Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Penolakan dari Alana


__ADS_3

Setelah selesai berpakaian Alana keluar dari kamar, meninggalkan Jordan yang masih berada di kamar mandi. Saat membuka pintu kamar Arsya, di sana Ada Arsya dan Nik yang sedang sarapan.


“Mami,” panggil Arsya setengah berteriak.


Alana menghampiri Arsya dan memeluknya, “Mami kangen banget sama Arsya,” ungkap Alana.


“Arsya juga kangen sama Mami,” Arsya membalas pelukan Alana. 


Dia mendongakkan wajahnya untuk menatap Alana, “Mami Arsya mau di beri hadiah adik bayi oleh Papi.”


Mata Alana membulat sempurna, “Adik bayi?” 


Arsya menganggukkan kepalanya antusias, “Iya Mami, Arsya sudah besar jadi nanti Papi kasih adik bayi.”


Alana melirik Nik yang berada di samping Arsya, pipinya memerah sekarang. Dia benar-benar malu, “Awas kau Jordan, kenapa bahas adik bayi pada Arsya,” batin Alana.


Sementara Nik hanya diam, tanpa membuka suara saat tatapannya bertemu dengan Alana.


Suara ponsel berdering, Alana memperhatikan Nik yang memandangi layar ponselnya. 

__ADS_1


Nik bangkit dari posisi duduknya, “Nona, saya angkat telepon sebentar.”


“Silakan.”


Setelah tubuh Nik menghilang di balik pintu, hati Alana bertanya. ‘Siapa yang menelepon Nik?’


*** 


Jordan tidak ingin menunda niat baiknya, ia ingin semuanya lebih jelas. Setelah pulang dari hotel, Jordan meminta Nik untuk menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. 


Begitu pun dengan Arsya, Jordan sudah meminta Arsya bahwa Jordan akan membawa Alana. Sementara Arsya berada di rumah dengan pengasuhnya, sayang sekali Arsya memiliki sifat seperti Jordan. Hingga membuatnya sedikit kepayahan saat membujuk Arsya, karena Arsya memiliki sifat seperti dirinya yang tidak akan mudah untuk di bujuk, dengan iming-iming adik bayi akhirnya Arsya mau menunggu di rumah.


Mereka bertiga  memasuki sebuah ruangan yang tampak elegan, hanya ada satu meja di tengah-tengah ruangan. 


Dengan sigap Jordan menarik kursi untuk duduk Alana. “Terima kasih,” ucap Alana sambil tersenyum pada Jordan.


Alana memandangi Jordan yang tampak lebih tampan malam ini, tuksedo yang di pakai Jordan seperti biasa berwarna hitam. 


Malam ini adalah malam yang sangat mendebarkan bagi Jordan, di tatapnya wajah Alana yang tampak biasa saja. Tidak ada rasa gugup sama sekali, padahal dari tadi Jordan sudah berusaha bersikap seperti biasa.

__ADS_1


Setelah mereka duduk seorang pelayan membawakan makan malam yang sudah di pesan Nik sebelumnya, setelah semuanya tertata dengan rapi sang pelayan pamit undur diri.  Nik menepukan tangannya, music mulai mengalun dengan merdu untuk menemani makan malam di ruangan VIP yang mereka tempati.


“Selamat menikmati tuan dan nona, saya permisi.” Nik membungkuk memberi hormat lalu berjalan meninggalkan ruangan VIP dengan helaan nafas kasar keluar dari mulutnya setelah pintu ruangan tertutup.


Nik merutuki dirinya yang selalu menyiapkan makan malam romantis, tapi sayang hingga detik ini dia belum pernah menikmati makan malam romantis dengan pasangannya.


“Kapan engkau kirimkan jodoh untukku tuhan,” batin Nik.


Alana menikmati makan malam yang tersaji di depannya di temani alunan music. Makanannya sudah habis,  Alana melirik Jordan yang masih menikmati makan malamnya. 


Melihat Alana yang menatapnya Jordan menyimpan garpu serta pisau yang ia pegang. “Kau sangat cantik malam ini,” puji Jordan.


Alana hanya diam, dia tidak memedulikan pujian Jordan, karena pikirannya penuh oleh  Arsya karena jagoan kecilnya terlihat gembira tanpa beban saat dirinya dan Jordan pergi.


Melihat tidak ada respons dari Alana, Jordan mengambil kedua tangan Alana ke dalam genggamannya.


Alana tersentak saat merasakan tangannya di tarik oleh Jordan, saat hendak perotes Alana terheran-heran melihat ekspresi Jordan yang lain dari biasanya, Jordan terlihat lebih serius.


“Will you merry me?”

__ADS_1


Alana terkekeh mendengar ucapan Jordan. “Kau pria yang tidak romantis, aku tidak ingin menikah denganmu.”


__ADS_2