Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Cukup Pantas


__ADS_3

"Morning sickness selama satu bulan, Tuan tidak tahu. Hanya saya dan dokter yang tahu, saya sempat ingin bicara bahwa Nona sepertinya sedang hamil. Hanya saja jika saya menyebutkan nama Nona. Tuan akan marah, dia selalu mengisyaratkan agar saya tidak membahas Nona sedikit pun.” Nik menahan senyum yang akan timbul di wajahnya, dia tidak ingin kehilangan wibawanya di hadapan Alana.


Jika mengingat kelakuan kekanak-kanakan tuan mudanya, selalu berhasil memancing tawa Nik.


Bagaimana tidak setiap Nik akan memberikan informasi tentang Alana Jordan tidak pernah mau membahasnya, padahal Nik pernah beberapa kali memergoki Jordan yang meneteskan air mata.


Dan itu selalu terjadi setelah Nik akan membahas persoalan Alana.


“Baiklah Nik, terima kasih atas informasinya. Tadi kau menelepon nomor Jordan ada hal penting?”


“Tidak ada Nona, saya hanya memastikan bahwa ponsel Tuan masih di tangan Nona.”


Alana berdiri dari tempatnya, “Kalau begitu saya duluan.”


Nik memperhatikan Alana yang berjalan menuju pintu keluar, Nik berdiri dari tempatnya untuk segera pulang namun langkahnya terhenti karena panggilan dari seorang waiters.


“Maaf tuan.”


Nik membalikkan tubuhnya, seorang waiters berdiri tidak jauh darinya. “Ada apa?”


“Pesanannya belum di bayar,” ucap waiters sambil tersenyum.

__ADS_1


“Saya tidak pesan apa pun,” jawab Nik dengan nada tegas.


Waiters itu tersenyum, “Tuan memang tidak memesan, tapi perempuan yang berbicara dengan tuan yang memesannya.”


“Kau membuatku malu saja Nona,” gerutu Nik di dalam hatinya.


Nik berjalan menuju kasir, dia membayar pesanan Alana. Waiters tadi menghampirinya kembali, dan memberikan bunga serta coklat. Coklat tersebut di ikat menyatu pada bunga.


“Apa ini?”


“Untuk pelanggan yang datang bertemu pasangan, kami memberikan bunga serta coklat untuk peringatan hari Valentine,” ujar waiters tersebut.


Entah kenapa senyum wanita itu terlihat manis dan membuat Nik grogi. “Wanita tadi bukan pasangan saya.”


“Untuk kau saja,” tandas Nik. Dia memberikan coklat dan bunga tersebut pada waiters.


Nik mengambil kartu ATM- dan berjalan dengan santai melewati waiters yang kini sedang berdebar karena mendapatkan bunga dari pria tampan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Tampan dan baik hati sekali pria itu,” ucap waiters di dalam hatinya sambil memeluk bunga pemberian Nik, dengan wajah yang gembira.


***

__ADS_1


Setelah keluar dari caffe Alana berjalan kembali ke rumah sakit, telepon di tasnya kembali berdering. Terdapat panggilan masuk dari Arvan, Alana menekan tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga.


“Alana,” sapa Arvan setelah teleponnya tersambung.


“Iya Lord.”


“Aku dapat laporan Arsya masuk ke rumah sakit.”


“Iya,” ucap Alana lesu.


“Tanpa perlu bertanya aku sudah tahu jawabannya,” ucap Arvan tegas.


Alana menggigit kecil bibir bawahnya, “Maaf Lord.”


“Jangan di ulangi!”


“Bolehkah aku bertanya?” setelah beberapa menit tidak mendapat penolakan, itu artinya Arvan mengizinkannya.


“Kenapa abang membiarkan Jordan tahu kalau aku melahirkan?”


r

__ADS_1


“Karena aku tahu, Jordan sudah berubah. Saat melihat dia merelakan kamu dan Arsya tidak bisa bersamanya, aku tahu seberapa besar Jordan mencintai kalian. Aku rasa Jordan sudah pantas menjadi seorang ayah dan suami bagi kalian. Hanya saja kau masih tidak ingin bertemu dengannya, aku rasa Arsya berhak mendapatkan kasih sayang dari Jordan.”


__ADS_2