Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Filio & Fiona


__ADS_3

Alana masuk ke ruang rawat Averyl. Perhatiannya langsung tertuju pada Averyl yang tengah duduk dengan pandangan kosong.


Bahkan keberadaan Alana saja seperti tidak berpengaruh sama sekali pada Averyl.


Alana menarik selimut untuk menutupi kaki Averyl.


“Mam.”


Alana cukup terkejut mendengar suara panggilan dari Averyl, selama satu Minggu ini ia tidak banyak bicara. Selain tersenyum tipis, selebihnya hanya diam dengan pandangan kosong seperti barusan.


“Iya sayang?” sahut Alana dengan senyum bahagianya.


“Apa Eduard ada?”


“Eduard?” tanya Alana memastikan.


“Iya, Averyl ingin bertemu,” ucap Averyl dengan yakin, di iringi senyum tipisnya. Sudah satu Minggu ini ia berpikir, sekarang Averyl sudah menemukan jalan keluar untuk masa depannya bersama anak-anak yang ada di perutnya.


“Tunggu sebentar Mami panggilkan,” Alana berjalan ke luar. Hati Alana sedikit menghangatkan mendengar Averyl mau bertemu Eduard, selama ini Eduard tidak boleh masuk sama sekali.


Alana mendekati tubuh Eduard yang duduk di kursi tunggu dengan punggung yang bersandar, serta kelopak mata yang terpejam. Meskipun rasa marah itu ada di hati Alana, bagaimana pun juga Eduard masih putranya. Ada rasa kasihan melihat keadaan rumah tangga Eduard.


Alana menepuk pelan pundak Eduard. “Ed, bangun. Averyl ingin bertemu.”


Eduard yang mendengar nama Averyl segera membuka matanya. “Mam, ada apa?”


“Averyl menunggumu di dalam.”


Eduard tersenyum lebar, ada secercah harapan yang besar di hatinya untuk bisa memulai semuanya kembali dari awal.


Eduard melangkah dengan penuh keyakinan. Tangannya membuka pintu ruangan Averyl dengan bersemangat. Senyum bahagia terukir indah di wajah Eduard.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Eduard.


Averyl diam, tidak menanggapi ucapan Eduard. Untuk melihat wajahnya saja enggan.


Averyl mengambil berkas yang ada di atas lemari kecil di samping tempat tidurnya. “Tolong tanda tangani.”


Eduard berjalan mendekati tempat tidur Avery. Ia mengambil berkas yang di serahkan Averyl.


Entah kenapa perasaan Eduard tidak karuan. Eduard membuka berkas tersebut dan terkejut melihat surat perceraian.


Eduard menutupnya dengan cepat, ia memandang wajah Averyl. Meskipun wajah Averyl menghadap ke arah lain. “Tidak Averyl.”


Wajah Averyl menoleh ke arah Eduard. “Lalu apa yang kamu mau, kematianku?” tanya Averyl dengan nada tinggi.


Eduard mencoba mendekati Averyl. Ia menarik tangan Averyl ke dalam genggamannya. “Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang aku perbuat sama kamu. Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau, asal kita tidak berpisah,” ucap Eduard dengan nada memohon. Maniknya terus menatap wajah Averyl yang terlihat angkuh.


Averyl menarik tangannya dari genggaman Eduard. Lalu memalingkan wajahnya lagi. Ia tidak kuat melihat wajah Eduard. Ia masih mencintai Eduard meskipun sudah di perlakukan seperti ini.


Benteng yang Averyl kumpulan selama satu Minggu pun hancur berantakan saat mendengar suara lembut Eduard yang meminta maaf.


Averyl mengubah posisi tubuhnya dengan memunggungi Eduard. Averyl tidak ingin Eduard melihat setetes air matanya yang jatuh.


“Tidak ada kesempatan lagi untukmu Ed. Semuanya sudah terlambat, lebih baik cepat tanda tangani perpisahan kita. Kata maafmu tidak akan pernah cukup untuk menghapus rasa sakit hatiku!”


***


“Kakak Fio kembalikan bonekaku,” teriak anak kecil berusia lima tahun bernama Fiona.


Sementara anak yang di panggil Fio terus berlari dengan memegang boneka, sesekali menengok untuk meledak dengan menjulurkan lidah.


Kesenangan Filio sirna seketika saat boneka yang di pegangnya di rampas. “Papa kembalikan,” pinta Filio.

__ADS_1


Fiona segera menerima bonekanya. Lalu menjulurkan lidah meledek Filio.


“Papa enggak asyik,” ketus Filio sambil berlalu pergi.


Melihat kepergian Filio dengan cepat Fiona memeluk pria kesayangannya. “Papa pasti lelah.” Fiona melepaskan pelukannya. “Ayo Pa masuk, Ibu sedang membuat kue di dapur,” ajak Fiona seraya menarik tangan besar Papanya.


“Papa, Fiona mau di gendong,” ucap Fiona dengan nada manja seraya merentangkan kedua tangannya.


Mereka berjalan menuju dapur.


“Ibu, Papa pulang.”


Averyl yang sedang memotong kue menoleh saat mendengar teriakan Fiona. Ia tersenyum melihat pria yang menggendong Fiona.


“Sudah besar masih minta di gendong Papa,” ejek Averyl.


Dengan wajah cemberutnya Fiona terpaksa turun dari gendongan Papanya.


Averyl mengambil piring kecil lalu mengisinya dengan potongan kue dan memberikannya pada Fiona. “Tolong berikan pada kak Fio ya,” ucap Alana lembut.


“Baiklah.”


Averyl hanya tersenyum kecil melihat putri keduanya. Meskipun Fiona sering bertengkar dengan Filio tapi dia tidak akan pernah menolak jika di mintai pertolongan.


Averyl menyajikan kue yang di buatnya dengan secangkir coklat panas.


“Averyl.”


Mendengar namanya di panggil Averyl mengurungkan niatnya untuk meminum coklat panas miliknya. “Ada apa?”


“Masa tahanan Eduard sudah selesai. Besok dia bebas.”

__ADS_1


***


Aku lagi pengen main tebak-tebakan, hayo tulis di kolom komentar kesimpulan bab ini sesuai isi kepala kalian 😘


__ADS_2