
Averyl bergantian memandang Arsya dan Eduard yang bersitegang saling melayangkan ucapan pedas. “Silakan kalian saling membunuh, dan aku akan terbebas dari hutang. Ya aku rasa itu lebih baik,” ujar Averyl dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Eduard tidak tinggal diam, ia menyusul Averyl dengan langkah lebarnya. “Silakan nikmati waktu kalian berdua, sebelum Averyl menjadi milikku seutuhnya!” Mendengar teriakan Arsya yang melengking, Eduard membalikkan tubuhnya dan memandang sengit pada Arsya. Sementara Arsya tersenyum melihat Eduard menarik Averyl masuk ke dalam mobil. “Permainan ini menyenangkan juga. Kapan lagi aku membuatnya marah, anggap saja ini balasan untuknya!” gumam Arsya.
Averyl menahan tubuh Eduard yang hendak masuk. “Untuk apa masih di sini. Pergi sana!”
Eduard mencondongkan tubuhnya pada Averyl. “Pindah ke kursi penumpang, biar aku yang menyetir.” Dengan jarak yang terlalu dekat ada debaran aneh di dalam dadanya. Embusan nafas serta aroma parfum Eduard cukup menyengat di hidung Averyl. Terpaksa Averyl mengalah. Ia berpindah ke kursi penumpang yang berada tepat di samping kursi kemudi.
Mobil mulai melaju menyusuri jalanan lenggang. Averyl melirik Eduard yang fokus pada kemudiannya. “Aku ingin pulang, kau mau membawaku ke mana lagi?”
“Kita belum makan malam,” jawab Eduard tanpa melirik Averyl. Mendengar jawaban Eduard yang cukup singkat dan jelas, Averyl tidak banyak bicara. Perutnya kosong dan ia tidak memiliki bahan makanan di rumah. Lebih tepatnya Averyl paling malas jika harus berjibaku di dapur setelah penat dengan urusan kantor.
Mobil yang di kendarai Eduard menepi di sebuah resto. Averyl tidak banyak protes soal tempat makan yang di pilih Eduard. Mereka masuk dan duduk di meja yang kosong dekat jendela.
Seorang pelayan tersenyum ramah dan menawarkan beberapa menu andalan. Setelah selesai mencatat pesanan Eduard dan Averyl pelayan tersebut meninggalkan meja. Keadaan menjadi hening, Averyl meneliti desain resto yang bertema scandinavian. Averyl mengakui selera Eduard bagus.
__ADS_1
Ekhem!
Deheman Eduard berhasil menginterupsi kegiatan Averyl yang meneliti desain resto. Averyl menatap Eduard seraya menaikkan satu alisnya.
“Siang tadi aku melihat Arsya menyuapimu.” Raut wajah Averyl terlihat biasa saja saat mendengar pernyataan Eduard, Averyl menatap Eduard dengan saksama. “Aku rasa itu bukan urusanmu,” jawab Averyl dengan nada santai.
“Itu memang bukan urusanku, tapi aku tidak suka melihat wanitaku di suapi orang lain,” ucap Eduard. Ia menatap serius manik Averyl.
Averyl tersenyum kecut. “Harus aku tegaskan bahwa diriku hanya milikku sendiri, bukan milikmu atau milik Tuan Arsya!”
“Baiklah, biar nanti aku buktikan seorang Averyl Samantha akan bertekuk lutut di hadapanku.” Ucapan percaya diri Eduard di jawab dengan raut wajah meremehkan milik Averyl.
Averyl tersedak saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan Eduard. Bagaimana bisa Eduard mengetahui hal itu. Ia menerima gelas berisi air dari tangan Eduard dan meminumnya untuk melegalkan tenggorokannya yang perih.
Melihat Averyl yang sudah lega tawa Eduard mengundang pertanyaan dari Averyl. “Kenapa kau menertawaiku, barusan itu hal yang tidak lucu!”
__ADS_1
“Memang tidak lucu, aku hanya teringat wajah tegangmu saat di suapi Arsya.” Senyum mengejek yang di tunjukkan Eduard berhasil membuat Averyl sedikit salah tingkah, itu kali pertama ia di suapi seorang laki-laki wajahnya pasti tidak terkontrol.
Averyl membanting gelas pemberian Eduard ke atas meja, ia baru tersadar bahwa minuman yang di berikan Eduard bukan milik Averyl. Karena gelas Averyl masih utuh di samping gelas yang sudah ia minum. “Kenapa kau memberikan minummu, aku tidak sudi menerima air liurmu!”
“Tidak usah berlebihan aku hanya meneguk minumanku satu kali saja,” jawab Eduard santai. Ia kembali menikmati makanannya.
“Tetap saja aku tidak mau.” Averyl tidak ingin kalah berdebat dengan Eduard yang berhasil membuat dirinya tersedak dan terpaksa menerima air liur pria yang membuat hidupnya runyam.
“Averyl itu hanya air liur, bahkan kita sudah pernah berbagi cairan kenikm*atan.” Bahkan kau sudah pernah mengandung darah dagingku.
Kali ini Averyl merasa ucapan Eduard sudah tidak bisa di toleransi. Ia memukul dada bidang Eduard dengan tasnya, namun Eduard berhasil menahan serangan Averyl dan mengambil alih tas Averyl yang kini dalam genggamannya.
Amarah Averyl semakin menjadi, ia tidak dapat melampiaskan emosinya. Averyl bangkit dan berjalan meninggalkan Eduard yang masih duduk tenang di kursinya.
Averyl berjalan ke tempat parkir menuju mobilnya. Namun saat di depan mobilnya Averyl baru teringat kuncinya masih ada pada Eduard. Tangan Averyl mengepal Eduard benar-benar menyebalkan, dan patut di benci.
__ADS_1
Averyl mengambil langkah lain. Ia berjalan menuju jalanan untuk naik taksi, namun saat ia hendak menghentikan taksi ia menarik kembali tangannya yang hendak melambai. Averyl merasa sangat bodoh kenapa bisa ia lupa merebut tasnya kembali dari Eduard. “Bodoh! ... bodoh!” umpat Averyl. Ia jadi tidak bisa pulang, dompet dan kunci apartemennya ada di dalam tas. Dan ia tidak mungkin kembali ke dalam. Averyl tidak ingin kehilangan harga dirinya.
Akhirnya Averyl berdiri di trotoar tanpa melakukan apa pun. Ia mencoba memikirkan cara untuk bisa pulang selain masuk ke dalam. Namun sebuah tangan besar yang melingkar di perutnya membuat Averyl sedikit terkejut. “Maaf karena telah membuatmu marah,” ucap Eduard tepat di daun telinga Averyl. Eduard berhasil membuat seluruh tubuh Averyl menenggang dan ia sedikit kesulitan menenangkan debaran jantungnya hanya karena perlakuan Eduard yang tidak biasa.