dalam ruangan tersebut. "Tuan memanggilmu." 


Wanita tersebut mengangguk, ia mencuci tangannya lebih dulu. Lalu mengeringkannya. Langkahnya tegasnya berjalan menuju lantai teratas di gedung tersebut. Akses lift membuatnya sampai di gedung teratas, di lantai tersebut khusus untuk ketua mafia. 


Dengan sopannya ia mengetuk pintunya terlebih dahulu, dari dalam seorang pelayan membukakan pintu untuk tamu sang tuannya. 


Wanita tersebut masuk ke dalam, ia berjalan menuju ruangan khusus untuk tuannya. Desain ruangan dengan warna hitam pekat membuat ruangan tersebut terasa mencekam. Seperti biasanya wanita tersebut menunduk memberi hormat. 


Pria tersebut menggerakkan tangannya meminta wanita tersebut untuk mendekat. 


Sang wanita berjalan, ia memposisikan tubuhnya duduk bersimpuh tepat di kaki sang tuannya. Kepalanya menunduk dalam-dalam. 


Tangan mafia tersebut membelai puncak rambut wanita yang duduk bersimpuh di hadapannya. "Bagaimana pekerjaanmu sudah selesai." 


"Sudah tuan." 


Mafia tersebut menghentikan aktivitasnya membelai rambut anjing kecilnya, ia menarik dagu wanita yang bersimpuh di hadapannya untuk menatap ke arahnya. "Ada pekerjaan baru untukmu. Aku ingin kau merasakan penderitaan nya, lalu balaskan dendamnya." 


"Baik tuan," jawab wanita tersebut dengan patuh. 


"Jaga dia, nyawanya lebih berharga daripada nyawamu." 


Wanita tersebut memiliki julukan Anjing setia mafia. Sedari kecil ia sudah tumbuh menjadi lebih kuat berkat bantuan mafia, sekarang seluruh tugas yang diberikan oleh tuannya bagi dirinya adalah sebuah misi yang harus diselesaikan tanpa kesalahan sedikit pun. 

__ADS_1


Tak ada rasa terhina sedikit pun saat tuannya mengatakan bahwa nyawa dirinya tidak lebih berharga daripada nyawa yang harus ia jaga. Memang dari awal ia tak pernah berniat untuk hidup, sehingga seluruh kesetiaan dan nyawanya sendiri pun sudah ia serahkan pada tuannya. 


*** 


Siang itu di sebuah sekolah menengah atas tampak seorang pria yang terpojok oleh ketiga orang pria. 


Tubuh pria yang terindikasi bergetar ketakutan, "Ka-kalian mau apa lagi? Aku sudah memberikan jatah uang jajanku." 


"Gue liat Alceo bego! Lo masih punya uang kan, serahkan!" Pria dengan name tag di kemeja sekolahnya bernama Nick. 


Pria yang tersudutkan bernama Alceo Melanthios, memang namanya memiliki arti bunga hitam yang kuat dan tangguh. Tapi lihat kini ia dihadapkan oleh tiga orang teman sekelasnya sudah ketakutan setengah mati, tangannya bergetar. Kakinya terasa lemas tak bertenaga. Keringat dingin mulai bercucuran. 


"Ja-jangan!" Meskipun ketakutan namun Alceo berusaha membentak. Ia tidak boleh membiarkan uang untuk membayar SPP sekolahnya. 


Pria yang dari tadi berada di samping tubuh Alceo segera mengambil secara paksa yang yang ada di saku kemeja Alceo. 


Alceo mempertahankan uang tersebut dengan menggenggamnya dengan erat. Namun Alceo mendapatkan pukulan dari Nick sehingga tubuhnya terhuyung ke belakang. 


Kelvin mendapatkan kesempatan untuk mengambil uang Alceo, ia menyerahkannya pada pemimpinnya, Simon. 


Simon melihat beberapa lembar uang yang di serahkan Kelvin. Bagi Simon jumlahnya memang tak banyak tapi rasa puas yang ia dapat saat melihat wajah Alceo sesuatu yang menyenangkan. 


Alceo mendekat ke arah Simon, ia tak bisa membiarkan uang yang sudah susah payah ibunya berikan lenyap begitu saja. "kembalikan!" Bentak Alceo. Kali ini kemarahan lebih mendominasi dirinya. 


Tubuh Alceo terkapar di lantai, tangannya memegang perutnya yang sangat sakit. 


Simon tersenyum puas melihat penderitaan Alceo, ia pergi begitu saja di ikuti Kelvin dan Nick. Mereka meninggalkan Alceo yang kesakitan. 


Alceo mengepakkan tangannya, ia memang bodoh. Tak bisa berbuat banyak, bahkan untuk membela dirinya pun tak bisa. 


