
Averyl sudah rapi degan gaun sederhana yang ia pakai. Tidak lupa riasan serta tatanan rambutnya menambah kesan lebih cantik dari biasanya.
“Kamu cantik.”
Averyl terkejut mendengar suara Eduard yang tiba-tiba ada di sampingnya. “Ini hari spesial, satu bulan pernikahan kita.”
“Kita batalkan saja ya,” bujuk Eduard.
“Kenapa?” tanya Averyl serius. Ada rasa tidak terima jika semuanya batal begitu saja.
“Aku tidak ingin orang lain melihat kecantikanmu. Cukup aku saja yang melihatnya.” Eduard merapatkan tubuhnya dan menghirup aroma parfum pada bagian leher Averyl.
Tubuh Averyl merinding seketika, ia mundur satu langkah. “Jangan berlebihan Ed, kita bisa melakukannya nanti setelah makan malam.”
Eduard tampak berpikir. “Baiklah tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Jangan menyuruh aku berhenti sebelum puas.”
Wajah Averyl muram seketika. “Ed,” rengek Averyl.
Eduard memberi mengelus puncak kepala Averyl. “Yasudah kalau begitu kau di atas.”
Dengan cepat Eduard menyela sebelum Averyl Angkat bicara. “Tidak ada penolakan. Ayo cepat sebelum terlambat.”
Averyl masih terdiam di tempatnya. Pemintaan Eduard terlalu berlebihan, Averyl tidak pernah berhubungan dalam posisi itu.
Eduard membalikkan tubuhnya saat ia tidak menyadari Averyl tidak di sampingnya. “Ayo sayang, sebelum aku berubah pikiran dan mengurungmu hingga pagi menjelang.”
Averyl tersenyum mendengar Eduard memanggil dirinya dengan sebutan sayang untuk pertama kalinya. Hatinya sudah tidak terlalu risau dengan keinginan Eduard nanti malam, itu bisa di pikirkan nanti. Yang terpenting ia bisa menikmati dinner romantis bersama Eduard malam ini.
Averyl berjalan menghampiri Eduard. “Aku mencintaimu Ed,” jujur Averyl. Ia Mengec*up bibir Eduard.
“I love you more baby.”
Eduard dan Averyl meni*kmati ciu*man singkat mereka sebelum Simon hadir dan mematung tanpa bersuara. Beruntung aku sudah memiliki istri.
“Mari Tuan mobilnya sudah siap.”
Averyl menarik tangan Eduard. “Simon ikut?”
“Aku sedang tidak ingin menyetir.”
Averyl memperlihatkan wajah cemberutnya. “Aku ingin menghabiskan malam ini berdua saja.”
__ADS_1
“Simon hanya mengantar saja, sayang.”
“Aku mau kamu yang menyetir,” rengek Averyl.
“Baiklah.”
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di tempat yang sudah Eduard pesan untuk satu malam.
Averyl menengok ke arah Eduard. “Terima kasih,” senyum Averyl terbit begitu indah.
“Sesuai keinginanmu sayang.”
Eduard menuntun Averyl berjalan menuju meja mereka yang berada di paling ujung. Lampu-lampu yang bergelantungan seakan menyambut kedatangan Averyl dan Eduard.
Senyum Averyl tidak memudar dari pertama masuk. Maniknya menatap sekeliling rimbunnya pepohonan tampak cantik karena sinar mentari senja. Hamparan laut di depannya terlihat begitu sempurna dari tebing tempatnya berdiri. Wajahnya menengadah ke langit yang mulai menggelap di hiasi bintang kecil.
“Kau suka?” Tanya Eduard berbasa-basi, padahal dari raut wajah Averyl ia sudah tahu bahwa istrinya menyukai tempatnya.
“Aku sangat menyukainya.”
Mereka makan dalam diam. Sesekali pandangan mereka bertemu dan Averyl melemparkan senyumnya.
Menurut Averyl malam ini adalah malam yang indah. Dan malam ini ia ingin memberikan kebahagiaannya pada Eduard.
Setelah selesai makan Averyl membuka Sling bag yang ia bawa. Tapi kotak yang sudah ia siapkan tidak ada di sana. Dahi Averyl mengerut, seingatnya ia sudah memasukkannya. Tapi kotak berisi tes kehamilannya tidak ada.
