
Jordan terkejut mendapati nomor Alana yang muncul di layar ponsel yang selama ini Jordan simpan di kantornya. Ada rasa khawatir mendapati Alana yang tiba-tiba meneleponnya untuk pertama kali.
Rasa khawatir itu bertambah saat mendengar bahwa Arsya sakit, Jordan bergegas keluar dari ruangannya. Dengan langkah tergesa-gesa Jordan menuju basemen dan masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan hatinya tidak tenang, Jordan menambah kecepatannya untuk sampai di rumah sakit yang Alana kirimkan alamatnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Jordan sudah sampai di rumah sakit. Dia berjalan menuju ruangan yang Alana sebutkan.
Jordan membuka pintu ruangan Arsya dengan perlahan, Dia berjalan menghampiri tempat tidur Arsya. Di sana ada Alana yang sedang menatapnya, Jordan tersenyum kearah Alana dan Arsya.
Dengan jelas Alana melihat wajah khawatir Jordan, yang sengaja Jordan tutupi dengan senyuman. Alana berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan mundur untuk memberikan ruang agar Jordan bisa berdekatan dengan Arsya.
Setelah mendapat izin dari Alana, Jordan berjalan mendekati Arsya. Melihat kondisi Arsya yang terlihat lemah membuat rasa sakit di hati Jordan muncul.
Dia memeluk Arsya dengan sangat lembut, mendekapnya dengan sangat erat. Rasa khawatir yang menyelimutinya perlahan memudar, meskipun rasa khawatir Itu masih ada karena melihat kondisi Arsya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
Arsya mengeluarkan air matanya, dia membalas pelukan erat Jordan yang sangat ia tunggu-tunggu. “Papi ke mana saja, Arsya ingin bermain bersama Papi.”
Jordan melepaskan pelukannya dia menatap mata Arsya dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan Papi sayang, karena telah membuat Arsya menunggu. Pekerjaan Papi cukup banyak, Jadi Papi baru bisa menemui Arsya sekarang.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa Papi, Arsya senang melihat Papi ada di sini.” Di balik tangisnya Arsya berusaha tersenyum kepada Jordan.
Jordan terharu melihat Arsya yang menampilkan senyumnya di saat ia menangis, bahkan jagoan kecilnya itu terlihat sangat bijaksana. “Papi akan menemani Arsya, tapi Arsya harus cepat sembuh ya.”
Kepala Arsya mengangguk dengan lemah, karena kepalanya terasa pusing.
“Papi," panggil Arsya.
“Apa sayang?”
“Arsya ingin tidur ditemani Papi."
Mendengar ucapan Jordan, Arsya merasa tenang. Dia menutup matanya Karena rasa pusing terus menerjang kepalanya.
Alana yang sedang duduk di sofa hanya diam memandangi vas bunga di depannya. Perasaannya tidak karuan, helaan nafas keluar dari mulutnya.
Alana berusaha bersikap tenang dan dia memainkan ponsel di dalam genggamannya. Suara sepatu Jordan terdengar jelas mendekat ke arahnya.
Dia melirik ke arah Arsya yang terlelap di atas tempat tidurnya, rasa haru menyelimuti hatinya karena Jordan mampu menenangkan Arsya di saat jagoan kecilnya sakit. Namun pandangannya tertuju pada Jordan duduk sofa yang berhadapan dengannya membuat degup jantung Alana tidak karuan.
__ADS_1
Jordan menatap dengan pandangan meminta penjelasan, “Sebenarnya Arsya kenapa?”
Alana menggigit kecil Bibir bawahnya. “Aku tidak sengaja membentak Arsyad tadi ... Saat aku temui Arsya terlihat tampak terlelap di atas tempat tidurnya.”
Rasa marah muncul di hati Jordan mendengar Alana yang membentak Arsya, tapi menurutnya Alana tidak akan setega itu jika Arsya tidak membuat sesuatu kesalahan. "Kenapa kau membentaknya? "
Alana menarik nafas perlahan, “Tadi saat aku baru saja pulang kerja, Arsya terus merengek kepadaku. Dia sangat ingin bertemu denganmu."
Jordan tahu ada rasa keraguan di hati Alana, atau lebih tepatnya Alana tidak ingin membuat Arsya bergantung kepadanya.
Padahal jika Jordan tahu Arsya menginginkan kedatangannya, dia akan sukarela mampir ke rumah Alana.
Jordan diam, dia memikirkan kata-kata yang tepat. “Alana maukah kamu kembali kepadaku, menjadi istriku?”
Alana menampilkan senyum sinisnya, “Untuk apa, kau ingin menyakiti aku kembali?”
“Tidak Alana, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi.”
Alana bangkit dari duduknya, dia berdiri menatap tajam pada Jordan. “Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu, setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau masih berani memintaku kembali ... Aku bukan Alana empat tahun yang lalu, perempuan lemah yang hanya mengekor di belakangmu.”
__ADS_1