
Averyl merasa bosan menunggu Eduard yang sedang mendaki. Sudah satu jam ia duduk dan tidak melakukan apa pun.
Perhatian Averyl tertuju pada ponsel Eduard yang menampilkan panggilan masuk dari Simon. Namun Averyl menghiraukan, karena itu bukan ponselnya dan Averyl tidak ingin lancang.
Sudah panggilan ketiga Averyl menghiraukannya, ia mengambil ponsel Eduard. Averyl ingin menerima panggilan tersebut. Simon tidak mungkin melakukan panggilan sebanyak ini jika tidak ada urusan yang penting.
Tetapi Averyl menyimpan ponsel Eduard ke tempatnya kembali. Averyl ragu, dan takut Eduard marah karena tidak sopan.
Eduard memperhatikan Averyl dari ambang pintu yang terbuka. “Ada apa Averyl?”
“Simon menelepon beberapa kali.”
Eduard menghampiri Averyl dan mengambil ponselnya untuk mengeceknya. Ternyata benar ada tiga belas kali panggilan yang tidak terjawab. Eduard keluar untuk menelepon balik Simon.
Setelah di rasa aman, Averyl tidak mengikutinya Eduard menghubungi Simon.
“Ada apa?”
[Tuan Arsya telah melakukan perjanjian dengan Namira.]
“Tenanglah, jangan terlalu panik. Semuanya akan baik-baik saja.” Setelah teleponnya terputus Eduard mengecek email yang di kirim oleh Simon berisi perjanjian Arsya dan Namira.
“Ada-ada saja anak itu.” Eduard mematikan ponselnya dan berbalik badan, ternyata ada tubuh Averyl yang berdiri beberapa meter di belakang dengan wajah kesal.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Ayok kembali aku lapar,” teriak Averyl.
“Kamu ingin memakanku?” goda Eduard.
“Enggak bercanda, aku serius lapar. Ingin makan papeda ikan kuah kuning.”
Eduard sedikit tercengang dengan permintaan Averyl. “Kamu tidak salah ingin makan papeda?”
***
Eduard menatap empat piring papeda yang sudah habis di makan Averyl.
“Kamu tidak ingin mencobanya?” ucap Averyl sambil menghabiskan papeda yang ada di piring terakhirnya.
Setelah pesannya habis Averyl meminta untuk ke penginapan. Averyl ingin beristirahat, tubuhnya sudah lelah.
Sesampainya di penginapan Eduard memperhatikan Averyl yang tampak menahan sakit. “Kenapa?”
“Perut aku sakit, mungkin karena terlalu banyak makan,” lirih Averyl sambil meringis.
Eduard membantu memapah Averyl untuk naik ke tempat tidur. “Mau aku panggilkan dokter?”
“Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat sejenak.” Averyl merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan perlahan.
“Aku ingin mandi dulu. Panggil saja jika butuh sesuatu,” ucap Eduard. Ia memberikan kecupan di kening Averyl sebelum pergi.
__ADS_1
Badan Eduard yang lengket karena keringat kini sudah terasa segar setelah mandi. Eduard menghampiri Averyl yang masih terlelap di tempat tidur.
Pandangan manik Eduard tertuju pada tangan Averyl yang berada di atas perut. “Apa kamu sudah hadir di sana nak? Tidak biasanya Averyl makan dalam jumlah banyak,” gumam Eduard.
Avery menggeliat, matanya sedikit terbuka ternyata ada Eduard di depannya. “Ed sepertinya sate ulat sagu enak,” ucap Averyl dengan nada pelan. Ia tidak bisa melawan rasa kantuk dan kembali tertidur.
Eduard tersenyum. Baru kali ini ia melihat tingkah laku aneh dari Averyl.
***
Langit sudah mulai menggelap, karena matahari sudah hilang di ufuk timur. Averyl terbangun dari tidurnya, ia menggeliat kan tubuhnya yang kaku.
Indera penciuman Averyl menangkap wangi makanan yang di bakar. Ia keluar dari kamar dan terkejut saat mendapati sate ulat sagu yang tersaji di meja makan.
Averyl duduk. Averyl sudah tidak bisa menahan rasa sabarnya untuk menunda makanan yang di inginkannya. Dengan cepat Averyl mengambil satu tusuk dan memakan tiga ulat sagu sekaligus ke dalam mulutnya.
Rasa sate sagu sedikit mirip seperti rasa sosis bakar. Averyl mencoba mencelupkan sate sagunya pada sambal yang tersedianya di mangkuk kecil. Averyl merasa jika di celupkan pada sambal rasa satenya lebih enak.
Eduard baru kembali ke penginapan setelah berbincang dengan Simon. Ia cukup terkejut saat melihat dua puluh tusuk sate sagu habis di makan Averyl.
“Aku tidak salah melihat?”
“Kenapa?” Averyl bertanya balik, karena ia tidak mengerti maksud dari ucapan Eduard.
“Kamu menghabiskan semua sate sagunya sendiri?” Eduard memandang piring yang kosong.
__ADS_1