
Saat Alana terbangun hal yang pertama kali dia lihat adalah wajah Jordan yang masih tertidur, Alana bergerak pelan melepaskan pelukan Jordan.
Beruntung gerakannya tidak membangunkan Jordan, Alana masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum kembali pulang. Setelah mandi tubuh Alana seperti meriang, Alana memilih tidur kembali di samping Jordan.
Jordan bangun karena mendengar suara ketukan di pintu, dia melirik jam di dinding. Ternyata sudah pukul delapan, pasti Niko sudah menunggu. Jordan berjalan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu, ternyata seorang pelayan yang mengantarkan sarapan untuknya dan Alana.
Jordan memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah selesai mandi dan memakai baju. Jordan membangunkan Alana, wajah Alana terlihat lesu.
“Kau kenapa?”
Alana mengucek matanya, dia menggelengkan kepala, “Aku enggak papa,” jawab Alana.
Jordan memberikan satu sandwich pada Alana, “Sarapan dulu!”
Alana menganggukkan kepalanya, tubuhnya terasa lemas dia tidak ingin banyak berbicara. Dengan susah payah Alana menghabiskan sandwich miliknya, lalu minum satu gelas susu. Perutnya terasa tidak nyaman, tetapi Jordan sudah menarik tangannya untuk ikut keluar.
Selama di perjalanan Alana memilih istirahat di ruangan khusus, dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
Jordan yang melihat Alana berbeda dari biasanya hanya berpikir bahwa Alana mabuk lautan. Jordan menyelimuti tubuh Alana, lalu duduk di samping kepala Alana.
Jordan memainkan ponselnya ada pesan masuk dari Emily, tapi Jordan hiraukan. Dia tidak ingin berbicara dengan Emily.
***
Alana meringis di tengah tidurnya, Jordan yang tidak tega berusaha membangunkan Alana.
__ADS_1
“Kau kenapa?”
Wajah Alana seperti menahan rasa sakit, tapi wanita itu membuka matanya.
“Perutku sakit, sepertinya aku masuk angin. Apa di sini ada minyak angin?”
“Tunggu sebentar!” Jordan berjalan meninggalkan Alana sendirian untuk mengambil minyak angin.
Setelah mendapatkannya, Jordan kembali duduk di samping Alana.
Jordan membuka selimut yang menutupi tubuh Alana, lalu membuka baju Alana di bagian perutnya.
Jordan mengoleskan minyak angin di perut Alana dengan perlahan.
Lalu melirik Alana yang memejamkan matanya, Jordan terus mengusap perut Alana.
Setelah melihat keadaan Alana membaik. Jordan membenahi baju Alana dan menutupinya dengan selimut.
Jordan kembali mendengar Alana yang meringis, dengan lembut Jordan membelai pipi Alana.
“Sakit lagi?”
Wajah Alana tampak kesakitan, dia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Jordan kembali mengoleskan minyak angin di perut Alana, dan mengusapnya perlahan.
__ADS_1
Rasa kantuknya membuat Jordan kehilangan kesadaran, tangannya masih berada di perut Alana.
Alana terbangun, dia melihat Jordan yang tertidur di sampingnya dengan tangannya yang ada di atas perut Alana.
Alana tersenyum melihat perhatian yang Jordan berikan padanya. Perutnya sudah tidak terasa sakit, Alana bangkit dari tidurnya.
Dia hendak berjalan ke kamar mandi, namun suara Jordan menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana?"
Alana membalikkan tubuhnya, menghadap Jordan. “ Aku ingin ke kamar mandi.”
Lewat tatapannya Jordan memberikan ijin. Jordan memperhatikan Alana yang masuk ke pintu kamar mandi.
Tidak lama pintu itu terbuka kembali, Alana berjalan ke arah Jordan.
Alana menundukkan kepalanya, dia malu untuk mengatakannya.
“Ada apa?”
Pertanyaan Jordan berhasil membuat Alana menatap ke arah Jordan. Alana merebas ujung bajunya, dia malu mengatakannya.
“Perutku sakit kembali,” ucap Alana.
Jordan menuntun Alana untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan pelan Jordan kembali mengusap perut Alana, dengan perlahan.
__ADS_1
Alana mengigit bibir bawahnya, sebenarnya sakit di perutnya sudah hilang. Tapi Alana juga tidak tahu kenapa rasanya nyaman saat Jordan mengusap perutnya menggunakan minyak angin.
‘Sepertinya aku masuk angin’ pikir Alana.