Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Venezia


__ADS_3

_Empat Tahun Kemudian_


Mentari pagi menyinari kota yang terkenal dengan sarana transportasi air, di antaranya gondola.


Pagi itu senyum mengembang dari wanita yang bernama Alana tidak pernah pudar, seperti mentari yang terik menyinari kota Venezia.


Venezia adalah Ibu kota Regione Venetoz.


Kota ini terkenal dengan sarana transportasi air, di antaranya gondola.


“Dady buka mulut aaaa,” ucap anak kecil berumur empat tahun menyuapi pria yang duduk di sampingnya.


Pria yang di panggil dady oleh anak kecil itu membuka mulutnya lebar-lebar, siap menerima suapan.


Anak kecil itu lebih senang memberikan suapan pada pria yang dia panggil dady. Namun ucapan wanita bernama Alana mengubah wajah gembiranya.


“Habiskan makananmu Arsya,” perintah Alana dengan tegas.


Pria di hadapan Alana angkat bicara, melihat Arsya tampak murung mendapati teguran dari ibunya. “Biarkan An, mungkin Arsya belum lapar. Kita terlalu pagi untuk sarapan.”


Alana melirik jam di pergelangan tangannya, “Ini sudah pukul Sembilan bang, tidak bisa di katakan pagi.”


“Kita sedang tidak bekerja An, tidak perlu mengatur waktu sedemikian rupa sesuai jadwal. Nikmatilah hari libur kita … sepertinya penerapan waktu secara efektif, sudah mendarah daging padamu.”

__ADS_1


Alana hanya menampilkan senyumnya, untuk menanggapi canda Arvan, pria yang duduk dengan anaknya, Arsya.


“Makan sarapanmu sayang, habis itu kita naik gondola bersama dady,” ucap Alana pada Arsya yang sedang marah, pria kecilnya itu sedang mengerucutkan bibirnya dan menyipitkan matanya.


Mengingat ekspresi itu Alana hanya tersenyum, ada rasa rindu menyelusup ke hatinya.


Namun dengan cepat ia tepis jauh-jauh perasaan itu.


“Kali ini, dady ada di pihak mamimu. Kau harus sarapan sebelum beraktivitas.” Arvan memotong pancake milik Arsya lalu menyupai pria kecil yang tengah merajuk.


“Asya tidak mau makan, dad,” ucap Arsya tanpa mau menoleh ke arah siapa pun. 


Alana menyerah, jika Arsya sudah merajuk seperti itu. Tandanya anak itu belum ingin makan, Alana menikmati keindahan yang ada di sekitarnya.



Banyak hal yang ia lewati selama empat tahun ini, senang dan sedih dia lewati bersama Arsya putra kecilnya. Jika bukan karena Arvan, mungkin Alana tidak akan sekuat sekarang.


Dari kejauhan dua pria menatap Alana dan Arvan serta anak kecil yang sedang merajuk pada orang tuanya.


“Lihat Nik, anakku sudah tumbuh besar.”


Nik tidak menanggapi ucapan tuannya, dia memperhatikan wajah Jordan yang tampak bahagia memperhatikan Alana, Arvan beserta anak kecil yang Nik tahu bernama Arsya.

__ADS_1


Nik melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “Tuan, kita harus segara ke bandara.”


Jordan berdiri dari tempat duduknya, perhatiannya masih fokus pada anak kecil yang masih saja merajuk. Meskipun Arvan sudah berusaha membujuknya.


Nik hanya bisa menghela nafasnya, melihat Jordan yang terlihat bahagia dengan caranya sendiri.


Jordan berjalan di ikuti Nik di belakangnya, jika tidak ada rapat penting yang akan di adakan untuk besok pagi, mungkin Jordan masih ingin berlama-lama menatap wanita yang di cintainya.


Ada rasa tenang melihat Alana tersenyum gembira, Jordan tidak melihat wajah sedih atau wajah tertekan dari perempuan yang dia cintai.


Jordan menghela nafasnya, bayangan Alana menangis dan marah karena ulah kasar Jordan,  selalu berhasil membuat hatinya terasa teriris, merasakan sakit yang mendalam.


“Apa tuan baik-baik saja?” tanya Nik dengan nada khawatir melihat Jordan yang tampak kembali murung dan menampilkan wajah datarnya.


“Aku baik-baik saja Nik.” Jordan menutupi semua luka di dalam hatinya. Selama empat tahun ini dia hidup sendirian tanpa Alana, dengan rasa rindu yang selalu menguasai dirinya.


Namun sekuat tenaga Jordan menahan untuk tidak menemui Alana secara terang-terangan.


Selama satu tahun ini, hatinya sudah tidak bisa di ajak bekerja sama lagi.


Rasa rindu itu menyakati hatinya. Setidaknya dengan melihat Alana dan Arsya dari kejauhan sudah cukup mengobati rasa rindu hatinya.


 

__ADS_1


__ADS_2