
Alana menikmati usapan Jordan di atas perutnya, rasanya geli tapi enak. Sebelumnya Alana tidak suka jika masuk angin di olesi minyak, selain geli Alana tidak suka baunya.
Suara ketukan pintu membuat Jordan menghentikan usapan di perut Alana, untuk melihat siapa yang datang. “Ada apa?"
“Kita sudah sampai tuan.”
Jordan masuk tanpa menutup pintu, dia menghampiri Alana. “Sudah sampai, kau bisa jalan sendiri?”
Alana menganggukkan kepalanya, lalu bangkit dan berjalan beriringan bersama Jordan.
Setelah turun dari kapal Alana berjalan dengan Jordan untuk sampai di pesisir pantai. Jembatan kayu menyambut mereka.
Alana menghentikan langkah kakinya, perutnya terasa sakit kembali.
Jordan yang melihat Alana terdiam di belakangnya langsung menghampiri Alana. Tanpa bersuara Jordan menggendong Alana dengan gaya bridal style.
Angin menerpa rambut Jordan yang terlihat rapi, pria itu semakin tampak berkarisma saat menggendong Alana.
Alana menyembunyikan kepalanya di dada bidang Jordan dia malu, terlihat seperti wanita lemah. Alana sengaja melingkarkan tangannya di leher Jordan, Alana penasaran dengan Niko dia melirik Niko yang langsung melihatnya.
‘Ketahuan’ ucap Alana di dalam hatinya. Dia membenamkan wajahnya lagi pada dada bidang Jordan sambil tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Dari kejauhan ada seorang wanita mengepalkan tangannya. Dengan tubuh tegapnya Jordan menggendong seorang wanita yang ia tahu bernama Alana, “Kau milikku Mik,” suara wanita itu terdengar lirih.
Jordan menurunkan Alana di mobil, “Aku harus ke kantor, kau pulang!”
Alana menganggukkan kepalanya, dia tidak mungkin ikut ke kantor Jordan yang ada dia akan habis kena caci maki orang-orang di sana.
Melihat sikap penurut Alana Jordan mencium kening Alana sebelum menutup pintu mobil.
Nik yang melihat sikap lembut tuan mudanya, tersenyum di dalam hati ‘Nona tidak akan pernah menyesal karena mencintai tuan’.
***
Alana berjalan ke luar dia mencari kepala pelayan, saat bertemu kepala pelayan Alana langsung mengungkapkan keinginannya. “An aku ingin makan korean barbeque.”
“Baik nona kami akan buatkan untuk nona,” jawab An tersenyum ramah pada Alana.
“Aku ingin memanggang sendiri,” ucap Alana. ‘Memangnya kau bisa?’ Alana tidak memedulikan pertanyaan di hatinya. Pokoknya dia ingin mencoba memasak sendiri.
“Baik nona kami akan siapkan.”
“Di lantai atas yah,” pinta Alana.
__ADS_1
An mengangguk, “Baik nona.”
“Jangan lama yah An,” ucap Alana memohon, dia sudah tidak sabar.
An tersenyum dan mengangguk.
Alana masuk ke dalam lift, dia masih tidak percaya rumah Jordan sebesar ini untuk apa. Padahal semua aktivitas sepertinya lebih sibuk di lantai bawah.
Sesampainya di lantai paling atas Alana duduk di tempat dia dan Jordan pertama kali makan. Alana tersenyum dia masih ingat saat itu dia gemetar ketakutan.
Alana jadi teringat Jordan dan Niko, dia mengambil ponsel sudah pukul tujuh malam mungkin mereka sudah selesai bekerja. Alana menelepon Niko, ternyata sekretaris Jordan cepat tanggap. “Hallo Nik,” sapa Alana.
“Ada apa nona?”
“Apa tuan dan anda sudah pulang?” Sepertinya ide bagus Jordan dan Nik akan jadi bahan percobaannya.
“Oke, aku menunggu kalian di lantai atas.” Alana langsung mematikan ponselnya, dia sengaja supaya Nik tidak menolak.
Jordan yang mendengar percakapannya melirik Nik.
“Nona menunggu tuan di lantai atas,” jawab Nik sedadanya, karena dia juga tidak tahu apa maksud Alana meminta dirinya dengan Jordan untuk ke lantai atas.
__ADS_1