Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Biadab


__ADS_3

Pagi itu Averyl duduk di meja makan sendirian, mengaduk-aduk bubur yang sudah mulai dingin. Kandungannya sebentar lagi akan masuk pada trimester kedua, namun hubungannya dengan Eduard semakin merenggang.


Sejak Alana pergi hari itu Averyl sudah tidak melihat keberadaan Eduard lagi, di kantor pun ada saja alasan jika Averyl ingin bertemu. Sedang rapat, pergi keluar, ada tamu penting yang tidak bisa di ganggu dan lain sebagainya.


Averyl menghabiskan segelas susu miliknya, beranjak dari duduknya meninggalkan bubur yang tidak jelas bentuknya.


Averyl memandangi dirinya di depan cermin. Dress yang di gunakannya mampu menutupi perutnya dengan sempurna. Ia tidak bisa lagi berdiam diri tanpa sebuah kepastian. Selama ini ia terus mengajukan perceraian tapi sampai saat ini Eduard belum juga menyerahkan surat yang sudah di tandatangani.


Averyl mengambil tas selempang lalu pergi keluar untuk menemui Eduard kembali.


Sesampainya di kantor Averyl merasa beruntung karena tidak ada penjaga yang biasa berdiri di depan pintu ruangan Eduard. Averyl masuk, namun di sana ia tidak menemukan keberadaan Eduard maupun Simon.


Averyl masih belum menemukan alasan Eduard berubah, ia mencoba membuka laci meja kerja Eduard. Averyl cukup terkejut melihat berkas tebal paling atas berisikan laporan kasus pembunuhan.


Rasa penasaran itu muncul, Averyl membuka lembar pertama berkas tersebut. Tetapi sayangnya Averyl belum sempat membacanya ia mendengar suara Eduard. Averyl mengembalikannya ke laci dan berjalan cepat ke sofa lalu duduk dengan tenang.


“Bagaimana bisa Namira bisa lolos dari penyelidikan, harusnya ia yang di jadikan tersangka atas kematian ibuku,” bentak Eduard pada Simon tanpa menyadari keberadaan Averyl.


Averyl yang mendengar ucapan Eduard barusan menjadi sulit untuk sekedar menelan salivanya. Pandangan Averyl bertemu, kini ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Eduard yang penuh dengan emosi.


Lewat lirikan mata Eduard, ia menyuruh Simon agar membawa Averyl pergi dari hadapannya. Ia sudah muak dengan kegaduhan ini.


“Nona saya antar pulang,” tawar Simon.


Averyl berjalan melewati Simon dan berdiri tepat di depan tubuh Eduard. “Apa ini alasan kamu bersikap seperti ini padaku?”


Eduard diam memperhatikan manik Averyl yang mulai menggenang.

__ADS_1


“Oh aku mengerti, kamu memperlakukan aku dengan tidak baik hanya karena aku anak Namira. Padahal selama ini aku tidak pernah berhubungan secara personal dengan Namira. Tapi kamu melimpahkan kesalahannya padaku.”


“Bawa wanita gila ini pergi!”


Hancur sudah hati Averyl mendengar kalimat yang keluar dari mulut Eduard. Selama ini ia sudah berjuang menunggu Eduard kembali, tapi sepertinya Eduard sudah tidak peduli lagi.


Averyl mengeluarkan pisau lipat yang ia bawa ke mana pun ia pergi untuk berjaga-jaga, lalu menyerahkannya pada tangan Eduard. “Kalau kamu merasa aku ini pantas untuk di jadikan pelampiasan atas Namira, bunuh aku saja!”


Averyl menyeka air matanya. “Aku sudah lelah,” ucap Averyl dengan lirih.


Eduard menerimanya dan memandang lekat-lekat manik Averyl yang terus mengeluarkan air mata.


Air mata buaya Averyl tidak bisa menyentuh sedikit pun hati Eduard. Pisau lipat itu ia buka lalu di arahkan pada leher Averyl tepat di bagian urat nadi.


Averyl terus berdoa, berharap Tuhan berbaik hati. Namun sayangnya tidak, Averyl merasakan sayatan di lehernya.


Eduard melenggang keluar ruangan dengan tenang. Berbeda dengan Simon yang cukup terkejut melihat adegan barusan. Ia menghampiri Averyl, mengulurkan tangan memastikan lukanya.


Averyl menepis tangan Simon. Ia berjalan keluar dari ruangan Eduard.


Tatapan seluruh pegawai Havelaar grup tertuju pada leher Averyl yang tersayat dan mengeluarkan darah segar.


Averyl tidak mengindahkan tatapan heran orang-orang ia terus berjalan menuju basemen.


Averyl melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, air matanya menetes namun segera Averyl seka. Ia tidak ingin cengeng, kali ini masa depan janinnya lebih penting dari segalanya.


Meskipun Averyl berusaha untuk tidak terlihat menyedihkan tapi hatinya benar-benar sakit. Semua impian dan harapan tentang keluarga bahagia yang menyambut bayi yang baru saja di lahirkan lenyap oleh realita.

__ADS_1


Averyl sadar ia tidak akan mendapatkan tatapan lembut Eduard lagi. Kebahagiaannya benar-benar singkat, kini tuhan merebutnya kembali.


Averyl berdoa di dalam hatinya, “Tuhan aku tidak masalah jika kau ambil bahagiaku, tapi jangan biarkan bayi dalam perutku merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku rasakan.”


Mobil Averyl sudah sampai di kediaman Eduard. Averyl keluar dari mobil. Namun kepalanya terasa pening, Averyl terdiam sejenak.


Averyl berusaha menahan rasa pusing di kepalanya. Averyl berusaha berjalan masuk ke rumah ia harus mengambil beberapa berkas penting yang belum sempat ia bawa ke apartemen.


Dalam sekejap barang-barangnya sudah Averyl masukan ke dalam koper. Ia keluar dari kamar, berjalan dengan langkah sedikit tergesa-gesa takut jika Eduard tahu bahwa ia berencana pergi.


Langkah Averyl terhenti seketika, tubuhnya mematung saat pandangannya bertemu dengan manik tajam Eduard.


Averyl menahan nafasnya saat tangan Eduard mengelus pipi kanan Averyl. Ia tidak berani menatap Eduard sedikit pun.


Averyl meringis saat luka di lehernya di tekan oleh Eduard. “Lepaskan Ed,” pinta Averyl dengan nada pelan namun suaranya terdengar sangat tegas.


Eduard menyejajarkan wajahnya dengan wajah Averyl. “Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, sebelum Namira hancur di tanganku! Atau kau yang akan hancur di tanganku.” Eduard menampilkan seringai miliknya.


“Aku menyesal telah mencintai lelaki sepertimu yang tidak memiliki hati sedikit pun. Bahkan kamu tidak ada bedanya dengan Namira sama-sama pembunuh. Lelaki biadab sepertimu Tidak pantas untuk hidup!” Averyl mencoba untuk tidak takut pada Eduard meski kini tangannya yang mengepal mulai berkeringat.


“Apa katamu?” Bentak Eduard.


Averyl mendekat ke telinga Eduard. “Lelaki biadab!”


Eduard mendorong tubuh Averyl hingga kehilangan keseimbangan dan perutnya membentur sudut lemari.


Averyl meraba perutnya yang terasa nyeri, ia berjalan mendekat pada Eduard untuk mengambil kopernya.

__ADS_1


Arsya yang baru saja datang terkejut saat melihat Eduard menghantam kepala Averyl menggunakan koper. “Eduard kau gila!” teriak Arsya. Ia berjalan menghampiri tubuh Averyl yang terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri.


__ADS_2