
Eduard baru bisa terlelap pukul tiga pagi, karena menahan hasratnya. Ia menyesal tidur satu kamar tanpa bisa menyentuh Averyl.
Kepalanya masih terasa pusing tapi suara Filio terus terdengar di samping telinganya.
“Kalau Ayah tidak bangun juga, Fio adukan pada Ibu.”
Saat membuka mata karena ancaman Filio hal pertama yang Eduard lihat adakah wajah kesal putranya. Kepalanya yang sedikit pusing membuatnya ingin kembali memejamkan mata.
“Ibuu,” teriak Filio sambil berlari dari kamar orang tuanya menuju dapur tempat Averyl yang sedang menyiapkan sarapan.
Eduard mengambil seribu langkah cepat menyusul Filio.
“Ayah tidak mau bangun, ibu saja yang-“ ucapan Filio terhenti karena suara Eduard.
“Ayah sudah bangun kok,” Eduard memberikan senyuman pada Averyl.
Averyl menatap Eduard lekat, memperhatikan bagian bawah mata Eduard yang menghitam. Bahkan semalam tidur Averyl terganggu karena Eduard banyak bergerak semalaman.
“Cepatlah bersiap hari ini kita mengantar anak-anak ke sekolah,” ucap Averyl. Perhatiannya kembali tertuju pada kotak bekal untuk anak-anak.
Dengan kecepatan super Eduard memecahkan rekor mandi tercepatnya dalam 5 menit mandi dan 5 menit memakai pakaian. Dengan segera ia kembali ke meja makan, di sana sudah ada Arsya yang tengah menikmati sarapannya.
Averyl memberikan satu piring sarapan untuk Eduard. Eduard memilik piring berisi sandwich miliknya dan membandingkannya dengan milik Arsya. “Kenapa telur milik Arsya tiga, sedangkan punyaku hanya satu?”
“Papa sedang mengikuti gym untuk membesarkan ototnya supaya lebih tampan. Jadi butuh protein lebih banyak.” Ucapan Fiona berhasil membuat rasa kagum Eduard, ternyata putrinya cukup pintar.
“Lihat otot papa sekarang besar kan,” ucap Arsya serasa memamerkan otot tangannya yang tercetak jelas di balik balutan kaus yang membungkus sebagai tangannya.
Filio bertepuk tangan dengan wajah gembiranya, “Aaaa Fiona senang sekali punya papa Arsya yang sangat tampan dan mempesona. Iya kan Bu?”
Eduard sedikit terkejut mendengar penuturan Fiona. Ia meneliti otot lengannya yang lebih kecil di bandingkan Arsya. Ia tidak boleh kalah saing, Eduard juga akan kembali Gym agar ketampanannya tidak terkalahkan oleh siapa pun.
Sementara Averyl tersenyum menjawab pertanyaan Fiona lalu menggelengkan kepala pelan, sepertinya racun Asyila mulai menyebar dalam tubuh Fiona.
“Fio kok tidak punya otot seperti Papa sih, nanti gak ada cewek yang mau berteman sama kamu loh.”
Filio melirik tajam ke arah Fiona yang berani mengusik ke tentangannya. “Bersik Fiona!”
__ADS_1
Ucapan dingin Filio berhasil membungkam Fiona seketika. Fiona tidak akan pernah berani mengusik jika Filio sedang dalam mode dingin, dia takut jika Filio mendiamkannya seharian penuh seperti yang sudah-sudah. “Baik raja es, Fiona akan mengunci mulut ini,” ucap Fiona sambil menggerakkan tangannya seperti ucapannya yang mengunci mulutnya.
Acara sarapan pagi ini berjalan dengan lancar Arsya berpamitan untuk pulang.
“Ayo kita berangkat, jangan sampai terlambat,” ajak Averyl pada anak-anaknya. Mereka masuk ke mobil yang di Kendarai Eduard, Averyl duduk di samping Eduard sementara anak-anak duduk di kursi belakang.
Selama di perjalanan Filio seperti biasanya fokus membaca buku. Sementara Fiona terlihat asyik dengan Ipad-nya. Tangannya terus menari-nari di atas layar iPad membuat coretan demi coretan yang menghasilkan sebuah gambar hewan buas pemilik hutan.
Dengan waktu tiga puluh menit mobil yang di Kendarai Eduard sampai di sekolah. Seperti biasa Averyl mengecup kening kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. “Yang serius ya belajarnya, jangan terlalu banyak bermain.”
“Iya Bu,” jawab Filio dan Fiona bersamaan.
Eduard hanya melambaikan tangan pada Filio dan Fiona sebagai salam perpisahan. “Sekarang kita mau ke mana?”
“Tidak tahu,” jawab Averyl singkat. Ia masuk kembali ke dalam mobil.
Eduard menyusul dan mulai melajukan mobilnya. “Kita nongkrong di cafe, sambil menikmati pagi.”
