
Perayaan memperingati hari pernikahan Eduard dan Averyl yang ke dua puluh enam tahun. Acara malam ini hanya makan malam sederhana. Di usianya yang sudah tidak muda lagi wajah Averyl tampak sepuluh tahun lebih muda dari usianya. Averyl mengenakan gaun sederhana, wajah tampan Eduard menguar kini Eduard tampak sangat berwibawa dan kebapakan.
Gadis muda dengan rambut sebahu tampak duduk tenang di meja makan sambil bermain ponsel.
“Kamu tidak ingin mandi, untuk membersihkan debu-debu jalanan yang menempel?” ucap Averyl.
“Nanti saja,” jawab Fiona tanpa melihat lawan bicaranya.
Averyl menggelengkan kepalanya, anak bungsunya itu tidak pernah memedulikan penampilan. Fiona bahkan tampak betah dengan kaus oblong yang di tutupi jaket oversize dan memakai celana jeans yang di pakainya pagi tadi saat pergi ke kampus.
“Filio mana sih lama, aku makan dulu ya Bu,” mohon Fiona. Bahkan belum mendapat persetujuan dari sang ibu pun, tanpa ragu Fiona membalikkan piring dan mengisinya dengan berbagai macam makanan.
Eduard yang duduk di antara istri dan anaknya hanya diam memperhatikan interaksi mereka.
Eduard memperhatikan anaknya yang kini tumbuh menjadi wanita yang lain dari wanita biasanya. Cara makannya saja seperti orang kelaparan yang berhari-hari tidak makan. Dalam sekejap piring yang terisi penuh kini menyisakan sendok yang terbalik.
Kedatangan Filio di sambut baik dengan sindiran Fiona. “ Telat tiga puluh menit dua detik, lama kayak siput.”
Filio menggandeng tangan Razita istrinya yang tengah hamil beras. “Kapan wisuda?”
Diam seribu bahasa, Fiona seakan di tampar benda tak kasat mata yang amat menyakitkan hatinya. “Gue gak akan wisuda, mau nikah aja,” ketus Fiona. Ia menyuapkan buah ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan sangat brutal seakan-akan yang ada di dalam mulutnya tubuh Filio.
Ucapan tak senonoh Fiona menjadi pusat perhatian Averyl dan Eduard.
“Gue tunggu undangannya, tapi kayaknya gak ada tuh yang mau nikah sama cewek petakilan kayak lo.” Filio menarik kursi untuk Razita duduk. Razita sudah tidak heran mendengar keributan Filio dan kembarannya.
“Gue sumpahin ya anak lu kayak gue,” cecar Alishia dengan wajah yang menahan amarah.
“Fiona, Filio sudah,” Averyl lebih memilih menengahi.
Fiona hendak beranjak, ia muak duduk berhadapan dengan kembarannya. Selalu saja kalah. Namun tatapan tajam Eduard menghentikan aksinya. Fiona kembali duduk, mencabik-cabik buah-buahan yang ada di piringnya.
Makan malam berjalan dengan khidmat. Mereka memilih duduk di taman belakang kecuali Fiona yang memilih ke kamar dengan alasan ingin membersihkan tubuh.
Eduard menatap putra dan menantunya. Suatu kebahagiaan bagi Eduard melihat Filio jatuh cinta dan menikah. Bahkan kini Eduard akan menjadi kakek.
Averyl duduk di samping Razita, mengelus perut menantunya yang menonjol. “HPLL nya kapan Razita?”
“31 Desember Bu.”
Wajah Razita tampak tidak sabar menunggu kelahiran bayi yang sedang di kandungannya.
Averyl terkejut saat merasakan sebuah tendangan pada tangannya yang berada di atas perut besar Razita. “Aktif sekali kamu Nak, sebentar lagi kita bertemu ya.”
“Iya Oma,” timpal Filio dengan nada yang di buat seperti anak kecil.
“Jaga istri kamu baik-baik ya Fio. Tubuhnya sekarang mudah sekali lelah, apalagi kalian harus persiapan untuk melahirkan.”
Tangan Filio menambah kekuatan genggamannya pada tangan Razita. “Iya Bu.”
