
Emily menyerahkan paper bag yang dia bawa, “Ini kalung pesananmu.”
Jordan menerima paper bag yang di berikan Emily lalu membukanya, Jordan mengeluarkan kotak dari dalam paper bag.
Alana memperhatikan Jordan yang sedang membuka kotak, Alana mengernyit melihat kalung emas yang ada di kotak itu.
Jordan sengaja memakaikan kalung untuk Alana di depan Emily, untuk memberi peringatan pada Emily agar tidak mengganggu Alana seperti di pulau pribadi miliknya.
Setelah di selidiki memang Emily dalangnya, Jordan ingin wanita itu tahu bahwa posisi Alana lebih tinggi darinya.
Jordan mengeluarkan kalung itu dari kotaknya, dia mengikis jarak di antara dirinya dan Alana.
Alana menahan nafas saat hampir tidak ada jarak di antara mereka, jantung Alana berpacu lebih cepat dari biasanya. Aroma tubuh Jordan begitu memabukkan, wangi yang selalu bisa Alana cium jika jarak di antara mereka hanya 30 centimeter.
Nik melirik Emily yang terlihat mengepalkan tangannya, saat tuan Jordan memasangkan kalung itu di leher Alana. Niko tahu Jordan tidak pernah mencintai Emily, bahkan perlakuan Jordan terhadap Emily dan Alana jelas berbeda.
Setelah selesai memasangkan kalung di leher Alana, Jordan kembali pada posisinya lalu menatap Emily. “Kau ingin ikut makan siang-ah bukan makan siang ini makan sore.”
Lewat ekor matanya Jordan bisa melihat Alana yang tersenyum memandangi kalung di lehernya. Jordan masih menunggu reaksi wanita itu, apa Emily memang ingin merusak hubungannya atau dia perlahan akan mundur.
__ADS_1
“Aku sudah makan siang,” jawab Emily dengan senyum terpaksa.
“Oke, kalau begitu aku permisi,” ucap Jordan berpamitan.
Perhatian Alana tertuju pada kalungnya, namun saat Jordan berdiri Alana sadar, dia terlalu memuja kalung pemberian Jordan hingga tidak memperhatikan interaksi di sekitarnya.
Alana mencoba memberikan senyum pada Emily sebelum beranjak dari tempatnya, tetapi Emily malam menatapnya tajam bagaikan nenek lampir yang siap menyerang musuhnya.
Niko memperhatikan interaksi Alana dan Emily, ternyata Emily berani menunjukkan rasa tidak sukanya di belakang Jordan.
“Sana pergi kau Nik!” ketus Emily. Emily sudah kebal dengan sikap Nik, tidak bisa di hitung dengan jari sikap Nik yang selalu mengintimidasi Emily jika dia berbuat sesuatu yang mengancam untuk Jordan Mikhael Anderson.
Jordan menatap Nik tajam, bagaimana bisa sekretarisnya itu membiarkan tuannya di bawah terik mata hari hanya untuk menunggu sekretarisnya.
“Maaf tuan,” ucap Nik sambil tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya Alana melihat senyum tipis Nik, terlihat lebih santai jika Nik tersenyum seperti itu. ‘Mungkin lebih tampan dari Jordan’ pikir Alana.
__ADS_1
Alana bergidik ngeri, dia tidak jadi memuji Nik. Nik memang tampan tapi Alana masih mengingat bagaimana Nik mengancamnya, dengan pisau yang menempel pada lehernya.
Jordan masuk ke dalam mobil, dia melepaskan tuksedonya. Rasa gerah menyelimutinya, Jordan tidak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari.
Alana masuk dan duduk di samping Jordan, perhatian Alana tertuju pada kemeja Jordan dengan tiga kancing yang terbuka menunjukkan dada bidangnya.
Alana memalingkan wajahnya saat tertangkap basah oleh Jordan sedang memperhatikannya. Namun tarikan tangan Jordan yang menuntun pundak Alana agar lebih mendekat pada tubuh Jordan membuat Alana sedikit risi.
Bagaimana tidak, dengan jarak sedekat ini dia bisa memandangi dada Jordan yang sedikit berkeringat.
***
Kita nyanyi dulu yah
Hareudang … hareudang … hareudang.
Panas … panas … panas …
Udah ah kebanyakan cingcong, jangan lupa dukung author terus yah lewat vote, like, komentar dan fitur baru berupa hadiah
__ADS_1
Oke lanjut bab berikutnya ->