Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Orang Tua Alana


__ADS_3

“Luruskan kakimu!”


Alana mengikuti perintah Jordan untuk meluruskan kakinya. Kini Alana memperhatikan Jordan yang sedang mengganti perban di kakinya.


“Pastikan perbanya selalu kering, supaya luka kamu cepet sembuh!”


“Baik tuan.”


Jordan menghentikan aktivitasnya dan menatap Alana. “Jordan, panggil Aku Jordan! Saat kita berdua.”


“Baik tu-“ melihat Jordan memberikan tatapan tajam dengan cepat Alana mengoreksinya, “Jordan.”


“Good gril.” Puji Jordan dan kembali fokus pada luka-luka di kaki Alana.


“Aaaw,” ringis Alana saat Jordan mengoleskan sesuatu pada luka di kakinya.


“Sakit?” tanya Jordan dengan nada khawatir.


Alana tersenyum seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Jordan mengoleskan salep nya dengan sangat hati-hati agar gadisnya tidak memekik kesakitan seperti barusan. “Done,” Jordan bangkit dari duduknya untuk menyimpan salep milik Alana di atas nakas.


“Terima kasih ... Jordan.”


“Hanya ucapan terima kasih, tidak ada yang lain?”

__ADS_1


Alana menggelengkan kepalanya, “Memangnya Jordan mau apa?”


Ucapan Alana terdengar sangat kaku saat menyebut namanya, mungkin gadisnya belum terbiasa. “Mendengar kisahmu, setelah kepergian orang tuamu!”


Alana menelan ludahnya dengan susah payah, sebenarnya dia tidak suka membagi kisah pahit hidupnya. Tapi sekarang ini tuan muda sudah sangat terlalu baik padanya, ada rasa tidak enak hati jika menolaknya. “Empat tahun yang lalu, tepatnya saat kelulusan sekolahku, Ayah dan Ibu mengalami kecelakaan. Nyawa mereka tidak tertolong,” ucap Alana sambil menundukkan kepalanya.


Rasa sakit itu menjalar di hatinya, dia mencoba menahan gejolaknya agar tidak menangis di hadapan Jordan. “Setelah itu aku harus mencari pekerjaan, bermodalkan ijazah SMA. Karena pemerintah sudah tidak membiayai anak PNS yang sudah lulus sekolah.”


“Jadi Ayahmu PNS?” Jordan mulai penasaran dengan cerita Alana.


“Iya, salah satu guru di tingkat sekolak dasar.”


“Lanjutkan!” titah Nathan.


“Setelah melamar pekerjaan aku hanya di terima bekerja sebagai pelayan toko. Sayangnya bekerja sebagai pelayan toko tidak mencukupi kebutuhanku, karena aku harus bayar kontrakan.” Alana merebahkan tubuhnya, dia menatap langi-langit kamarnya.


“Sebelumnya punya, tetapi di jual oleh pamanku. Katanya untuk membayar hutang biaya perawatan Ayah dan Ibu selama di rumah sakit.”


Jordan memperhatikan wajah Alana yang berbeda dari biasanya, dia tau hidup yang di jalani Alana tidaklah muda setelah kepergian orang tuanya.


“Kapan kau bekerja di perusahaanku?”


“Satu tahun yang lalu, sebelumnya aku juga pernah bekerja di kantor lain jadi office girl juga.”


Jordan ikut merebahkan tubuhnya di samping Alana. “Memangnya kau tidak punya bakat lain?”

__ADS_1


Alana menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama dia tersenyum, “Aku punya bakat.”


“Apa bakatmu?” Jordan memiringkan kepalanya melihat wajah Alana.


“Nongkrong di wanet sampai berjam-jam, hehe.” Alana terkekeh akibat pikiran absurdnya.


Jordan yang gemas menjepit hidung Alana di sela-sela jarinya dan menariknya hingga Alana meringis kesakitan.


“Sakit tuan!” keluh Alana sambil menggosok-gosok hidungnya.


“Aku tidak bodoh Alana, itu bukan bakat!” tegas Jordan.


Alana mengerucutkan bibirnya, “Iya aku tahu, aku tidak punya bakat apa pun. Makanya aku hanya bekerja seadanya sesuai kemampuanku!”


“Harusnya dari dulu kau jual tubuhmu padaku!”


Alana membulatkan matanya, dia mencubit pinggang Jordan dengan sangat kuat. “Aku bukan wanita murahan seperti yang kau pikirkan. Aku masih punya harga diri!” ucap Alana dengan lantang.


Tapi kini Alana memejamkan matanya, “Harga diriku hilang saat kau mengambil mahkotaku.”


Jordan mendengar suara Alana yang bergetar, menahan tangis. Dia membawa Alana ke dalam pelukannya, memeluk gadisnya dengan sangat erat.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2