Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Motor Balap


__ADS_3

Alana hanya bisa mengikuti keinginan Arsya. Menyibukkan diri dengan bermain ponsel bukanlah dirinya, tapi mau bagaimana lagi.


Alana tidak ingin memperhatikan pria yang jelas-jelas sudah mengobrak-abrik hatinya.


Jordan menuntun tangan kecil Arsya, setelah empat tahun Jordan memendam semua keinginannya untuk bertemu Arsya kini terbayar sudah.


Bukan hanya bertemu, bahkan Jordan berhasil memeluk dan kini berjalan dengan jagoan kecilnya.


“Papi Arsya mau ke sana,” teriak Arsya dengan suara khas anak kecil yang tertarik pada sesuatu.


Alana melihat Arsya yang menarik tangan Jordan untuk mengikutinya. Sementara dirinya hanya mengikuti dari belakang.


“Papi Arsya mau mobil itu,” pinta Arysa dengan nada manja dan memohon.


Jordan tidak bisa menolak keinginan anaknya, dia merasa senang karena bisa memberikan hasil kerja kerasnya selama ini untuk membahagiakan putranya.


“Boleh, Arysa mau beli mainan apa lagi?” Tanya Jordan.


Arsya tampak berpikir, dia mulai menelusuri isi toko mainan tersebut.


Wajah Arsya di tekuk, karena dia tidak menemukan keinginannya.


Jordan yang melihat raut wajah sedih Anaknya mencoba bertanya, “Arsya kenapa?”


Arsya memeluk kaki Jordan, lalu menengadahkan kepalanya.


“Arsya mau motor yang besar,” rengek Arsya.


Alana tahu arti motor beras yang di maksud Arsya. “Tidak boleh Arsya!” Tegas Alana.

__ADS_1


Jordan yang mendengar penolakan Alana, menatap wajah Arsya yang mulai menangis.


Jordan membawa Arsya ke dalam gendongannya.


“Papi,” rengek Arsya.


Jordan yang melihat Arsya berlinang air mata dan mengerucutkan bibirnya, tidak tega melihat kesedihan di wajah jagoannya.


“Arsya mau motor besar?” Pertanyaan Jordan langsung di jawab Arsya dengan anggukan.


“Oke. Papa akan beli buat Arsya”


Arsya yang senang mendapat persetujuan langsung mencium pipi Jordan.


“Terima-”


“Enggak, Jordan.” Alana tidak setuju, keinginan Arsya berlebihan.


Jordan menatap Alana, dengan tanda tanya. “Kenapa?”


“Motor besar yang di maksud Arsya itu, motor balapan,” jawab Alana tegas.


Jordan menatap wajah Arsya yang kembali murung, “Anak Papi mau jadi pembalap?” tanya Jordan dengan nada lembut.


Dengan malu-malu Arsya menganggukkan kepalanya.


“Mau warna apa nanti Papi belikan?”


“Arsya mau warna merah Papi,” jawab Arsya dengan antusias.

__ADS_1


“Oke, Papi telepon sekretaris Papi dulu.”


Jordan mengeluarkan ponselnya hendak menelepon Nik.


Alana yang tahu bagaimana sifat Jordan dengan cepat merebut ponsel yang di pegang Jordan dengan cepat.


Jordan terkejut melihat ponselnya yang kini di pegang Alana.


Arsya menggerakkan badannya meminta Jordan melepaskan dari gendongan Papinya.


Jordan menurunkan Arsya, memperhatikan anaknya yang kini mendekat ke arah Alana.


“Mami kembalikan! Itu ponsel Papi,” ucap Arsya sambil memberikan tatapan permusuhan pada Maminya.


Alana memasukkan ponsel Jordan ke dalam tasnya. “Tidak. Ponsel Papi, mami sita,” tegas Alana.


Jordan yang melihat tingkah Alana mencoba menahan untuk tidak tertawa.


Bagaimana bisa Alana berani sekali mengambil barang miliknya, bahkan benda pipih itu di masukan ke dalam tasnya tanpa rasa canggung.


Padahal sedari tadi Jordan tahu Alana bersikap dingin padanya.


Melihat Arsya yang akan menangis, Jordan menggendong Arsya.


“Sini lihat Papi!” pinta Jordan dengan lembut.


Rasa sakit menggelayut di hatinya, saat melihat mata Arysa yang berkaca-kaca.


“Kalau Arsya mau motor besar, Arysa harus besar juga supaya bisa memakainya,” tutur Jordan.

__ADS_1


Arya menampilkan wajah bingungnya, “Bagaimana caranya, Arsya cepat besar Papi?” tanya Arsya dengan rasa penasarannya.


__ADS_2