“Biasanya aku langsung pulang kerumah,” protes Averyl. Selama ini ia tidak senang berada di tengah keramaian. Ia lebih senang di rumah melakukan kegiatan yang ia suka.
“Karena sekarang ada aku, jadi hari ini tidak seperti biasanya.” Eduard tahu ia memaksa, tapi mereka harus berbicara dan meluangkan waktu lebih banyak agar bisa lebih dekat seperti sebelumnya.
Lantai dua yang cafe tersebut cukup sejuk, tanaman yang tertata rapi membuat orang yang melihat merasa seperti berada di taman. Konsep autdoor yang mereka gunakan membuat tempat Eduard dan Averyl duduk terkena sinar mentari pagi yang menghangatkan.
Kopi serta teh yang di pesan Eduard dan Averyl mengepulkan asap.
“Maaf, kemarin aku menakutimu,” Eduard membuka suara di tengah kebisuan.
Averyl meremas tangannya yang saling bertautan. “Aku baik-baik saja, hanya saja kemarin ucapanmu cukup mengejutkan buatku.”
“Mami memintaku untuk menceraikanmu.”
Averyl yang terkejut mendengar penuturan Eduard segera menyambar gelas teh miliknya dan meminumnya segera untuk melegalkan tenggorokannya yang terasa tercekat.
Averyl memikirkan kata-kata untuk menjawab ucapan Eduard. Ia tidak ingin itu terjadi, selama ini motivasinya sembuh dari trauma agar memiliki keluarga yang utuh untuk kebahagiaan anak-anaknya. Averyl tahu bagaimana perasaan ibu mertuanya hingga mengajukan permintaan itu, selama ini Alana pun ikut adil dalam proses penyembuhannya.
“Maafkan keegoisanku Averyl, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu.”
__ADS_1
“Sedikit pun tidak ada rasa keberatan bagiku atas keegoisanmu.”
Senyum tulus Averyl memberikan rasa lega pada Eduard, kini ia hanya perlu membujuk Alana agar semuanya berjalan dengan lancar.
***
Averyl melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya. “Kita harus menjemput Filio dan Fiona.”
Eduard meminta struk tagihannya. Ada rasa menggelitik dalam diri Eduard melihat tagihan makannya yang cukup banyak, satu gelas kopi dan teh tidak ternyata tidak cukup untuk menemani obrolan mereka. Hingga tidak sadar sudah menghabiskan waktu yang lama dan makanan yang cukup banyak.
Averyl bangkit dari duduknya hendak melangkah, namun tubuhnya menunjukkan reaksi terkejut saat Eduard menggenggam tangan Averyl.
“Ayo.” Averyl mengangguk dan berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan. Letupan dalam dada Averyl menimbulkan senyuman kecil dari bibi Averyl.
Averyl dan Eduard sudah sampai di sekolah, mereka menunggu di depan gerbang.
Deheman dari Averyl menimbulkan rasa khawatir Eduard. “Tenggorokanmu kenapa, sakit?”
“Sepertinya aku terlalu banyak mengonsumsi makanan manis, tenggorokanku sakit,” keluh Averyl.
“Aku ke depan sebentar untuk beli air minum, kamu tunggu di sini ya.”
Averyl mengangguk. Tidak lama setelah kepergian Eduard Filio dan Fiona berlari menghampiri Averyl, di ikuti Rangga di belakangnya.
“Ibuuu,” teriak Fiona sambil memeluk kaki Averyl. Averyl membelai lembut puncak kepala kedua anaknya.
“Mama terima kasih, Rangga suka bekalnya. Sandwich nya lezat sekali,” antusias Rangga. Averyl membelai lembut puncak kepala Rangga.
“Mama senang kalau kamu suka.” Averyl tulus menyayangi Rangga. Saat kecil Averyl tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Ia tidak ingin Rangga merasakannya juga.
“Bye Rangga princess Fiona pulang dulu ya,” ucap Fiona dengan nada genit khas anak kecil.
Filio sedikit risi dengan kelakuan adiknya, ia melambai pada Rangga sebelum masuk ke dalam mobil.
Aditama papanya Rangga keluar dari mobil menghampiri Averyl. “Rangga masuk ke mobil.”
Averyl hendak pergi namun tangannya di tahan oleh Aditama. “Lepaskan pak Adi!” nada suara Averyl tidak terdengar ramah.
__ADS_1
Aditama memang melepaskan tangganya tapi kini tangan Aditama dengan tidak sopannya merangkul bahu Averyl hingga rapat pada tubuh Aditama.
Dari kejauhan Eduard yang melihat aksi tidak senonoh tersebut berjalan dengan langkah lebar. Amarahnya tidak tertahankan, raut wajah risih dan ketakutan Averyl membuat Eduard ingin menghabisi pria tersebut dengan tangannya sendiri.