Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Kehancuran


__ADS_3

“Semuanya sudah terjadi, dan orang tuaku tidak akan pernah bisa kembali,” tegas Alana.


Dia bangkit dari duduknya, lalu menatap mata Nik.


“Mana surat cerai yang kau janjikan?”


Ucapan Alana benar-benar menusuk hatinya, Jordan hanya bisa menghela nafasnya.


Dia memejamkan matanya, berusaha menekan emosi yang ingin keluar dari dalam dirinya.


“Nona tenang dulu, tuan belum menjelaskan alasan dia tidak di penjara.”


Alana mengepalkan tangannya, ternyata dua pria di ruangan ini memang senang ingkar janji.


Nik melanjutkan ucapannya, “Tuan mengalami dep-,”


Dengan cepat Jordan memotong ucapan Nik, “Berhenti Nik,” perintah Jordan dengan tegas.


“Urus surat perceraian itu, sekarang juga!” Jordan memalingkan wajahnya yang merah menahan amarah dan sakit di hatinya.


“Tapi tuan,” Nik tahu bagaimana perasaan Jordan saat ini. Dia tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan yang akan menyakiti tuan mudanya.


“Kau tidak dengar Nik apa yang di katakan tuanmu,” ucap Alana. Dia sudah muak dengan sandiwara ini, jika Jordan melepaskannya gerbang kebebasan ada di depan matanya.


Nik mengambil tas berisi map yang sudah dia siapkan, mengeluarkannya dan membanting map itu di meja.


Alana berjalan mendekati Nik, menandatangani surat gugatan cerai.

__ADS_1


Setelah memastikan semuanya dia tandatangan, Alana menatap Nik. “Semua identitasku kembalikan!”


Nik berdecap, di keluarkannya semua identitas Alana miliki yang selama ini dia simpan.


Setelah memastikan semuanya identitasnya Alana berjalan mendekati pintu membukanya dan berjalan keluar dengan langkah tergesa.


Nik melihat bagaimana tuannya meneteskan air mata untuk pertama kalinya.


Nik harus mengejar Alana, dia tidak bisa membiarkan Alana pergi begitu saja.


Tangan Nik baru menyentuh pintu namun suara tegas tuannya terdengar jelas di telinganya.


“Jangan kejar Alana, biarkan dia pergi.”


Nik hanya menghela nafasnya, ini bukan Jordan yang dia kenal.


Semangat hidupnya ?


Semuanya hilang lenyap seketika, Nik sangat kebingungan. Tatapan Jordan benar-benar kosong seperti lima tahun lalu.


Nik tidak memedulikan tuannya, dia berjalan keluar untuk mencari Alana.


Sementara Alana sudah masuk ke dalam taksi, dengan air matanya yang membasahi pipinya.


Rasa ingin tahu itu ada, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan Jordan.


Dia ingin bebas, rasa sakit itu masih tergambar jelas di hatinya.

__ADS_1


Semua perlakuan Jordan padanya terus berputar di kepalanya.


Tangis Alana semakin menjadi, dia tidak memedulikan tatapan heran dari sopir yang mengemudikan taksi yang dia tumpangi.


Alana tidak tega melihat keadaan Jordan dengan tangan yang memakai penyangga.


Tapi dia juga tidak bisa ikhlas atas kepergian orang tuanya.


Kata maaf tidak akan pernah cukup untuk menebus luka di hatinya.


Semua kemalangan yang terjadi di dalam hidupnya adalah ulah Jordan, matan suaminya.


***


Setelah melihat tubuh Nik hilang di balik pintu, Jordan turun dari tempat tidurnya.


Dia tidak memedulikan selang infus yang membebat tangannya. Jordan melangkah mendekati jendela di ruangannya, satu pukulannya membuat jendela di hadapan hancur seketika dalam sekejap.


Sama seperti hatinya yang remuk berkeping-keping, mendengar permintaan dari sang istri untuk mengajukan perceraian.


Rasa cintanya sudah tidak berguna lagi. Semuanya hancur, “Aaarggh,” teriak Jordan.


Tubuhnya jatuh ke lantai, Jordan memukul lantai di bawahnya menggunakan tangan kirinya.


Meluapkan rasa sakit di hatinya, kekecewaan yang mendalam.


“Untuk apa kau beri aku rasa cinta untuk pertama kalinya jika tuhan mengambilnya kembali tanpa memberikan aku kesempatan!”

__ADS_1


Jordan mengepalkan tangannya, dia menatap kepalan tangan kirinya yang mengeluarkan darah segar.


__ADS_2