
Siang itu Averyl dan Arsya sudah menyelesaikan rapat perusahaan, mereka berjalan beriringan keluar dari ruang rapat menuju ruangan CEO. Averyl ikut masuk ke ruangan CEO guna membahas hasil rapat barusan. Dalam pikiran Averyl setumpuk pekerjaan sebentar lagi akan memenuhi meja kerjanya.
Asisten pribadi Arsya dengan sigap membuka pintu ruangan untuk Arsya dan Averyl. Arsya duduk di kursi kebanggaannya. “Duduk!” mendapat perintah dari atasannya Averyl duduk di kursi yang berhadapan dengan Arsya, mereka terpisah oleh meja kerja Arsya.
Cabang perusahaan MA Grup yang bergerak di bidang industry garmen mengalami kerugian yang cukup besar, karena pembatalan sepihak yang menyebabkan kerugian cukup banyak. Penalti yang di dapat tidak mampu menutupi kerugian.
“Kamu lengah dalam mengawasi mereka?”
Suara bernada tenang itu bagikan panah yang menikam di jantung Averyl. “Tidak, Tuan. Saya sudah melakukan pengawasan, seperti yang saya sampaikan di rapat barusan pihak mereka yang memutuskan kontrak secara sepihak.”
Arsya menundukan pandangannya dia memijat pelan pelipisnya. “Jangan berpura-pura! Saya mendapat kabar kamu bertemu dengan Pemimpin perusahaan Havelaar Grup."
'Aduh mampus', batin Averyl.
“Siapa yang Tuan maksud saya tidak mengerti?” Averyl memilih pura-pura tidak tahu. Padahal ia ingat betul kartu nama pria yang berhasil membuatnya hamil di luar nikah.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!”
Asisten pribadi Arsya masuk ke dalam. “Tuan ada tamu.”
“Biarkan dia masuk, saya sudah selesai.” Arsya menatap Averyl.
Suara ketukan di pintu berhasil menyelamatkan hidup Averyl untuk sementara. Apalagi melihat tatapan Arsya yang memintanya pergi dari ruangan tersebut. Averyl berdiri lalu membungkuk memberi hormat. “Tuan saya permisi,” pamit Averyl sambil tersenyum. Ia membalikan tubuhnya hendak melangkah namun kakinya tidak mampu bergerak saat netranya menangkap tatapan Eduard yang tersenyum miring.
'Tuhan … bencana apa lagi ini?' Batin Averyl.
Averyl berjalan menuju pintu keluar, saat berpapasan dengan Eduard ia hanya menganggap bahwa pria itu hanya angin lalu. Setelah menutup pintu ruangan Averyl bernafas dengan lega, mesipun dadanya masih berpacu cukup kuat.
Arsya menatap Eduard lekat, dia malas berurusan dengan pria satu ini jika bukan urusan pekerjaan. “Apa maumu Ed?”
“Kau tidak ingin menawariku duduk?”
__ADS_1
“Silahkan duduk Tuan Eduard Havelar!” ucap Arsya dengan nada penuh penekanan. Eduard duduk di kursi santai yang ada di ruangan Arysa.
Malas rasanya jika harus berhadapan dengan playboy kelas kakap seperti Eduard, tapi perusahannya kini ada di tangan Eduard. Arsya berjalan menghampiri Eduard dan duduk berhadapan.
“Sejak kapan kau memiliki sekretaris cantik seperti Averyl?”
“Cukup basa-basinya Ed, perusahaanku mengalami kerugian besar karenamu!”
Eduard terkekeh, “Tenanglah, kau seperti tidak tahu siapa Eduard Havelaar.”
Arsya mengacak rambutnya frustrasi, perusahaan yang di bangun papanya hampir gulung tikar dalam kepemimpinannya. “Apa maumu Ed, cepat katakana!”
“Dia mau menggugurkan anakku, dan aku tidak akan tinggal diam.”
Arsya menautkan kedua alisnya, dia tidak salah dengar? Seorang Eduard Havelar mengejar Averyl karena mau menggugurkan anaknya. Ia mengambil sebuah majalah yang ada di atas meja dan memukul kepala Eduard.
“Tidak ada sopan santun kau ini!” geram Eduard ia tidak terima kepalanya di pukul oleh Arsya, tatapan mematikan ia berikan kepada Arsya.
“Sepertinya otakmu geser Ed, mana mungkin seorang Eduard mengejar seorang wanita hanya karena dia ingin menggugurkan anakmu? … bukannya itu yang biasa kau lakukan pada wanita yang berhasil mengandung benihmu.” Arsya tidak takut pada Eduard, sepertinya sepupunya itu harus di ingatkan pada kebiasaannya.
“Sepertinya otakmu geser Ed, mana mungkin seorang Eduard mengejar seorang wanita hanya karena dia ingin menggugurkan anakmu? … bukannya itu yang biasa kau lakukan pada wanita yang berhasil mengandung benihmu.” Arsya tidak takut pada Eduard, sepertinya sepupunya itu harus di ingatkan pada kebiasaannya.