__ADS_1
Rasanya hari Averyl tenang melihat sikap Filio yang perhatian dan penyayang. Ia bersyukur tidak ada drama dalam pernikahan Filio seperti pernikahannya dengan Eduard dulu. Yang Averyl khawatirkan sikap kasar Eduard dulu jatuh di tangan Filio. Namun melihat mereka baik-baik saja Averyl cukup tenang, ia hanya perlu berdoa kepada Tuhan untuk pernikahan anaknya.
Sesuai janjinya Fiona kembali bergabung. Gaya pakaiannya terlihat masih sama seperti tadi, tidak terlihat seperti wanita pada umunya. Kaus oversize dengan celana di atas lutut.
Tangan kiri Fiona sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia duduk di samping Eduard dan bersandar di bahu Ayahnya yang ternyaman.
Razita tidak terlalu dekat dengan Fiona, tapi setelah satu tahun menikah dengan Filio adik suaminya itu memang tidak banyak bicara dengan orang baru. Tapi tidak pernah ragu menjadi dirinya sendiri di hadapan Razita. Mereka memang jarang sekali bertemu, Razita yang sibuk dengan urusan rumah tangganya dan Fiona sibuk dengan kuliahnya.
“Fiona,” panggil Eduard.
Fiona yang di panggil Ayahnya hanya menjawab dengan deheman, tangannya masih saja sibuk menggosok rambutnya.
“Kamu bilang tadi ingin menikah, Ayah tidak pernah melihatmu berpacaran.”
Pernyataan Eduard berhasil menghentikan aktivitas Fiona. Wanita itu bahkan duduk tegak lalu matanya menatap Eduard dengan pandangan bingung. Selama ini Ayahnya tidak pernah sekalipun mengurusi urusan percintaan Fiona.
“Ayaaah,” rengek Fiona memanggil Eduard.
“Ayah lupa bilang padamu, Minggu lalu Ignazio Demetrios datang menemui Ayah. Zio ingin menikahimu.”
Manik Fiona membelalak, “Om Zio temannya paman Arsya?”
Eduard mengangguk. “Bulan depan ia ingin pernikahannya di selenggarakan.”
Fiona berdiri, kedua tangannya bertumpu pada kedua pinggangnya. “Enggak Ayah, Fiona gak mau.”
“Tadi kamu bilang ingin menikah saja, jadi barusan Ayah menelepon Zio saja bahwa kamu setuju.”
“Zio baik, dan Ayah rasa umur bukan masalah.”
Ucapan Eduard yang terdengar enteng nyatanya sangat berat bagi Fiona. Ia menghampiri Averyl dan memeluk kedua kaki ibunya. “Ibu tolong Fiona, Fiona enggak mau menikah. Apalagi sama Om Zio,” rengek Fiona dengan nada yang di buat sedih.
Dua orang pria berjalan menuju halaman belakang. Penampilan Arsya tampak sedikit berantakan, jas yang di tenteng, kerah yang tidak terkancing menunjukkan dada bidangnya, bagian lengan kemejanya di gulung sesiku dengan wajah yang terlihat lelah.
Arsya terpaksa mengantar Zio untuk menemui Eduard, padahal tubuhnya sudah ingin istirahat.
Pandangan semua orang tertuju pada kedatangan Arsya dan Zio. Wajah Fiona bukan hanya terkejut, ada rasa malu yang menyelimuti saat bertatapan dengan Zio dalam posisi memohon di kaki Averyl.
Seribu satu langkah di jalankan Fiona untuk kabur, namun sebuah tangan menarik kausnya dari belakang. “Fio lepaskan,” ucap Fiona sambil menarik bajunya yang di pegang Filio.
“Mau ke mana? Katanya mau menikah, itu calon suamimu sudah datang.”
Eduard menahan senyumnya saat melihat ekspresi putri kecilnya. Namun di depan calon menantunya ia harus menjaga wibawa.
“Fiona duduk, kamu sudah bukan anak kecil lagi,” perintah Eduard.
Averyl merasa kasihan melihat putrinya, “Biarkan saja sayang, Fiona ingin berganti baju.”
Eduard mengalah dan memberi izin dengan syarat Averyl harus ikut.
