Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Naik Motor


__ADS_3

Satu minggu berlalu bergitu cepat, Alana di sibukan dengan beberapa pekerjaan yang menyita waktunya. Bahkan pekerjaan itu belum usai karena masih ada beberapa kendala. Beruntung ini adalah hari minggu ia bisa menghabiskan waktu dengan jagoan kecilnya, Arsya.


“Mami liat Arsya udah jago naik sepedanya,” teriak Arsya tanpa menghentikan laju sepedanya.


“Iya tapi hati-hati, sayang.” Dari kejauhan Alana tersenyum melihat anaknya yang antusias. Pengasuh Arsya berkata bahwa Arsya tiba-tiba ingin membeli sepeda supaya bisa naik motor besar, karena menurut Lord Arvan tidak akan bisa naik motor besar jika belum bisa bersepeda.


Alana tidak mempermasalahkan itu, memang selama ini dia belum memperbolehkan Arsya untuk mencoba bersepeda, karena ia takut dirinya atau pun penghasuhnya tidak bisa menjaga Arsya jika jagoan kecilnya itu terjatuh.


Perhatian Alana tertuju saat sebuah klakson berbunyi di depan gerbang, gerbang itu terbuka tidak terlalu lebar. Alana cukup terkejut mendapati Jordan masuk ke halaman rumah dengan menggunakan motor besar seperti keinginan Arsya. Ia tahu Jordan siapa, pria itu pasti mudah mencari alamat rumahnya tanpa perlu repot-repot bertanya padanya.


Arsya yang mendengar suara kenalpot motor yang di bawa Jordan seketika menghentikan aktivitas mengayuh sepedanya. Ia berlari ke arah Jordan yang kini sudah berada di samping mobilnya yang terparkir.


Dari tempatnya Alana melihat Arsya yang minta di gendong ingin naik ke motor Jordan, Jordan sepertinya tidak terlihat keberatan. Ia menaikan tubuh Arsya di bagian depan dan beberapa putaran motor itu mengelilingi halaman dengan tawa senang Arsya saat mendengar suara knalpot yang cucup memeikkan telinga.

__ADS_1


“Berisik!” teriak Alana dari kejauhan.


Jordan menghentikan laju motornya dan memarkirkannya. “Papi lagi,” rengek Arsya.


“Nanti lagi yah, Mami marah itu.” Jordan semakin gemas melihat wajah gembira Asya kini cemberut karena kepuasannya belum terpenuhi.


Jordan membawa Arsya ke dalam gendongannya, dan mendekat pada Alana yang sedang menikmati kue serta teh di pagi hari. “Selamat pagi,” sapa Jordan.


Alana menghentikan aktifitas membacanya dan menoleh pada Jordan. “Pagi,” jawab Alana datar. Dia berusaha memposisikan dirinya jika berada di kantor saat membalas sapaan bawahannya. Dia tidak ingin Jordan merasa kedatangannya membuat Alana terkejut, padahal di dalam hatinya Alana sudah berusaha mati-matian menahan debaran jantungnya.


“Apa sayang?”


“Papi sudah sarapan belum?”

__ADS_1


Jordan tersenyum mendengar pertanyaan Arsya, “Sudah dong, kan sarapan pagi itu penting. Memangnya jagoan Papi ini belum makan?”


Arsya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, “Arsya mau di suapi Papi lagi, boleh?”


Jordan benar-benar gemas mendengar ucapan Arsya , sudah satu minggu ini dia  menahan kerinduan kepada Arsya. “Boleh dong, tapi makannya harus banyak yah.”


“Arsya makannya banyak kok Papi, soalnya kan Arysa mau cepat-cepat besar. Supaya bisa naik motor besar seperti Papi.”


Jordan memperhatikan Arsya yang sedang berceloteh, ia mencium aroma tubuh Arsya. “Iya nanti Arsya bisa kaya Papi naik motor, tapi kok jagoan Papi masih bau bantal … belom mandi yah?” selidik Jordan di balas senyuman malu-malu oleh Asrya.


“Iya Arsya mau mandinya sama Papi barengan.”


“Boleh, tapi sekarang kira sarapan dulu yah,” ucap Jordan sambil mengelus puncak kepala Arsya.

__ADS_1


Dari tempatnya Alana memandangi obrolan dua pria di yang sedang duduh di hadapannya. Alana tidak pernah melihat Arsya semanja itu pada Arvan, bahkan Arsya tidak pernah ingin mandi bersama Arvan. Jika ingin berenang Arsya selalu minta di temani Alana, mungkin Arsya tahu jika Arvan buka Ayah sebenarnya.


__ADS_2