Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Bermain-main


__ADS_3

Alana berangkat ke kantor dengan mobil yang sudah di sediakan oleh perusahaan untuk Alana pakai.


Alana sampai tempat waktu di gedung perusahaan Cyberaya.


Dia berjalan menuju resepsionis. Mereka menyambut kedatangan Alana dengan senyum.


“selamat pagi, ada yang bisa kami bantu nona,” ucap perempuan yang tampak ramah tersenyum pada Alana.


“Ruang sekretaris CEO di lantai berapa?” tanya Alana.


“Ada keperluan apa nona?”


“Saya sekretaris baru,” jawab Alana.


“Oh nona Alana yah?”


Alana menganggukkan, “Iya saya Alana.”


“Biar saya antar nona ke ruang kerja nona.”


Alana berjalan mengikuti wanita yang bekerja sebagai resepsionis. Mereka masuk ke dalam lift.


Lift terbuka di lantai khusus petinggi perusahaan, Alana mengikuti perempuan itu. Dan berhenti di depan ruangan yang Alana yakini ruang kerjanya.


“Ini ruang kerja nona, tuan Kenan berpesan pada saya, bahwa beliau akan menemui nona setelah rapatnya pagi ini selesai.”


“Terima kasih,” ucap Alana dengan senyum mengembang.


“Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi.”

__ADS_1


Setelah perempuan itu pergi dari hadapannya, Alana memasuki ruang kerja barunya.


Alana duduk di meja kerjanya, dia menyalakan komputer.


Dia mengecek beberapa email yang masuk, hingga perhatian Alana teralihkan karena suara ketukan di pintu.


“Masuk,” jawab Alana.


Alana berdiri dari kursinya setelah melihat kedatangan Kenan.


“Selamat pagi,” sapa Kenan.


“Pagi.”


Kenan mengeluarkan beberapa berkas untuk di periksa Alana. Dan menjelaskan beberapa pekerjaannya yang harus di kerjakan oleh Alana.


“Kalau nona mau menyerahkan berkas untuk di tandatangani oleh CEO, langsung ke ruangan saya.”


Melihat raut wajah Alana yang bingung, dengan cepat Kenan menjelaskan.


“Nona Stella tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.”


Alana mengangguk paham, dia tidak bertanya banyak. Karena setahu Alana setelah kepergian Arnon, Stella sebagai istrinya yang menggantikan posisi Arnon.


***


Setelah satu bulan bekerja di sana, Alana bisa beradaptasi dengan baik.


Selama bekerja di sana Alana hanya satu kali bertemu dengan Stella di ruang rapat.

__ADS_1


Tidak ada senyum atau wajah ceria yang di tunjukan Stella. Stella yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Stella yang empat tahun lalu menolongnya.


Alana tidak ambil pusing mengenai Stella sebagai Ceo-nya. Kehadiran Kenan cukup membantu pekerjaan Alana.


Hari weekend ini Alana ingin menghabiskan waktunya bersama Arsya.


Alana berjalan menghampiri kamar Arsya yang berada di sebelah kamarnya.


Alana melihat Arsya yang tampak sedang bermain dengan pengasuhnya.


“Sayang, apa kau ingin pergi jalan-jalan?” Tanya Alana setelah duduk di samping Arsya.


Arsya mengangguk antusias, “Mau Mam.”


Alana dan Arsya pergi ke Mall, Alana sengaja tidak membawa pengasuh Arsya, dia ingin memberi perhatian penuh untuk jagoan kecilnya.


Di mall tersebut ada tempat bermain yang di sukai Arsya.


Arsya senang bermain, sementara Alana duduk di tempat tunggu orang tua, sambil memperhatikan Arsya yang ke sana-kemari.



Jordan sengaja mengikuti Alana dan Arsya. Melihat ada kesempatan untuk berbicara dengan Alana, Jordan tidak menyia-nyiakannya. Jordan duduk di samping Alana.


Alana terkejut melihat kedatangan Jordan yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


“Anakmu sangat mirip denganku. Alana katakan padaku bahwa pria kecil itu anakku!”


Alana hanya diam membisu, dia tidak tahu harus berkata apa untuk meyakinkan Jordan bahwa Arsya bukan anaknya.

__ADS_1


Sudah jelas wajahnya memang mirip dengan Jordan, Alana tidak bisa menyangkal.


Ada rasa takut di hatinya, Alana takut Jordan akan membawa Arsya. Setelah tahu bahwa Arsya adalah anak Jordan, Alana tidak ingin kehilangan jagoan kecilnya, penyemangat hidupnya.


__ADS_2