
Alana hanya diam mencerna kalimat yang di ucapkan Arvan.
“Pantang bagi seorang pria menangis, dan aku melihat Jordan menangis saat aku memintanya pergi karena kamu tidak ingin bertemu dengannya.”
Alana merasa udara di sekitarnya hilang begitu saja, dadanya terasa sesak dia mendengar fakta yang baru di ke tahui. Nik dan Arvan pernah melihat Jordan menangis, “Sebesar apa cintamu sebenarnya?” batin Alana.
“Terima kasih,” ucap Alana mengakhiri pembicaraannya.
Dia berlari melewati orang-orang yang ada di ruang pendaftaran. Perasaannya tidak karuan, semua fakta ini sangat mengejutkan baginya. Rasanya Alana ingin menangis dan marah secara bersamaan.
Sampai di depan ruang Arsya, Alana membuka pintu dengan perlahan. Dia melihat Jordan yang sedang membelai lembut kepala Arsya menghentikan aktivitasnya dan menatap dirinya.
Alana berlari mendekat ke arah Jordan dan memeluknya, seketika air matanya turun begitu saja dengan deras. Aroma tubuh yang Alana rindukan bisa ia cium kembali, dada bidang yang selalu membuatnya nyaman sekarang bisa dia rasakan kembali.
Bersamaan dengan derasnya buliran air yang keluar dari kelopak matanya, Alana memukul dada Jordan dengan pelan, “Kau jahat! Aku benar-benar membencimu,” pekik Alana di sela isak tangisnya
__ADS_1
Jordan membalas pelukan Alana, dia membelai lembut kepala Alana dengan pelan. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya mendapati Alana yang tiba-tiba memeluknya.
Bahkan selama ini Alana sangat enggan untuk Jordan, dia selalu bersikap cuek dan tidak memedulikan kehadirannya. Tapi saat ini Jordan merasa beruntung karena bisa memeluk tubuh yang di rindukannya, tubuh gadis kecilnya.
Alana menumpahkan semua rasa sakit yang ia rasakan selama empat tahun ini. Alana tahu dirinya tidak bisa melupakan Jordan begitu saja, tetapi dia tidak ingin menjadi wanita lemah. Dia lelah harus di sakiti terus-menerus oleh Jordan.
Itu menjadi alasan utama, kenapa dia selalu berusaha tidak berkontak pisik dengan Jordan. Dia takut akan luluh dengan mudah pada pria egois yang sedang di peluknya.
“Jangan menangis aku tidak suka melihatmu menangis,” ucap Jordan dengan lembut di telinga Alana.
Merasakan kecupan di keningnya, Alana mendorong tubuh Jordan agar menjauh darinya, setelah pelukan itu terlepas Alana memberikan tatapan tajam pada Jordan.
Melihat Jordan yang tersenyum membuat rasa malu Alana timbul begitu saja. Bahkan sekarang pipinya terasa panas, mungkin pipinya bersemu merah.
“Kau lemah sekali Alana, bodoh … bodoh!” umpat Alana di dalam hatinya.
__ADS_1
Jordan mengernyitkan keningnya melihat Alana yang tiba-tiba menjauh darinya. Dia mengikuti Alana yang berjalan ke arah sofa, namun langkahnya terhenti saat mendengar kalimat perintah dari Alana.
“Berhenti di situ, jangan mendekat!”
Alana membalikkan tubuhnya agar membelakangi Jordan. Dia belum siap berbicara dengan Jordan, hatinya masih terasa sakit.
Ada harga diri yang di pertaruhkan jika dia kembali dengan Jordan.
Jordan memilih kembali duduk di kursi dekat Arsya, dari tempatnya Jordan bisa melihat Alana yang terlihat lelah.
Bahkan wanita itu kini merebahkan tubuhnya di sofa, menutupi wajahnya, menggunakan blazer yang di pakainya.
Hati Jordan penuh dengan tanda tanya, kejadian barusan berlalu begitu cepat. Namun mampu mengembangkan senyum di wajahnya, “Aku tahu, kau masih mencintaiku, sayang.”
***
__ADS_1
Maaf ya agak terlambat update nya, semoga kalian suka ❤️