Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Beralasan


__ADS_3

Jordan menangkup pipi kecil Arsya dengan kedua tangan besarnya. “Sini liat Papi, sayang,” ucap Jordan sambil berusaha menampikan senyumnya meskipun hatinya sakit melihat Alana yang diam tanpa bersuara.


Air mata Arsya masih turun deras, tapi tidak ada suara isak tangis yang keluar dari mulut kecilnya karena ia menahannya.


“Papi harus bekerja supaya bisa belikan mainan untuk Arsya, setelah Papi punya uang yang banyak Papi akan temani Arsya tanpa harus bekerja lagi.”


Arsya menatap wajah Jordan dengan saksama, “Papi janji nanti harus main seharian sama Arsya, enggak boleh bekerja.”


Jordan mengangguk kecil, dengan lembut di hapusnya sisa air mata Arsya. “Iya papi Janji enggak akan bekerja kalau sudah punya uang banyak, Papi akan temani Arysa bermain seharian. Sekarang papi pulang yah, nanti Papi belikan mainan yang banyak buat Arsya.”


Arsya memeluk Jordan melingkarkan lengannya di leher Papinya. “Arsya sayang Papi,” ucap Arsya tanpa melepaskan pelukannya.


Jordan mengelus punggung Arsya, “Papi juga sayang Arsya.”


Arsya melepaskan pelukannya, “Papi sayang Mami?”

__ADS_1


Jordan tertegun mendengar pertanyaan Arsya, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Sayang.”


Arsya tersenyum gembira, ada rasa bahagia yang membuncah di hatinya melihat ucapan tulus dari Jordan. 


Arsya pernah bertanya pada Dady Arvan, tapi ia masih ingat Dady hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Setidaknya Arsya tahu sedikit, bahwa dia bersama Alana cukup berarti bagi Jordan.


Alana yang ada di sana sangat jelas mendengar ucapan Jordan dan Arsya. Tapi dia berusaha menampilkan wajah datarnya, “Jangan hanya karena ucapan sayang kamu jadi lemah Alana. Bisa saja Jordan berbicara seperti itu karena ingin menyenangkan Arsya,” batin Alana berusaha menyangkal isi hatinya yang gembira mendengar jawaban Jordan.


“Papi janji yah jangan lama cari uangnya, Arsya mau main sama Papi cepat-cepat.”


Arsya menautkan kelingking kecilnya pada kelingking Jordan. “Jangan lama Papi,” rengek Arsya dengan suara manja.


Jordan mengecup kening Arsya, “Iya enggak lama.” Jordan melepaskan tautan kelingkingnya dan berjalan meninggalkan kediaman Alana.


Melihat Arsya yang masih diam di tempatnya Alana menghampiri jagoan kecilnya, di dekapnya Arsya dalam pelukan hangat. 

__ADS_1


“Mami sayang Papi?” tanya Arsya dengan suara lirih.


Alana tersenyum mendengar jawaban Arsya, tapi tidak mengeluarkan suara. Hatinya masih sakit, meskipun ia melihat ketulusan Jordan yang menyayangi Arsya.


Arsya yang tidak puas mendapat jawaban Alana kembali bertanya, “Mami kenapa enggak sayang Papi?” 


Alana menelan salivanya, senyum di wajah yang ia tampilkan sirna seketika. Di dekapnya tubuh Arsya lebih erat, satu butiran bening meluncur dari kelopak matanya namun dengan cepat ia menghapusnya.


“Papi jahat Mam?”


Alana menggelengkan kepalanya, dia menatap wajah Arsya yang tampak serius. “Memangnya menurut Arsya Papi jahat?”


Arsya menggelengkan kepalanya, “Papi enggak jahat, Papi sayang Arsya sama Mami. Tapi kenapa Mami enggak pernah bicara sama Papi, sementara sama Dady Mami selalu mengobrol.”


Pertanyaan Arsya benar-benar mengintimidasinya, memang selama ini ia lebih dekat dengan Arvan. Tidak bisa di katakan ada hubungan spesial, ia hanya menganggap Arvan adalah kakak. Malaikat penolongnya, sudah banyak yang Arvan lakukan untuk Alana dan Arsya. Membuat mereka lebih terbuka satu sama lain, seperti layaknya saudara.

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu di bicarakan antara Mami dan Papi, sementara dengan Dady, Mami bekerja banyak pekerjaan yang harus di bicarakan berdua.” Alana mencoba memberikan pengertian yang masuk akal, dia tidak ingin Arsya tahu luka di hatinya yang di timbulkan Jordan. Mengingat itu tiba-tiba air mata Alana meluncur, ia merasakan tangan kecil Arsya menghapus air matanya.


__ADS_2