Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Ide Nicholas


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut Alana, Alana duduk di atas tempat tidur. Dia mengambil ponselnya, untuk melihat keadaan matanya yang terasa perih, Alana meringis melihat matanya yang bengkak.


Teleponnya berdering , panggilan dari Nik. Alana menekan tombol hijau dan mengarahkan ke telinganya.


“Selamat pagi nona,” sapa Niko.


“Tidak usah basa-basi, Nik,” ketus Alana.


Niko mengernyit heran, ternyata nona muda bisa galak seperti harimau yang mengaum jika sedang marah. “Apa tuan bersama anda nona?”


“Kenapa tanya saya, harusnya kamu telepon dia Nik!” Alana mematikan ponselnya. Dia benar-benar kesal, sepertinya Nik sengaja menelepon untuk mengerjainya.


Alana menghidupkan mode penerbangan di ponselnya, agar tidak ada yang bisa menghubunginya.


*** 


Nik mencoba kembali menghubungi nona Alana, tetapi kini hanya suara operator yang menyambutnya memberikan informasi bahwa nomor Alana sedang tidak aktif.


Nik menelepon tuan muda, “Halo tuan,” sapa Nik.


“Bagaimana?” tanya Jordan dengan tidak sabar.

__ADS_1


“Nona muda mematikan ponselnya sebelum saya bicara tuan.”


“Saya tidak mau tahu Nik, pokoknya kamu harus membujuk Alana keluar dari kamarnya!”


Niko memandangi ponselnya, tuan muda memutus telepon secara sepihak. Astaga tuan, kenapa anda tidak langsung membukanya sendiri, saya yakin kunci cadangannya pasti ada di kepala pelayan.


Dia benar-benar tidak habis pikir, tuan dan nona sedang marahan. Tapi kenapa dia yang harus kerepotan  mengurusi hubungan mereka berdua.


Oke Nik, lo harus berpikir cerdas!


Lampu menyala di atas kepala Niko, dia mendapat ide. Semoga saja idenya berhasil, jari Nik kembali menekan nomor tuan muda. “Tuan saya punya ide supaya tuan bisa masuk ke kamar tanpa membuka pintu dengan kunci cadangan.”


Nik tersenyum, ternyata tuan muda memang tidak ingin kehilangan kharismanya karena harus membuka pintu kamar Alana dengan kunci cadangan. Kata Jordan itu bukan gaya lelaki sejati, bisa ae babang Jordan.


“Begini caranya tuan ********************.”


“Enggak, Nik!” tolak Jordan tegas.


“Tapi tuan saya tidak ada ide lain, dan seperti keinginan tuan. Tuan tidak perlu membuka pintu kamar nona dengan kunci cadangan.”


Lagi-lagi Nik mendapati tuan mudanya yang menutup telepon lebih dulu. Namanya juga tuan muda, biaralah dia bertingkah semaunya.

__ADS_1


Jordan diam memikirkan ide gila yang diberikan sekretarisnya, Nik. 


Kepalanya menggeleng, Jordan tidak suka dan tidak setuju dengan ide yang di berikan Nik.


Jordan akui ide baru Nik lebih baik dari sebelumnya, tetapi tetap saja dia merasa seperti melempar kotoran pada mukanya sendiri.


“Tidak, tidak … tidak bisa.”


Tuan muda mondar-mandir di ruang perpustakaan, perasaannya gelisah. Dia terus memikirkan Alana, dia ingin melihat kondisi wanita itu.


Dia sudah menurunkan harga dirinya semalam, dengan mengetuk pintu kamar Alana, tidak ada tuan muda yang tidak bisa masuk ke kamarnya sendiri, menurut Jordan itu sangat memalukan.


Dan yang lebih membuatnya kesal lagi, gadis kecilnya tidak membukakan pintu untuk Jordan. Sia-sia menurunkan harga diri tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal.


Keputusannya sudah bulat, Jordan harus melihat kondisi Alana. 


Jordan berdiri di depan pintu kamar Alana, bersama seorang pelayan. Rasa ragu terus menyelimutinya. Jordan ingin bertemu dengan Alana, tapi dia tidak ingin mengikuti saran bodoh Niko.


Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?


Jordan terus memikirkan cara lain, dia tidak ingin memakai ide gila Niko yang membuatnya terasa seperti orang bodoh.

__ADS_1


__ADS_2