Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Selamat Datang _2_


__ADS_3

Alana terbangun dari tidurnya, dia merasakan tangan kecil yang memeluk perutnya.


Alana tersenyum melihat jagoan kecilnya tengah tidur di sampingnya.


Dengan perlahan Alana meraba wajah Arsya, “Wajahmu mirip sekali dengan pria itu,” ungkap Alana.


Dia memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan perlahan.


Alana memilih bangkit dari tempat tidurnya, dia mulai membereskan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


Setelah selesai dengan urusannya Alana berjalan keluar kamar untuk menyiapkan mainan Arsya yang akan di bawa.


Alana hanya tersenyum masam, melihat mainan yang Arysa pilih adalah mainan yang di berikan Arvan untuk jagoan kecilnya.


Ada rasa sakit menyeruak di hatinya, Alana sudah memberikan selur kasih sayang dan perhatiannya pada Arsya.


Tetapi sepertinya Arsya tetap membutuhkan sosok seorang ayah, yang bisa memberikan kasih sayang untuk Arsya.


Alana merasa tidak bisa bergantung selamanya pada Arvan.


Tetapi dia juga masih takut untuk membuka hatinya, apa lagi pria itu masih memiliki tempat di hati Alana.


Alana kembali menepis pikiran tentang Jordan. Dengan cepat Alana kembali membereskan mainan yang Arysa inginkan.


Setelah semuanya sudah selesai, Alana merasa tubuhnya sangat lengket.


Dia memilih berendam dengan air hangat di dalam bathup. Dia memejamkan matanya menikmati hangat dan aroma sabun yang menenangkan.


Saat memejamkan matanya, entah dari mana asalnya. Alana malah melihat wajah Jordan yang tersenyum kepadanya.


Alana membuka matanya dan menampilkan senyum sinisya.


***


Matahari mulai beranjak naik, Alana sudah sampai di Indonesia.

__ADS_1


Alana melihat wajah Arsya yang murung sejak mereka terbangun.


Ada rasa sakit yang muncul di hatinya, jika Alana merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Arsya.


Asisten pribadi Stella menyambut kedatangan Alana.


“Selamat pagi, perkenalkan saya Kenan asisten pribadi nona Stella,” Ucap pria yang menyambut kedatangan Alana.


Alana dan Kenan saling berjabat tangan.


“Pagi, saya Alana,” Alana menampilkan senyum ramah pada asisten Stella.


Kenan membalas senyum Alana, “Saya di tugaskan Lord untuk menjemput dan mengantarkan kalian ke rumah yang sudah di siapkan oleh perusahaan.”


Alana mengikuti Kenan sampai di parkiran, dan masuk ke dalam mobil yang di bawa kenan.


Alana menggendong Arsya saat di mobil, di dekapnya dengan erat. Alana tahu semua ini berat bagi Arsya, setidaknya Arsya harus belajar bahwa Arvan tidak akan selalu bersama mereka.


Apalagi jika Arvan sudah menikah, pria itu pasti sibuk dengan setumpuk pekerjaan dan memberikan perhatian pada istrinya.


Alana memang tidak memiliki hubungan khusus dengan Arvan, yang dia tahu Arvan masih mencintai sosok Mira.


Begitu juga beberapa foto Mira, terlihat kentara mengisi rumah Arvan.


Dari situ Alana tahu, bahwa Arvan benar-benar mencintai Mira. Meskipun Mira sudah pergi untuk selama-lamanya, tapi cinta di hati Arvan sepertinya masih tumbuh.


Dari kejauhan Jordan memperhatikan Alana beserta anaknya yang tampak murung.


Jordan menahan keegoisannya untuk tidak menghampiri Alana serta anaknya.


Jordan tidak tega melihat wajah murung dari Arsya. “Kau kenapa, son?” Tanya Jordan di dalam hatinya.


Mobil yang membawa Alana mulai keluar dari parkiran, Jordan memperhatikan mobil itu hingga hilang dari pandangannya.


Jordan berjalan menuju mobilnya, dia masuk dan mulai menginjak pedal untuk meninggalkan bandara

__ADS_1


Jordan tidak bisa fokus menyetir, dia memilih berhenti di toko perhiasan Emily, yang memang satu arah dengan kediamannya.


Karyawan Emily sudah tahu siapa Jordan, mereka hanya menampilkan seulas senyum untuk menyambut kedatangan Jordan.


Jordan mengetuk pintu ruangan Emily. Emily membuka pintu dan tersenyum melihat kedatangan Jordan.


Saat Jordan masuk ada perempuan kecil dengan rambut di kuncir kuda yang menghambur memeluk kaki Jordan.


“Uncel, ke mana saja?”


Jordan membelai rambut bidadari kecil yang menyambutnya.


Jordan berjongkok di hadapan Keyla, anak Emily dengan Bryan. “Merindukanku?”


Keyla mengangguk dengan senyum mengembang.


Selama ini obat rindu terhadap Arsya adalah Keyla. Setidaknya dia bisa memberikan perhatian seorang ayah yang tidak pernah di berikan Bryan pada Keyla.


Ada rasa sakit di hatinya, karena dia juga tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada Arsya.


“Seharusnya kau temui mereka Mik, bukan datang kepada kami,” tegas Emily.


Jordan tersenyum kecil, Emily memang mengetahui maksud dirinya yang selalu memberikan perhatian pada anaknya.


“Dia juga anakmu, seharusnya kau belajar dari kesalahan Bryan. Bukan malah mengikuti jejaknya ... Pria tidak bertanggung jawab,” ejek Emily mengeluarkan isi hatinya.


“Kau tidak mengerti posisiku, Em,” jawab Jordan sambil menatap lekat mata Keyla.


“Lalu sampai kapan kau bersembunyi?” tanya Emily.


Melihat Jordan yang diam saja membuat emosinya tersulut.


“Sampai Alana menemukan pria yang di cintainya, dan saat itu tiba kau hanya bisa menyesali semuanya,” tandas Emily.


Selama ini Emily merasakan bagaimana susahnya hidup sendiri, dan membesarkan Keyla tanpa seorang suami.

__ADS_1


Dan Emily merasa Alana juga mengalami hal sama, seperti yang di rasakannya. Emily benar-benar tidak habis pikir pada pria lemah di depannya.


“Bodoh kau, Mik,” umpat Emily.


__ADS_2