Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Terima Kasih Mami


__ADS_3

Alana mengekor Jordan yang berjalan masuk ke rumah, saat bertatapan dengan Nik Alana melihat wajah datar Nik kini terlihat santai.


Langkahnya terhenti, Alana berbalik dan menatap Nik.


“Tolong bawa semua barang-barang milikku dan Arsya,” titah Alana.


“Baik Nyonya.”


Alana berjalan satu meter di belakang Arsya dan Jordan. Dia memperhatikan Arsya yang terus menempel di pangkuan Jordan dengan tangan yang melingkar ke leher Ayahnya.


“Arsya mau mandi, makan atau istirahat?” tanya Jordan dengan lembut.


“Arsya mau istirahat dulu Papi,” jawab Arsya.


Alana melihat Arsya yang dengan manjanya, merebahkan kepalanya di pundak Jordan. “Semoga kamu bahagia, sayang,” batin Alana.


Hatinya merasa tenang melihat kedekatan Arsya dan Jordan, sebagai anak dan Ayah.


Jordan membawa Arsya menuju kamar miliknya bersama Alana. Dia menurunkan Arsya dalam gendongannya dengan perlahan.


“Arsya tunggu di sini ya, Papi mau mandi dulu.”

__ADS_1


“Arsya juga mau mandi, banteng Papi,” pinta Arsya dengan manja.


Jordan mencubit kecil hidung Arsya dengan pelan. “Memangnya Arsya belum mandi?”


Mendapati pintu kamar yang terbuka, perlahan Alana berdiri di ambang pintu kamar yang ia tempati bersama Jordan.


Air matanya mulai menggenang, namun sekuat tenaga dia menahannya.


“Arsya sudah mandi, tapi Arsya mau mandi lagi dengan Papi.”


Jordan mengacak puncak rambut kepala Arsya, “Besok saja ya, kalau Arsya mandi terus nanti sakit kayak kemarin.”


Wajah Arsya murung seketika, “Besok Papi akan temani Arsya jalan-jalan, mau?”


“Ke mana saja yang Arsya mau, Papi akan mengabulkannya.” Jordan tidak tahu sampai kapan Alana dan Arsya akan ada di rumahnya.


“Janji.” Wajah ceria Arsya adalah kebahagiaan yang tidak pernah bisa di tukar dengan apa pun, ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Jordan karena kemarin ia tidak menemani Arsya saat di rumah sakit.


“Iya Papi janji ... Kalau begitu Papi mandi dulu ya.” Setelah mendapat persetujuan dari Arsya Jordan hendak ke kamar mandi. Namun matanya menangkap tubuh Alana yang berdiri di ambang pintu.


Jordan tersenyum tulus pada Alana, “Masuklah.”

__ADS_1


Alana hanya mengangguk, dan berjalan mendekati Arsya. Dia duduk pinggiran tempat tidur, pandangannya jatuh pada kamar mandi yang tertutup.


Alana menghela nafasnya, dia menatap Arsya yang tampak gembira. “Apa Arsya senang?”


“Arsya senang Mami, terima kasih,” ucap Arsya dengan senyum mengembang di wajahnya. Dia memeluk Alana dengan erat, keinginan untuk tinggal bersama dengan Jordan sudah terlaksana.


***


Tengah malam Alana terbangun dari tidurnya, dia melirik Arsya dan Jordan yang masih tertidur.


Dengan perlahan Alana mengelus rambut Arsya. Wajah Arsya tampak begitu tenang, jagoan kecilnya pasti kelelahan beramai bersama Jordan.


Perhatian Alana beralih pada wajah Jordan, helaan nafas keluar dari mulutnya. Jika Arsya tidak memintanya untuk tidur di kamar ini, Alana lebih memilih tidur kamar tamu.


Dia masih ingin menunggu Jordan, berbicara padanya. Mungkin Alana butuh basa-basi dari Jordan, yang jelas Alana tidak ingin memulainya terlebih dahulu.


Alana sudah susah payah, menurunkan egonya masa harus dia juga yang memulai semuanya terlebih dahulu.


Alana bangkit dari tidurnya, karena emosinya mencuat begitu mengingat betapa menyebalkannya Jordan.


Ah dia masih butuh penjelasan tentang wanita yang di panggil sayang oleh suaminya.

__ADS_1


Dengan perlahan Alana berjalan keluar dari kamar, langkahnya tertuju pada kolam berenang di dalam ruangan.


Kolam itu menjadi saksi bisu bagaimana Jordan mengatainya seorang jal*ang. Embusan nafas  keluar dari mulut Alana dengan kasar, dia mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2