Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Jebakan


__ADS_3

Eduard kini tahu apa yang terjadi di dalam keluarga Averyl yang rumit. Selain mereka membohongi Averyl, mereka juga sering memperlakukan Averyl seperti asisten rumah tangga. Averyl bercerita saat kecil ia tidak berani melawan Gumelar, karena jika berani melawan Averyl akan mendapatkan seratus kali pukulan dari ikat pinggang Gumelar. Ia juga sering absen dan tidak berhasil mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi. Akhirnya Averyl bekerja untuk bisa kuliah. Saat Gumelar berani menjualnya Averyl lebih memilih untuk menentang dan keluar dari rumah itu.


“Ed aku ingin pulang,” ujar Averyl setelah berbagai kisah masa lalunya.


“Memangnya kau berani di apartemen sendirian?.” Eduard memperhatikan Averyl yang tengah berpikir.


 “Ya aku berani,” jawab Averyl mantap. Selama ini ia bisa menjaga dirinya, saat ini juga ia harus bisa. Kejadian kelam hari ini cukup melukai hati Averyl, tapi ia tidak ingin terus menerus berada di dalam lingkaran rasa takutnya. Jika dunia kejam padanya, maka Averyl merasa harus lebih kuat menghadapi kejamnya dunia.


Dengan berat hati Eduard akhirnya mengantarkan Averyl ke apartemen. Namun ia tidak tinggal diam. Eduard mengerahkan pengawal untuk menjaga Averyl dari jarak jauh tanpa Averyl tahu.


Sesampainya di apartemen Averyl merasa sendiri, rasa takut itu datang kembali. Tapi Averyl mencoba menangkan dirinya, dan meyakinkan pada dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Selama ini pun Averyl menghadapi kejamnya Gumelar sendirian, mengapa kini ia harus takut. “Kamu kuat, kamu tidak perlu takut Averyl,” ucap Averyl untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Averyl  membuka laptopnya. Ia ingin mengecek beberapa email hari ini yang terbengkalai. Tiba-tiba ada notifikasi email dari Arsya. [Apa kau baik-baik saja?]

__ADS_1


“Ya Tuan saya baik-baik saja,” balas Averyl. Ia kembali memeriksa beberapa dokumen dan jadwal hari ini yang batal untuk di atur ulang. Rasa kantuk mulai menyerang Averyl. Ia mematikan laptopnya. Beranjak ke tempat tidur, mencari posisi nyaman untuk meraih mimpi. Entah mengapa bayangan wajah Eduard saat menolongnya melintas begitu saja. Mungkin Averyl bisa pura-pura percaya namun ia tahu betul Eduard sedang berbohong. Tidak mungkin Eduard menemukannya dengan mudah padahal ponsel dan tasnya jelas-jelas tertinggal di kantor.


Satu pikiran muncul begitu saja. Averyl merasa Eduard yang merencanakan ini semua, dan ia akan jadi pahlawan kesiangan. Tetapi Averyl dengan jelas melihat wajah marah dan khawatir Eduard. “Mungkin bukan Eduard pelakunya, tapi siapa?” gumam Averyl.


Averyl berusaha memikirkan siapa yang berani menculiknya, tetapi rasa kantuk terus menguasainya. Hingga Averyl putuskan untuk pergi tidur.


Pagi itu Averyl beraktivitas seperti biasa, ia pergi ke kantor. Dan menjalankan tugasnya. Tiba-tiba seorang pria dengan pakaian jasa pengiriman barang mengetuk pintu ruangan Averyl yang terbuka. Pria tersebut tersenyum ramah, “Selamat pagi Nona.”


Pria itu melirik sekilas pada kotak yang sedang di pegangnya. “Saya ingin mengantarkan barang untuk Tuan Arsya.”


“Baik Pak, tunggu sebentar saya hubungi Tuan Arsya terlebih dahulu.” Averyl menelepon Arsya, tapi teleponnya tidak kunjung di angkat oleh Arsya. Telepon kantor tidak di jawab, telepon pribadi pun sama tidak di jawab. Padahal setengah jam yang lalu Arsya masih ada di ruangannya, dan hari ini tidak ada jadwal keluar kantor. Averyl masih mencoba menghubungi Arsya.


“Nona apa Tuan Arsya-nya ada? Soalnya saya tidak bisa lama-lama, masih ada beberapa barang yang harus saya antarkan secepatnya,” ucap bapak tersebut.

__ADS_1


Panggilan Averyl tidak kunjung di jawab, akhirnya Averyl menyerah dan menutup telepon. “Sepertinya Tuan Arsya sedang keluar.”


“Kalau begitu nona saja yang tanda tangan untuk tanda terimanya,” ucap pria tersebut sembari mengambil sesuatu dari tas sampingnya. “Baik Pak, saya saja yang tanda tangan,” jawab Averyl. Pria tersebut tampak kebingungan dan melihat ke belakang. “Kenapa Pak?”


“Waduh Non, sepertinya tanda terimanya terjatuh. Boleh saya meminta tanda terimanya di kertas HVS, untuk bukti kepada perusahaan.” Akhirnya Averyl menyetujui dan membubuhkan tanda tangannya. Pria tersebut pergi, dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Averyl karena telah membantu pekerjaannya.


Averyl menerima barang tersebut dan melihat kertas yang menempel di atasnya. Ternyata ini kiriman dari adik Arsya. Averyl kembali melanjutkan aktivitasnya.


***


Averyl sudah selesai membereskan meja kerjanya. Ia sudah bersiap untuk pulang. Averyl turun ke bawah, namun seseorang memanggil. Averyl berbalik dan tersenyum pada wanita yang memanggilnya, wanita itu adalah staf resepsionis. “Ada apa?”


Wanita itu memberikan sebuah amplop. Averyl menerimanya, mengucapkan terima kasih dan segera pulang. Saat sampai di apartemen Averyl penasaran dan membuka amplop tersebut. Ia terkejut saat mendapati kartu tanda kependudukannya ada di sana beserta buku nikah.

__ADS_1


__ADS_2