Hati Alceo merasakan sakit, saat membayangkan wajah ibunya yang penuh dengan keringat karena kelelahan mencari uang. 'Maafkan aku Bu,' batin Alceo. 


Alceo berusaha bangkit, namun perutnya sangat sakit sehingga ia tidak bisa berdiri tegap dengan benar. 


Seorang wanita dengan rambut yang terurai panjang tersenyum ke arah Alceo. "Apa kamu baik-baik saja?" 


Alceo cukup tercengang dengan kehadiran wanita yang baru pertama kali ia lihat. Ia segera pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan wanita tersebut. 


Wanita tersebut segera berlari mengejar Alceo, ia menghadang jalan Alceo. "Kenapa malah pergi, aku mau bertanya." 


Alceo terpaksa menghentikan langkahnya, karena wanita yang berada di hadapannya ternyata membutuhkan bantuan. "Tanya apa?" 

__ADS_1


"Aku tidak tahu letak kelasku," ujarnya dengan senyum menahan malu. 


Alceo memperhatikan wajah wanita tersebut, benar selama dua tahun lebih ia bersekolah tidak pernah sekalipun melihat wanita tersebut. "Kamu murid kelas berapa?" 


"Dua belas IPA dua. Oh iya kenalkan nama aku Pandora Elita, kamu bisa memanggilku Elita saja." Elita menampilkan senyuman di wajah cerianya, meskipun apa yang tampil di dalam wajahnya hanya sebuah kepalsuan untuk mendalami perannya. Ia mendapatkan nama norak dalam misinya kali ini, namun tak masalah baginya. Dengan nama norak seperti ini bagi Elita akan mudah memancing orang untuk melakukan perundungan pada dirinya. 


"Kita satu kelas, kebetulan aku juga mau ke kelas," ujar Alceo. 


"Tapi kayaknya kamu harus ke UKS dulu, wajahmu lebam," ujar Elita. Ia memperhatikan penampilan pria yang harus ia jaga selama penyamaran ini. Rambut yang menutupi dahi, baju rapi di masukan ke dalam, terkesan culun. Pantas saja menjadi bahan bullying, padahal jika dilihat dari wajah, Elita terdiam. Ia menelitinya dengan baik-baik, wajah pria di depannya sembilan puluh persen mirip dengan tuannya. 'Apa jangan-jangan?' Elita menyingkirkan pikirannya, ini adalah tugas yang harus ia selesaikan. Ia hanya perlu profesional dan menjalankan semua tugasnya sesuai permintaan tuannya. 


"Tidak perlu," jawab Alceo. Ia segera berjalan meninggalkan Elita. 


Elita segera menyusul kembali Alceo, pria itu senang sekali meninggalkan dirinya. "Tunggu aku. Sebentar kamu belum memperkenalkan dirimu." Elita mensejajarkan langkahnya dan berjalan beriringan dengan Alceo. 


"Alceo." 


Sangat singkat, serta selama berbicara dengan Alceo sekalipun Elita tak pernah melihat Alceo berani menatapnya. Kepalanya selalu menunduk. 


Saat memasuki kelas seluruh pasang mata menatap ke arah Alceo dan Elita. 


"Halo semuanya, namaku Pandora Elita. Kalian bisa memanggilku Elita." Elita tersenyum ke seluruh murid yang ada di dalam kelas. 


"Pandora, kemari!" Panggil Simon. 


Pandora berjalan dan menghampiri pria yang memanggilnya.


"Lo temenan sama anak haram itu?" Tujuk Simon pada Alceo.


Alceo menunduk kepalanya, ia berjalan menuju tempat duduknya yang ada dipojok. 


"Iya kenapa memangnya?" Tanya Elita dengan nada menantangnya. 


Simon menekan pipi Elita menggunakan tangan kanannya. "Berani ya Lo ngomong kayak gitu di depan gue?" 


"Memangnya Lo siapa? Sampai harus saya hormati?"


Simon semakin kesal saat tidak melihat raut wajah ketakutan dari Elita, ia semakin kencang menekan rahang Elita dengan sebelah tangannya. "Gue ini anak pemilik sekolah, Lo bisa gue keluarkan dari sekolah ini sekarang juga!" 


"Aaaa gue takut," ucap Elita dengan sengaja mengejek. 


Sebelah tangan Simon lainnya yang terbebas menarik rambut Elita ke belakang, hingga wajah Elita menengadah ke atas. "Beraninya Lo!" 

__ADS_1


Seorang guru masuk ke dalam kelas dan melihat perlakuan Simon pada Elita. Rasanya tak aneh entah keberapa ratus kali ia melihat perbuatan anak pemilik sekolah yang sering melakukan perundungan pada murid lain, namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. 


"Duduk rapi di tempat kalian masing-masing, kelas akan di mulai," ujar guru tersebut. 


__ADS_2