
Mobil yang di kendarai Averyl sudah sampai di kediaman Jordan. Averyl menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk menenangkan rasa gugup. Setelah rasa gugupnya hilang. Averyl keluar dari mobil dan berjalan ke pintu utama. Hal pertama yang Averyl lihat adalah pemandangan yang membuat jantungnya bergemuruh. Eduard menerima suapan Asyila.
Asyila melirik ke arah pintu. Ternyata ada Averyl di sana. “Yah telat, kuenya udah di potong. Kamu udah kenyangkan sayang?” Tanya Asyila pada Eduard.
Saat Eduard mengangguk Averyl merasa percuma datang ke sini. Dia ingin pergi saja, tetapi ia ingat bahwa nyonya Alana ingin berbicara.
Alana berjalan menghampiri Averyl dan merangkulnya. “Ayok kita masuk Averyl, kuenya memang sudah di potong. Maaf ya tidak menunggumu, Asyila terlalu antusias dan ingin segera memotongnya.”
Averyl menimpali ucapan Alana dengan senyuman. Averyl berjalan mengikuti Alana dan duduk di sofa bersamanya. Sementara di depannya Eduard dan Asyila duduk bersama. Tidak lupa Asyila yang bersandar di bahu Eduard sambil tersenyum meledek pada Averyl.
Melihat pemandangan yang kurang mengenakkan rasanya Avery ingin pergi saja. Statusnya sebagai istri Eduard pun seperti tidak di anggap oleh siapa pun, termasuk Eduard. Averyl memperhatikan Eduard yang sibuk berbincang dengan Asyila. Sementara dirinya hanya menjadi penonton kemesraan mereka.
Alana melihat rasa cemburu dari raut wajah Averyl. “Averyl ikut Mami, ada yang ingin mami bicarakan,” pinta Alana.
Averyl mengangguk dan berjalan mengikuti Alana yang melangkah ke lantai dua. Dari ekor matanya Averyl bisa melihat apa yang sedang di lakukan Asyila pada Eduard. Adik iparnya itu tengah berbisik di telinga Eduard. Tanpa sengaja Averyl menghela nafas.
“Ada apa Averyl?”
Averyl terkejut. Ia tidak menyangka Alana akan mendengar. “Tidak Tante,” jawab Averyl sambil tersenyum.
__ADS_1
Alana membalikkan tubuhnya menghadap Averyl. “Kok Tante, Mami saja. Sekarang kamu istrinya Eduard. Itu artinya Averyl juga anak Mami.”
“Baik Mam.” Averyl tidak terbiasa dengan panggilan Mami. Tapi ia tidak ingin membuat Alana berkecil hati karena mendapat penolakan. Andai saja Mami Alana tahu bahwa pernikahan ini hanya percobaan mungkin Mami Alana tidak akan sebaik ini.
Averyl dan Alana sudah sampai di lantai dua dengan menapaki anak tangga. Hal yang pertama Averyl jumpai adalah deretan foto masa kecil Arsya, Asyila dan Eduard yang berjejer rapi. Foto Asyila dan Arsya tampak dari bayi, sementara tidak ada foto bayi Eduard. Averyl dapat menyimpulkan bahwa Eduard tidak di angkat menjadi anak sejak bayi.
Alana menghentikan langkahnya, ia menatap foto Eduard saat pertama kali di bawa ke rumah ini oleh Jordan. “Ini adalah foto pertama Eduard saat menjadi bagian dari keluarga kami,” ucap Alana sambil menunjuk sebuah foto.
Averyl memperhatikan foto tersebut. Ia menebak mungkin saat itu usia Eduard tujuh tahun. Tubuhnya sangat kurus. Rambutnya menjuntai sebahu.
Averyl cukup terkejut saat mendapat pernyataan bahwa Eduard sudah di buang sejak bayi. Averyl kini merasa sedikit lebih beruntung dari Eduard, meskipun hidupnya terasa seperti di neraka setidaknya Gumelar masih mau memberikan kehidupan yang cukup layak.
“Kenapa Eduard di buang, apa orang tuanya tidak menginginkan kehadiran Eduard di kehidupan mereka?” tanya Averyl. Ia tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Eduard bukan di buang oleh orang tuanya. Mami tidak bisa ceritakan semuanya, mungkin Averyl bisa tanya pada Eduard untuk cerita lebih lengkapnya.”
“Baik Mam.”
__ADS_1
“Averyl. Kamu adalah wanita pertama yang biasa mengetuk pintu hati Eduard. Maafkan Eduard yang sudah memaksamu menikah dengannya ... Ah sepertinya bukan memaksa, lebih tepatnya menjebakmu. Tapi Mami berharap pernikahan kalian akan selamanya, Mami tidak pernah melihat Eduard mencintai wanita sedalam ini. Apalagi sampai berani menentang kami dan menikamu diam-diam, padahal Arsya hanya bercanda ingin menikahimu.” Alana tersenyum lebar tidak menyangka Eduard akan senekat ini.
Averyl hanya terdiam membisu, ada perasaan senang dan terkejut saat Alana mengatakan bahwa Eduard mencintai Averyl. Pipi Averyl sedikit bersemu merah, tidak lupa debaran jantungnya menambah rasa gugup Averyl.
“Averyl,” panggil Alana.
“Iya Mam.”
Perasaan Alana tidak enak, tapi ia harus menyampaikan ini pada Averyl. “Mungkin ini akan menyakitimu, tapi Mami harap kamu mengerti. Mami dan Papi menyekolahkan Asyila di luar kota bukan tanpa alasan ... Papi melarang hubungan Asyila dan Eduard.”
“Maksud Mami?”
“Asyila menyukai Eduard dari dulu.”
***
Belum apa-apa udah ada saingannya 😂
Jangan lupa like, komentar, dan vote-nya ya. Sampai jumpa di bab selanjutnya 💕
__ADS_1