
Alana duduk menatap makanan yang dia pesan namun perutnya terasa mual. Dengan cepat Alana meminum air putih untuk menetralkan tenggorokan.
Alana mendorong jauh makannya, dia sudah tidak berselera. Padahal baru saja perutnya berbunyi meminta jatah makan siangnya.
Alana mengeluarkan ponsel pemberian Arvan. Dia mencoba mulai menata menu sesuai keinginannya.
Alana benar-benar kagum dengan ponsel pintar pemberian Arvan yang berbeda dari ponsel biasanya.
Sekarang dia lebih tahu cara menggunakannya karena Alana sendiri yang memilih tempat aplikasi yang penting menurutnya.
Setelah sibuk dengan ponselnya Alana terkejut saat mendengar suara Nik yang berbicara di sampingnya.
“Nona.”
Alana menengok ke arah Nik, “Ada apa?” tanya Alana.
“Tuan sudah bangun.”
“Baiklah, tunggu sebentar aku membayar makananku dulu.” Alana beranjak dari tempat duduknya.
“Nona temui tuan saja, biar saya yang bayar,” ucap Nik menginterupsi.
Alana menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Nik.
Di tempatnya berdiri Nik memperhatikan makanan yang di pesan Alana tidak di sentuh sedikit pun.
Nik merasa ada yang aneh pada diri Alana, padahal nona mudanya sudah pergi satu jam yang lalu seharusnya Alana sudah memakannya.
__ADS_1
Tapi di piring itu makanannya masih utuh dan terlihat sudah dingin.
Nik mencoba menghiraukan keanehan itu, dia berjalan menuju kasir dan membayar makanan Alana.
***
Alana berdiri di ambang pintu, dia ragu untuk masuk ke ruangan Jordan.
Alana menghela nafasnya, tangannya sudah memegang hendel pintu namun dengan cepat Alana menarik tangannya kembali.
Jantungnya berdetak kencang, membuat sekujur tubuhnya terasa panas.
Alana menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Sudah merasa tenang Alana membuka pintu ruangan Jordan.
Alana melihat senyum tipis milik Jordan untuk pertama kalinya.
Jordan bahagia melihat kehadiran Alana di ruangannya. Selandainya dia dalam keadaan baik-baik saja mungkin Jordan akan menarik Alana ke dalam dekapannya. Melepaskan rasa rindu yang memenuhi hati dan pikirannya.
“Terima kasih sudah mau menjengukku,” Jordan mengeluarkan suara untuk pertama kalinya.
Alana mengangkat kepalanya melihat wajah Jordan yang tampak berbeda dari biasanya.
Sorot mata tajam itu hilang, kini mata Jordan terlihat teduh. Alana tidak ingin ambil pusing dengan perubahan Jordan. Mungkin Jordan seperti ini karena keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
“Sama-sama,” jawab Alana. Dia tidak berani mendekat, bersama dalam satu ruangan dengan Jordan sudah membuatnya kesulitan bernafas.
Beruntung Nik datang menyelamatkan rasa canggung itu.
__ADS_1
Dengan santainya Nik mendekat ke arah Alana, dengan posisi memunggungi Jordan.
“Nona tuan belum makan siang,” ucap Nik sambil menyerahkan nampan yang di tangannya kepada Alana.
Alana menatap tajam Nik, dia merasa Nik memaksanya untuk menyuapi Jordan.
Dengan cepat Alana menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menyuapi Jordan.
“Saya mohon,” ucap Nik tanpa mengeluarkan suara, hanya bibirnya saja yang mengisyaratkan ucapan.
Alana berdecap pelan sekali, dia menerima nampan dari Nik dengan sangat terpaksa.
Saat melihat Alana yang berjalan mendekat ke arahnya, Jordan tahu istrinya itu terpaksa menerima permintaan Niko.
Alana duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur Jordan. Dia menyimpan nampannya di nakas, lalu mengambil mangkuk bubur yang tersedia di atas nampan.
Alana menundukkan kepalanya, dia berusaha menenangkan hatinya. Agar wajahnya tetap datar saat bertatapan dengan Jordan.
Dengan ragu Alana menyendok bubur di mangkuk dan mendekatkan sendoonya pada mulut Jordan.
Jordan menerima suap pertama dari istrinya, meskipun Alana menampilkan wajah datarnya Jordan tahu wanita itu sedang menahan debaran di jantungnya.
Saat di suapan ke tiga, Jordan menolaknya. Perutnya terasa mual, dia menutup mulutnya.
Alana melihat Jordan yang seperti ingin muntah dengan sigap mengambil air putih dan membantu Jordan untuk meminumnya.
Cukup lama mereka terdiam hingga akhirnya Jordan angkat bicara.
__ADS_1
“Aku ingin menjelaskan masalah kecelakaan itu, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak bermaksud merenggut nyawa kedua orang tuamu, aku punya alasan kenapa aku tidak mendekap di penjara saat itu.” Jordan mulai mengeluarkan suaranya, dia harus menjelaskan hal penting ini pada Alana. Agar istrinya itu tidak salah faham.