Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Terbakar


__ADS_3

Sebuah mobil sport berhenti di pekarangan rumah Jordan. Seorang wanita turun dari mobil tersebut. Rambutnya menjuntai sebahu, gaun berwarna merah membentuk lekukan tubuhnya. Kaca mata hitam bertengger di hidungnya. Ia membuka kaca matanya, dan berjalan masuk ke kediaman Jordan.


“Mami, Papi,” sapa wanita tersebut dan memeluk Jordan dan Alana.


“Asyila kangen sama kalian.”


“Oh jadi sama gue enggak kangen?” ketus Arsya.


Asyila melepaskan pelukannya, ia menghampiri Arsya dan memeluknya. “Kangen dong, masa enggak,” jawab Asyila.


Asyila melepaskan pelukannya dari Arsya ia menatap kue ulang tahun untuk Eduard yang lilinnya sudah mati tapi kuenya masih utuh. “Ka Eduard ke mana?”


“Arsya jawab mana Ka Eduard?”


Arsya mencubit pipi Asyila. “Sama Eduard panggil Kaka, lah sama gue panggil nama. Gak sopan!”


Asyila menepis tangan Arsya. Pipinya sakit karena cubitan Arsya. Bibirnya mengerucut kesal. “Cepat Arsya kasih tahu di mana Ka Eduard?”


***


Eduard menatap Averyl dengan pandangan tidak percaya. Ia sudah memberikan semuanya yang Averyl mau, tapi masih saja ragu dan menolak perjanjian yang jelas-jelas akan sangat menguntungkan untuk Averyl.


Eduard cukup terkejut saat Asyila masuk. Ia juga terkejut saat mendapat kecupan dari Asyila.

__ADS_1


Asyila tidak memedulikan tampang terkejut Eduard. Karena biasanya Asyila akan mencium pipi Eduard, bukan bibirnya. “Honey kok ada di sini, tadi aku ke rumah Papi. Buat hadir di acara ulang tahun kamu, tapi kok kamu enggak ada?”


Tidak biasanya Asyila bersikap seperti ini, apalagi tidak sopan memanggil Eduard dengan sebutan ‘Honey’. Belum lagi tangan Asyila yang merangkul leher Eduard menambah risi dalam diri Eduard. “Aku ada urusan dengan Averyl,” jawab Eduard.


“Dia siapa?” tanya Asyila dengan nada ketus dan memperhatikan Averyl dengan pandangan tidak suka.


“Asyila kenalkan, ini Averyl istriku.”


“Enggak salah, cewek kayak dia?” Asyila memperhatikan penampilan dan wajah Averyl. “Cantik juga enggak, penampilannya juga ... Udik. Kamu bercanda kan sayang, masa mau sama cewek rendahan kayak dia.”


Averyl merasa ingin mencabik-cabik wajah perempuan yang keganjenan pada Eduard. Kalau tidak salah dengar ia mendengar Eduard memanggil perempuan tersebut dengan nama Asyila. Kalau tidak salah Asyila itu adik Arsya.


Namun selama ini Averyl tidak pernah sekalipun bertemu secara langsung. Jika memang betul itu adiknya Arsya, Averyl merasa wajah Asyila kini terlihat dewasa dan tampak serasi dengan Eduard.


Averyl tidak bisa menerima ini, ia mengambil bolpoin tadi dan menandatangani surat perjanjian tersebut. Lalu beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan keluar ruangan.


“Lebih bagus dia pergi, dia hanya mengganggu waktuku bersamamu honey,” teriak Asyila agar Averyl mendengarnya.


Averyl mendengar dengan jelas teriakan wanita itu, rasanya dia ingin menyeret wanita itu keluar agar tidak berdekatan dengan Eduard. Langkah Averyl yang cukup lebar membuatnya lebih cepat sampai di depan mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan hati yang dongkol.


Averyl tidak terbiasa beradu mulut dengan wanita. Apalagi Asyila adiknya Arsya, ia tidak mau berurusan dengan siapa pun hanya karena Eduard.


“Astaga!” teriak Averyl saat teringat ia menandatangani surat perjanjian tadi. Itu artinya Averyl menerima pernikahan ini, dan Averyl teringat pada poin penting isi surat perjanjian tersebut yang berisi bahwa Averyl setuju untuk tidur dalam satu tempat tidur dan tidak akan menolak jika Eduard meminta untuk di layani.

__ADS_1


Lampu jalanan berubah menjadi merah, Averyl menghentikan laju mobilnya. Tubuh lemasnya ia sandarkan pada pintu mobil. Ia menggigit jari telunjuknya sendiri. “Astaga kenapa aku ceroboh sekali, menandatangani perjanjian tersebut hanya karena tidak terima di hina Asyila,” gumam Averyl.


Averyl membenturkan kepalanya pada kaca mobil tempat ia bersandar. “Bodoh ... Bodoh ... Bodoh kau Averyl!”


Dering ponsel Averyl terdengar nyaring dengan nada panggilan khusus milik Arsya. Dengan sigap Averyl mengambil ponselnya dan menerima panggilan Arsya.


[Averyl]


“Ya Tuan.”


[Kembali ke rumah kami sekarang juga, Mami ingin berbicara. Eduard sudah menjelaskan semuanya.]


“Baik Tuan,” jawab Averyl. Ia memandangi layar ponselnya yang menghitam. Averyl membanting ponselnya ke kursi penumpang di sebelahnya.


“Bencana apalagi ini Tuhan?” lirih Averyl. Kalau bisa Averyl ingin menenggelamkan diri di sungai Amazon agar tubuhnya jadi santapan binatang ganas yang mematikan.



Semoga gak ada yang fobia sama ular ya 🙏


Hallo semuanya, apa kabar?


bagaimana ibadah puasa kalian, lancar? semoga pahalanya di lipat gandakan oleh yang maha kuasa 🙏

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya, love u 💕


__ADS_2