Averyl mengeluarkan ponselnya. Dan menunjukkan pada Eduard. “Barusan ponselku tidak ada, ternyata terselip. Kita foto.”
Averyl membuka aplikasi kamera, lalu tersenyum ke arah kamera ponselnya. Namun saat melihat ke layar ponsel Eduard tampak tidak tersenyum.
Averyl menengok ke arah Eduard. “Senyum Ed.”
Setelah memastikan Eduard tersenyum Averyl mengambil gambar mereka. Ia terkejut saat pipinya di cium oleh Eduard tepat saat kamera mengambil foto mereka.
“Sekali lagi, tapi jangan menciu*mku,” pinta Averyl.
Averyl memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Saat menengok ke arah Eduard ia terkejut melihat kotak beludru berwarna rose gold.
“Hadiah untukku?”
“Iya spesial untukmu sayang.”
Averyl tersipu malu, ia mengambil kotak tersebut dan membukanya. Senyum di bibirnya mengembang. “Bagaimana kau tahu aku menginginkan kalung ini? Padahal aku tidak bilang pada siapa pun.”
“Rahasia. Mau aku bantu pakaikan?”
__ADS_1
Kalungnya sudah terpasang di leher Averyl. Ia menunduk dan tersenyum melihat kalung yang sangat ia impikan kini melekat di lehernya. Averyl tidak membeli kalung itu karena harganya yang cukup fantastis menurut Averyl.
Malam itu menjadi saksi betapa bahagianya Averyl Samantha memiliki Eduard. Perlakuan lembut Eduard berhasil meluluhkan amarah Averyl yang selama satu bulan ini di acuhkan Eduard. Bahkan Averyl berjanji pada Tuhan tidak akan pernah pergi dari Eduard dan tidak akan membiarkan Eduard pergi dari kehidupannya, meskipun dalam keadaan sulit ia akan tetap bersama Eduard.
***
Averyl terbangun dari tidurnya, ia menengok ke segala arah tapi tidak menemukan Eduard.
Averyl merapatkan selimutnya, tubuhnya sedikit ngilu. Eduard meminta jatahnya sesuai keinginannya, yang mengakibatkan Averyl baru tidur pukul lima pagi.
Ia menggapai tasnya yang ada di nakas, lalu mengambil ponselnya untuk melihat jam. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga belas. “Lama sekali aku tertidur.”
Averyl membersihkan tubuhnya dengan cepat. Hari ini ia seharusnya pergi bekerja, dan ia belum mengabari Arsya.
Kepala Averyl sedikit pusing, apalagi ia tidak menemukan keberadaan Eduard. Averyl mencoba menghubungi Eduard karena pakaiannya sedikit koyak. Namun panggilannya tidak kunjung di terima.
Averyl berpikir positif jika Eduard ada pekerjaan yang sangat penting hingga meninggalkannya sendirian.
Averyl memutuskan untuk pulang. Gaunnya yang sedikit koyak ia tutupi dengan blazer milik Eduard yang tertinggal. Sesampainya di kediaman Eduard Averyl berpapasan dengan Eduard dan Simon.
Averyl tersenyum. “Ed,” sapa Averyl. Namun sapaan Averyl tidak di jawan oleh Eduard, bahkan Eduard hanya melirik tampak acuh dan melanjutkan langkahnya.
Averyl membalikkan badannya, ia menatap punggung Eduard yang menjauh. Ia berlari mengejar Eduard dan berdiri di hadapan Eduard.
“Ada apa Ed, kenapa kau mengacungkan aku?”
“Minggir!” Eduard mendorong tubuh Averyl ke samping hingga terjatuh.
Bruk!
Averyl meringis saat melihat lututnya yang berdarah. Pandangan Averyl menatap punggung Eduard.
Simon mengulurkan tangannya. “Masuklah dan obati luka Nona.”
Averyl menerima uluran tangan Simon untuk berdiri. “Simon apa yang terjadi?”
“Cepat Simon!” Teriak Eduard dari dalam mobil.
***
Note : aku kasih bintang di beberapa kalimat, karena tidak kunjung lolos saat proses riview.
Tarik nafas, keluarkan 😊
Gak diet lagi nih jumlah katanya, jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya. Terima kasih 💕
__ADS_1
sampai jumpa esok sayangnya aku 😘