__ADS_1
Averyl mengantar Fiona ke kamar. Meskipun penampilan Fiona urakan, tetapi Kamar Fiona tampak sangat tapi dan bersih. Averyl memilih duduk di sofa untuk menunggu.
Bukannya ganti baju Fiona kembali beringsut di kaki Averyl. “Ibu tolong batalkan pernikahannya, Fiona tidak mau menikah.”
“Fiona Ayah tidak suka menunggu lama.”
Ucapan Averyl mengingatkan Fiona tentang sifat ayahnya. Dengan sangat terpaksa ia masuk ke dalam walk in closet dan mengganti pakaian dengan gaun pendek. Menurut Fiona malam ini adalah malam terburuk dalam sejarah hidupnya.
***
Kediaman Eduard Havelaar kembali hening setelah semuanya pergi. Eduard dan Averyl kembali ke kamar.
Eduard memilih duduk dengan bersandar di sofa. Averyl ikut duduk di samping suaminya. “Apa kita tidak keterlaluan sayang?”
Eduard mengubah posisinya merebahkan tubuhnya, dan menjadikan paha Averyl sebagai bantalan. “Kita terlalu memanjakan Fiona, di umurnya yang ke dua puluh lima tahun dia masih belum lulus S1.”
“Tapi ... apa harus menikah dengan Zio?”
Rasa resah yang muncul di benak Averyl terlihat sangat jelas. Eduard menarik tangan Averyl dan mengecupnya. “Zio pria baik, dia sangat dewasa. Zio dan Fiona akan menjadi kesatuan yang saling mengisi.”
Averyl terdiam memikirkan nasib putri kecilnya.
Eduard yang melihat perubahan pada istrinya mencoba mencari cara untuk mengalihkan pikiran Averyl. “Sayang kita coba gaya baru.”
Tangan Eduard menunjukkan layar ponselnya pada Averyl dengan senyuman khas gairah Eduard Havelaar.
Averyl mencubit pinggang Eduard cukup kencang hingga suaminya mengaduh kesakitan. “Kita sudah tua, aku tidak mau tulan-tulangku remuk karena gaya aneh itu.”
Eduard bangkit, menghadap Averyl dengan posisi tangan memohon. “Satu kali saja ya,” bujuk Eduard.
Averyl memilih beranjak meninggalkan Eduard. Namun Eduard tidak kehilangan semangatnya ia terus memohon dan berjalan mengikuti Averyl ke mana pun istrinya pergi.
Merasa risi di ikuti Eduard terus menerus akhirnya Averyl mengalah. “Baiklah satu kali saja.” Raut wajah Averyl tampak sangat terpaksa, berbanding terbalik dengan raut wajah Eduard yang antusias.
Eduard mengangkat tubuh Averyl, dan merebahkannya di atas tempat tidur. Manik Averyl memandang Eduard. Meskipun permintaan Eduard sering kali merepotkan namun Averyl tidak pernah bisa menolak. Ia sangat mencintai Eduard, sebagaimana Eduard mencintai Averyl. Bahkan badai terberat dalam hidup Averyl bisa menjadi ringan saat bersama Eduard.
***
Akhirnya sampai di penghujung cerita Eduard dan Averyl. Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua yang sudah dukung aku, memberikan kritik dan sarannya pada karyaku.
Aku akan berusaha memperbaiki karyaku. Semoga kalian tidak kapok membaca karya-karyaku.
Buat kalian yang penasaran akan nasib Aditama dan Rangga ikuti karya terbaruku ya.
Kita akhiri perjumpaan ini, sampai jumpa di karya terbaruku "The Ruler's Widower"
Bye, love u 💕💕
__ADS_1
Filio Havelaar pria yang terkenal hangat dan sangat menghormati wanita. Banyak wanita yang iri terhadap istrinya Razeta. Namun semuanya berubah saat Filio menemukan Razeta selingkuh. Filio menghabisi Razeta dengan tangannya sendiri.
Kehidupan Sahira Aolani tampak sempurna. Memiliki suami setia yang sangat perhatian. Dalam hitungan detik kehidupan Sahira berubah di tangan Filio.