“Kau yakin itu anakkmu? … tubuhnya putih mulus emmm dan nikmat.”
Eduard merebut majalah di tangan Arsya lalu memukulnya tepat di kepala Arsya. Ini bukan balasan tidak terima ia di pukul Arsya, tapi ia tidak terima melihat gairah yang di pancarkan oleh Arsya. Meskipun ia tahu betul Arsya bukan pria yang senang meniduri wanita tanpa ikatan jelas.
“Sakit Ed,” keluh Arsya.
“Berani kau menyentuh Averyl, perusahanmu ku obrak abrik!” ancam Eduard.
“Jadi apa yang kau mau?” pertanyaan Arsya di jawab senyum menyeringai dari bibir Eduard yang menakutkan. Satu hal yang Arsya tahu pria di hadapannya sedang tidak main-main.
***
__ADS_1
Averyl tidak ingin memikirkan masalah Eduard yang datang ke kantor. Meskipun jelas-jelas pria itu mempunyai maksud tertentu, apalagi kini Arsya sebagai CEO tahu bahwa ia ada skandal dengan Eduard. Averyl merasa itu tidak terlalu penting, yang terpenting untuk sekarang ia harus menggugurkan kandungannya tanpa sepengetahuan Eduard.
Averyl yang tengah duduk di kursi kerjanya seketika memandangi perutnya, ia membelai dengan lembut perutnya yang masih datar. “Kamu harus pergi, sekalipun kamu lahir kamu tidak akan pernah mendapat kebahagian. Apalagi yang melahirkannya seorang wanita sepertiku,” gumam Averyl berusaha berinteraksi dengan janinnya.
Averyl mencari klinik aborsi yang aman dan kemungkinan kecil di ketahui Eduard. Ia sudah menyusun rencana untuk dini hari melakukan aborsinya, berharap Eduard tidak mengagalkan rencananya.
Telpon di sampingnya berdering dari line satu, milik CEO. Dengan cepat Averyl mendekatkan gagang telepon ke telinganya.
“Ke ruangan saya, sekarang juga!”
“Ba-“ belum sempat Averyl menjawab Arsya sudah menutup teleponnya.
Ruangan Averyl dan Arsya bersebelahan. Tangan Averyl baru saja terangkat untuk mengetuk, tapi ia urungkan. Ragu, dia tidak siap jika di dalam masih ada Eduard. Setelah menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, ia memberanikan diri untuk mengetuk lalu masuk ke ruangan Arsya tanpa menunggu jawaban.
Helaan nafas lega keluar dari mulut Averyl, di sana tidak ada Eduard. Saat Manik Averyl bertemu dengan Arsya, CEO-nya terlihat prustrasi. “Astaga apalagi yang dia perbuat?” tanya Avreyl di dalam benaknya.
“Duduk!”
Perintah Arsya dengan cepat Averyl lakukan, ia duduk dengan tegap memandangi Arsya yang memijat pelipisnya. Maniknya mengikuti gerak Arsya yang menghela nafas dan memberikan sebuah map ke hadapan Averyl.
“Baca!”
Sepertinya Arsya mengalami masalah berat, tidak biasanya ia seperti ini. Averyl mengambil map tersebut lalu membukanya. “Surat perjanjian?” ujar Averyl dengan suara pelan yang masih bisa di dengar oleh Arsya.
Averyl membaca surat tersebut dengan seksama. Maniknya membola mendapati perjanjian dalam surat tersebut, pernyataan bahwa pihak pertama Eduard akan melanjutkan kerja sama mereka, serta mengganti kerugian yang di alami oleh MA Grup. Dengan syarat Skretarisnya harus di pecat, karena telah lalai dalam menangani proyek kerja sama mereka. Jika pihak kedua tidak setuju, yang jelas ia akan menyebarkan berita untuk menjatuhkan perusahaan MA Grup.
“Tuan, tapi ini bukan salah saya,” ujar Averyl membela diri.
Arsya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat printer, hasil print tersebut ia serahkan kepada Averyl. Ia sedang tidak ingin banyak berbicara, Eduard benar-benar merusak moodnya. Sedikit saja ia salah memilih keputusan yang pasti perusahan yang di bangun orang tuanya akan runtuh dalam sekejap di tangan Eduard.
Setelah meneliti bukti yang di berikan Arsya mulut Averyl terkatup dia kesulitan untuk berbicara. Selama ini ia tidak pernah lalai tapi kenapa harus project dengan Havelar Grup ia kecolongan hingga seseorang yang ia percaya di lapangan berkhianat, dengan menggelapkan dana.
“Averyl, saya tidak bisa mempertahankan kamu!”
__ADS_1
Jantungnya berdetak dengan cepat, tangannya mengepal ia marah pada Eduard karena berani menekan perusahaan tempat ia bekerja dan marah pada kepercayaannya yang berani berkhianat. Di dalam benaknya Averyl akan membuat perhitungan dengan Eduard yang berani menghancurkan hidupnya.