
Melihat Alana yang mengerucutkan bibirnya, membuat Jordan semakin gemas melihat tingkah Alana.
“Sudah enggak usah marah, enggak malu apa sudah punya anak juga. Bahkan sebentar lagi tambah satu,” sindir Jordan dengan wajah santai.
Alana mencubit pinggang Jordan dengan sekuat Kekuatannya hingga Jordan meringis kesakitan.
“Aaaw sakit, sayang,” pekik Jordan.
“Enggak usah panggil-panggil sayang,” ketus Alana.
“Jadi boleh aku panggil sayang sama perempuan lain?” tanya Jordan menggoda Alana.
Alana memutar matanya, dia jengah mendengar ucapan berlebihan Jordan. “Terserah!”
Jordan menjepit hidung Alana menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, “Mandi sana, aku malas punya calon istri yang bau kayak kamu.”
Alana berdecap mendengar ucapan Jordan, dia mendorong bahu Jordan. “Minggir aku mau ke kamar mandi,” ketus Alana. Jordan benar-benar memancing emosinya.
__ADS_1
Jordan membawa tubuh Alana ke dalam gendongannya, mata mereka bertemu. Jantung keduanya berdetak tidak karuan karena tatapan saling mengunci yang mereka lakukan. Ingin rasanya Jordan kembali menyentuh tubuh Alana, tapi dia tidak ingin egois. Alana belum makan dari siang, dan itu membuat rasa khawatir Jordan timbul, dia tidak ingin Alana jatuh sakit.
Alana yang di gendong Jordan dengan bridal memilih menyembunyikan wajahnya setelah saling bertatapan. Senyum Alana mengembang mendengar detak jantung Jordan yang tidak karuan, dan untuk pertama kalinya Alana mendengar detak jantung Jordan yang tidak biasa. “Apa benar, Jordan memang mencintaiku?” pertanyaan itu muncul di benak Alana.
Tanpa banyak berbicara Jordan membawa tubuh Alana ke kamar mandi, dia menurunkan tubuh polos Alana di samping bath up. “Jangan terlalu lama, perutmu harus segera di isi.”
Alana mendengar jelas dari ucapan Jordan yang serius, ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban karena perutnya memang sudah meronta minta di isi.
Jordan berjalan keluar, lalu menutup pintu. Perasaan lega karena Alana sudah tidak menolak kehadirannya lagi, dan ia berharap semua akan lebih baik lagi setelah ini.
Jordan mengalihkan perhatiannya saat melihat tubuh seksi Alana di balut handuk berwarna putih. Dengan susah payah Jordan menelan salivanya, hanya melihat tubuh Alana seperti itu saja sudah mampu membangunkan kepemilikannya yang kini terasa sesak di bawah sana.
Dengan santai Alana berjalan menuju nakas yang terdapat makanan yang di pesankan Jordan. “Arsya di mana?” tanya Alana sambil melirik Jordan yang masih duduk di sofa.
“Arsya sudah tidur di kamar sebelah,” jawab Jordan dengan suara serak. Padahal ia sudah berusaha menekan gairahnya, tapi sialnya dia tidak bisa menyembunyikannya dengan mudah.
Alana hanya menganggukkan kepalanya dan mulai memakan hidangan yang di pesan oleh Jordan untuknya. Sebenarnya Alana bisa melihat kilatan gairah dari mata Jordan hanya saja Alana pura-pura tidak tahu, ia sengaja makan dengan gaya sensual tanpa memedulikan Jordan.
__ADS_1
Jordan yang melihat Alana tiba-tiba makan menggunakan tangan membuatnya cukup terkejut, bahkan sekarang gadis kecilnya itu mengem*ut setiap jarinya dengan sangat pelan membuat pusakanya meronta minta di lepaskan.
Jordan bangkit dari tempatnya, ia berjalan menghampiri Alana lalu duduk di hadapannya, dan menatap wanita itu secara intens. Sementara Alana tampak acuh dan sibuk dengan kegiatannya.
Jordan menarik dagu Alana agar melihat ke arahnya. “Sayang, kau menggodaku.”
Alana menangkap kilatan gairah di wajah Jordan. “Aku sengaja,” jawab Alana dengan nada acuh.
“Aku menginginkannya,” pinta Jordan dengan nada memohon.
Alana menatap mata Jordang dengan wajah datarnya, “Tapi aku tidak menginginkannya.”
Jordan mengerang mendengar jawaban Alana, “Itu artinya aku harus mandi air dingin?”
Alana menganggukkan kepalanya, “Mandilah, tubuhmu juga bau. Aku tidak ingin memiliki suami yang bau kayak kamu.”
Jordan berdiri mengecup kening Alana, “Ternyata gadis kecilku sangat pintar memutar keadaan.”
__ADS_1