Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Demam


__ADS_3

“Mami jahat!”


“Arsya!” Alana tidak sengaja membentak Arsya. 


Air mata Arsya turun begitu saja mendengar bentakan dari Alana. Dia merasa Alana sudah tidak menyayanginya, Arsya berbalik dan masuk ke kamar dengan air mata yang terus meluncur deras di pipi gembilnya. 


Alana menghela nafasnya menatap kepergian Arsya, bukan tidak ingin membujuk anaknya tapi perut dan kepalanya benar-benar sakit. Alana memilih masuk ke dalam kamar untuk meminum obat agar rasa sakit di kepala dan perutnya hilang.


Ia mandi terlebih dahulu untuk menghilangkan penatnya sebelum bertemu Arsya, Alana tidak ingin berbicara dengan Arsya saat kondisi tubuhnya lelah. Ia takut malah membentak Arsya kembali seperti barusan.


Setelah selesai mandi tubuhnya terasa lebih segar,  Alana berjalan menuju dapur. Dia akan membuatkan sepiring omlet kesukaan Arsya untuk makan malam sebagai permintaan maafnya.


Setelah siap, Alana berjalan menuju kamar Arsya. Jagoan kecilnya sedang memunggungi Alana, dengan perlahan Alana berjalan mendekati tempat tidur. Ia memeluk tubuh kecil Arsya. 


“Maafkan Mami sayang, Mami tidak sengaja membentakmu,” ucap Alana sambil mencium bagian belakang kepala Arsya.


“Papi.”


Alana terkejut mendengar suara Arsya yang terdengar sangat lirih. Alana bangun dari posisi tidurnya, ia membalikkan tubuh Arsya agar menatapnya. 


Melihat Arsya yang memejamkan mata membuat Alana cemas, ia menempelkan punggung tanggangnya di kening Arsya, panas.


Alana berjalan mengambil kotak obat di kamar Arsya, ia mengeluarkan termometer untuk mengecek suhu tubuh Arsya. 


Dengan hati berdebar Alana terus memperhatikan angka yang mulai melaju mengukur suhu tubuh Arsya. Layar digital kecil menunjukkan angka (39,5°C).

__ADS_1


Alana menggigit kecil bibir bawahnya, ia tidak menyangka Arsya akan demam. Biasanya jagoan kecilnya itu tidak mudah sakit. 


“Papi sini … Arsya enggak mau mainan banyak, Arsya Cuma mau Papi,” gumam Arsya dengan mata terpejam.


Satu air mata Alana menetes mendengar suara lemah Arsya yang meminta Jordan datang. Di saat demam seperti ini Arsya masih mengingat Jordan.


Alana membawa tubuh Arsya ke dalam gendongannya dan membawa Arsya keluar. Kebetulan pengasuh Arsya berjalan sedang duduh di ruang keluarga, jadi Alana tidak perlu repot memanggilnya.


“Siapkan perlengkapan Arsya, sekarang. Arsya demam saya akan membawanya ke rumah sakit.”


Dengan sigap pengasuh Arsya membereskan beberapa perlengkapan Arysa dan menyusul Alana ke dalam mobil.


Hati Alana resah, dia melirik Arsya yang berada di gendongan pengasuhnya terus-terus memanggil nama Jordan. Alana membawa mobilnya sedikit cepat, hanya dengan waktu dua puluh menit mereka sampai di rumah sakit milik nona Stella.


Tanpa perlu mengantari Alana memiliki akses untuk kamar VIP, dan Arsya langsung di periksa oleh dokter spesialis anak. 


Setelah dokter dan suster keluar Alana menghampiri tubuh Arsya yang terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di tangan kecilnya.


Air mata Alana turun begitu deras, untuk pertama kalinya Alana melihat tubuh Arsya selemah ini. Alana menggenggam tangan kanan Arsya, di kecup nya tangan Arsya lama dengan air mata yang terus keluar. 


“Papi.”


Hatinya hancur mendengar Arsya yang masih memanggil Jordan, Alana menyesal karena telah membentak Arsya.


Dengan lembut Alana membelai rambut Arsya, “Sayang ini Mami, bangun lah nak.”

__ADS_1


Alana merasa bahagia melihat kelopak mata Arsya terbuka dan menatapnya. “Papi mana Mami?”


“Arsya ingin ketemu Papi?” Arsya mengangguk kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Alana.


“Arsya tunggu di sini Mami akan menghubungi Papi.” Alana mengecup kening Arsya, ia berjalan menjauh dari Arsya untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


Setelah mendapatkan ponselnya, Alana kembali berjalan menuju Arsya dan duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur Arsya.


Alana menyalakan layar ponselnya, dia  tidak tahu bagaimana cara menghubungi Jordan. Pasalnya dia tidak memiliki nomor Jordan atau pun Nik.


Alana melirik pada Arsya yang tampak tersenyum padanya, ia tidak tega jika harus mengecewakan Arsya. 


Alana mencoba memikirkan cara untuk menghubungi Jordan, dia teringat nomor ponsel pemberian Jordan empat tahun lalu.


Di pandanginya deretan angka di layar ponselnya, Alana berharap ponsel itu masih di simpan oleh Jordan atau Nik.


Alana menempelkan ponsel di telinganya, dia tersenyum ke arah Arsya  karena nomor itu masih aktif.


“Hallo.”


Alana tahu siapa pemilik suara itu, Jordan. “Arsya sakit, dia ingin bertemu denganmu. Aku akan mengirimkan alamatnya sekarang.” Alana langsung mematikan sambungan teleponnya, dia tidak ingin berbicara panjang lebar dengan Jordan. 


***


Sudah lebih banyak dari biasanya, jangan lupa dukungannya ya, terima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa besok ❤️


__ADS_2