
Alana menghentikan tangisnya, dia menghapus jejak air matanya.
Niko masih setia di samping Alana, hanya untuk jaga-jaga jika nona muda melakukan hal gila seperti dahulu.
“Nik, aku ada tukang pijat di sini?”
Niko mengernyit, “Untuk apa nona?”
“Tubuhku pegal semua, aku tidak bisa bersepeda.”
“Baik nona, nona tunggu saja di kamar. Sebentar lagi saya siapkan.”
Alana berjalan meninggalkan Niko, dia berjalan ke lantai satu dan masuk ke kamarnya.
Sementara Niko mengikuti dari belakang, setelah memastikan nona Alana masuk. Niko berjalan ke ruang perpustakaan.
Tanpa perlu mengetuk Niko masuk ke ruang perpustakaan, di sana Jordan sedang berdiri di rak buku.
Jordan terkejut melihat Niko yang menghampirinya, dia menyimpan buku yang di peganya dengan asa ke rak.
“Tuan, nona ingin di pijat.”
Nik memperhatikan raut wajah Jordan, terlihat tenang.
Nik tersenyum tipis melihat tuan muda yang berjalan keluar, dia mengintip buku yang tadi di baca tuan muda.
‘Meluluhkan hati wanita, aku yakin nona tidak akan pernah pergi. Karena tuan mencintai anda’ gumam Nik.
__ADS_1
Nik berjalan mengikuti tuan muda, ternyata tuan muda baru saja masuk.
Tidak ada suara perdebatan di dalam, Nik yakin semuanya akan aman.
“Pelayanan,” panggil Nik.
“Iya tuan.” Pelayan tersebut menundukkan kepalanya.
“Berdiri di sini, jika ada keributan dari dalam segera panggil saya.”
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya, “Baik tuan.”
Setelah memastikan semuanya aman terkendali, Nik masuk ke salah satu kamar yang tersedia di sana.
Nik meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Rasa lelah mengayut di tubuhnya, Nik merasa harus istirahat.
***
Alana terkejut melihat Jordan masuk ke kamarnya. ‘Nik, aku meminta tukang pijat. Bukan tukang pukul’ gumam Alana.
Alana menelan, Jordan membuka bajunya. Lihat otot lengang jelas terlihat karena Jordan setengah telanjang.
Teringat kejadian semalam, Alana lebih memilih menundukkan kepalanya.
Setelah membuka bajunya, Jordan duduk di ujung kaki Alana. Dia menarik kaki Alana dan memijatnya perlahan.
Alana terkejut bukan main, melihat Jordan memijat kakinya. Alana menarik kakinya, dia memang pegal tapi tidak Jordan juga yang memijatnya.
__ADS_1
Jordan menahan kaki Alana, dia menatap bola coklat gadisnya. Setelah memastikan Alana tidak berontak, Jordan kembali memijat kaki Alana.
“Tu-tuan tidak usah,” ucap Alana gugup. Meskipun hatinya masih sakit tapi otaknya tetap waras. Dia bukan majikan yang harus di pijit oleh Jordan.
Alana sadar diri dia bukan siapa-siapa bagi Jordan.
Jordan menyudahi acara memijatnya, dia duduk di samping Alana.
“Kau sedang berbohong?”
Alana mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti ucapan Jordan.
“Seorang wanita harus memakai pembalut jika sedang datang bulan.”
Tubuh Alana diam membisu, ucapan Jordan membuat Alana ketakutan. Dia memang berbohong mengenai datang bulannya.
“Harusnya kau memberiku anaka Alana bukan menolak tubuhku, dengan cara bodohmu!”
Alana meneteskan air matanya, hatinya sakit mendengar Jordan membentaknya.
Jordan menarik dagu Alana agar menatapnya.
Alana diam, dia tidak berani menatap bola hitam pekat milik Jordan.
“Kau merendahkan diriku hanya karena aku mengataimu jal*ng. Bukankah kau memang hanya penghangat ranjangku. Harusnya kau tau diri Alana!”
Alana melepaskan tangan Jordan dari dagunya. “Aku memang wanita penghangat ranjangmu Jordan. Tapi aku manusia biasa, aku juga punya hati!” Alana kini membentak Jordan. Hatinya benar-benar sakit, Alana sudah tidak bisa membendung air matanya.
__ADS_1