
“Apa syaratnya?” Tanya Averyl dengan tidak sabar.
“Kau harus menikah denganku!”
Mulut Averyl menganga mendengar ucapan Arsya. Ia cukup terkejut. Mengapa Eduard dan Arsya ingin menikahiku, padahal jelas-jelas aku tidak ingin menikah. Aku rasa bukan hanya aku yang tidak memiliki pasangan di dunia ini. Tolong yang jomblo angkat tangan, silakan kalian pilih mau Arsya atau Eduard! Aku sudah benar-benar muak dengan kegilaan ini.
Arya memberikan ponselnya pada Averyl. “Bacalah!”
Averyl memperhatikan surat perjanjian yang di ajukan Arsya. Setelah membacanya hingga selesai Averyl memandang wajah Arsya dengan serius. “Aku setuju.”
Saat Averyl menandatangani perjanjian tersebut, Arsya tersenyum penuh kemenangan. Selamat datang di permainanku Eduard, aku pastikan kali ini kau kalah.
Averyl tidak ingin kehilangan kesempatan emasnya. Tawaran yang di berikan Arsya lebih menggiurkan. Yang pertama Averyl terbebas dari pernikahannya dengan Eduard. Yang kedua Averyl bisa kembali bekerja di perusahaan MA Grup. Yang ketiga ia memiliki waktu satu bulan untuk membayar uang Arsya. Tetapi jika Averyl tidak bisa membayarnya ia harus menikah dengan Arsya. Setidaknya Averyl bisa sedikit bernafas lega sebelum memikirkan cara membayar hutangnya pada Arsya.
Averyl menyerahkan ponsel Arsya. Surat perjanjian tersebut resmi dan tidak bisa di ganggu gugat.
“Mariku antar kau pulang,” ajak Arsya. Averyl mengangguk antusias. Ia sangat merindukan tempat tinggalnya.
Arsya dan Averyl bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba Arsya menggenggam tangan Averyl. Averyl memandang tangannya yang di genggaman oleh Arsya.
__ADS_1
“Ayok cepat!” Averyl sudah terbiasa mendengar nada memerintah yang keluar dari mulut Arsya, ia berjalan di samping Arsya dengan berpegang tangan.
Eduard yang baru saja keluar melihat pemandangan Arsya dan Averyl yang tampak mesra dengan saling menggenggam tangan, membuat rasa cemburu di hatinya keluar begitu saja. “Apa-apaan ini?”
Arsya senang melihat kemarahan Eduard. Ia berhasil. “Averyl sekarang adalah milikku, aku sudah membayarnya dua kali lipat.”
Bunyi dering dari ponsel Eduard menarik perhatian semua orang. Ia menerima panggilan dari Simon. [Tuan, mengapa Tuan Arsya mengirimkan uang dalam jumlah banyak. Uang untuk apa ini?]
Eduard tidak ingin menjawab pertanyaan Simon. “Kembali sekarang juga!” ucap Eduard lalu mematikan telepon Simon.
Averyl memilih tersenyum untuk membalas tatapan tajam Eduard. “Pernikahan kita batal Tuan Eduard Havelaar. Silakan cari wanita lain untuk menggantikan pengantin wanitanya.”
Kencangnya tarikan Eduard membuat tangan Averyl terlepas dari tangan Arsya. “Kau serakah sekali Kak!” bentak Arsya tidak terima. Namun Eduard tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Arsya. Ia terus menarik Averyl keluar dari kediaman Jordan.
Averyl terus memberontak berusaha melepaskan tangannya Eduard. “Lepaskan Tuan, aku tidak ingin menikah denganmu!”
Jordan dan Alana menghampiri mereka karena mendengar suara keributan. “Lepaskan Eduard. Kau menyakiti Averyl!” bentak Alana. Ia tidak suka ada pria yang seenaknya saja pada wanita.
Eduard tidak melepaskan genggamannya. Namun ia menghentikan langkahnya dan menatap Alana. “Mami tidak perlu ikut campur, ini urusanku.”
__ADS_1
Melihat situasi yang semakin memanas Averyl tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Mari kita tunjukkan bakat aktingmu Averyl.
Averyl mencoba menarik tangannya namun genggaman tangan Eduard sangat kuat. “Lepaskan Tuan, tanganku sakit,” lirih Averyl dengan air mata yang ikut turun.
Alana melihat pergelangan tangan Averyl yang memerah. Putra angkatnya benar-benar keterlaluan. “Lepaskan Eduard!” ucap Alana dengan nada dingin.
Melihat amarah yang di tunjukkan ibunya, membuat Eduard menyerah. Dengan berat hati ia melepaskan genggaman tangannya pada Averyl.
Arsya berjalan dan menarik tubuh Averyl agar mendekat ke arahnya. “Eduard memaksa Averyl agar menikah dengannya. Padahal kami sudah berencana untuk menikah bulan depan. Namun Eduard seenaknya saja memaksa Averyl menikah dengannya.”
“Averyl apa yang di katakan Arsya benar?” Averyl mengangguk, “Iya benar Tuan, Tuan Eduard memaksaku.” Air mata buaya Averyl kembali turun, untuk meyakinkan mereka semua bahwa ia merasa terindas. Meskipun memang begitu adanya, tapi Averyl pantang untuk mengeluarkan air mata.
“Eduard suda Papi katakan, menikah itu harus persetujuan kedua belak pihak. Kamu tidak bisa memaksa semua orang untuk menuruti keinginanmu saja.” Eduard tidak bisa menjawab ucapan Jordan. Ia hanya diam membisu, bagaimana pun Jordan dan Alana sangat berjasa dalam kehidupannya. Eduard tidak ingin menjadi anak yang tidak tahu di diri, padahal Jordan dan Alana selalu memperlakukannya dengan baik seperti pada anak kandung mereka.
“Jika sudah tiba waktunya, kau akan menikah dengan wanita yang mencintaimu juga,” ujar Alana menambahkan.
Di dalam hatinya Arsya tersenyum puas, tidak ada yang membela Eduard sedikit pun termasuk Jordan. Ini baru permulaan Ed, belum seberapa jika di bandingkan dengan hidangan utamanya.
__ADS_1