Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Kotak Makan


__ADS_3

Tulang kaki  Averyl menjadi lemas, dan tidak mampir menopang bobot tubuhnya saat mendapat sebuah kecupan di pipinya. Serangan Eduard yang bertubi-tubi membuat Averyl ingin memiliki jurus berpindah tempat milik Naruto.


“Apa kau tidak ingin menjawab permintaan maafku?” tanya Eduard. Averyl tidak bisa melakukan apa pun selain mematung dengan pipi yang sedikit memerah. Ia tidak ingin menunjukkan suara gugupnya pada Eduard. Itu akan sangat memalukan, diam saja Averyl jangan di jawab.


“Kerena kau diam saja aku anggap kau memaafkanku.” Eduard melepaskan pelukannya dan menarik tangan Averyl agar mengikutinya. Mereka masuk ke mobil. Di dalam mobil wajah Eduard terlihat biasa saja, sementara wajah Averyl masih terlihat memerah.


Eduard tidak bisa tinggal diam melihat Averyl yang diam dengan posisi menunduk.  Eduard menghentikan mobilnya saat lampu jalanan berubah menjadi merah, ia memperhatikan Averyl. “Apa kau masih lapar, kira cari makanan penutup. Kau pasti masih lapar karena makananmu masih tersisa banyak tadi.” Masih dengan posisi menunduknya Averyl menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku ingin pulang Ed.”


Dari suaranya Eduard tahu ada yang tidak beres dengan Averyl. Namun ia sedikit senang mendengar panggilan untuknya yang keluar dari mulut Averyl. “Apa kau masih marah padaku?”


“Tidak,” jawab Averyl. Ia menegakkan tubuhnya dan mengikat rambutnya kembali. Averyl memosisikan tubuhnya menyender dan menatap ke samping kaca mobil. Ia memejamkan matanya, untuk saat ini ia tidak ingin berbicara. Jantungnya masih berdetak cukup kencang, ia harus berusaha menstabilkannya dan menganggap kejadian barusan tidak pernah terjadi dalam hidupnya.


Sesampainya di basemen apartemen, Averyl keluar lebih dulu di ikuti Eduard yang keluar dan berjalan menghampiri Averyl.  Dengan berat hati Eduard memberikan kunci mobil milik Averyl. “Terima kasih,” ucap Eduard.


“Iya.” Averyl menerima kunci mobilnya dan berjalan meninggalkan Eduard. Dari tempatnya berdiri Eduard hanya memandang punggung Averyl yang mulai menjauh. Andai saja besok jadwalnya tidak penuh rasanya ia masih ingin mengganggu kegiatan Averyl.


Dari ekor matanya Averyl melihat mobil yang menjemput Eduard. Saat Averyl masuk ke dalam lift ia dapat menyaksikan Eduard yang masuk ke dalam mobil. Helaan nafas lega keluar dari mulut Averyl, setidaknya Eduard tidak akan mengganggunya lagi.


***

__ADS_1


Siang itu Averyl tengah berada di ruangan Arsya. Ia memberikan berkas-berkas yang harus di tandatangani oleh Arsya.


“Semalam kalian melakukan apa saja?” Averyl menatap wajah Arsya, “Makan malam.”


“Benarkah hanya makan malam saja?” Melihat anggukan kepala Averyl sebagai jawaban, Arsya mencoba mendesak untuk memastikan penglihatannya semalam tidak salah. “Saya melihat Eduard memelukmu di trotoar.”


Averyl cukup terkejut mendengar penuturan Arsya. Bagaimana bisa Arsya kebetulan lewat begitu saja, “Apa Tuan mengikutiku?”


Arsya bangkit dari duduknya, namun tatapannya masih fokus pada Averyl. “Tidak, untuk apa saya mengikuti kalian. Apa kalian tidak melakukan hal di luar batas wajar?”


Averyl tahu hal di luar batas wajar yang di maksud Arsya adalah berhubungan int*im. “Itu adalah sebuah kebodohan jika aku melakukannya.”


“Tidak Tuan saya masih memiliki pekerjaan yang harus segera di selesaikan,” tolak Averyl dengan cara halus. Ia tidak ingin kejadian kemarin terjadi kembali.


“Baiklah kalau begitu, jangan melupakan makan siangmu.” Averyl tersenyum formal dan mengangguk. “Baik Tuan.” Mereka beriringan keluar dari ruangan Arsya. Saat Averyl masuk ia cukup terkejut saat mendapati sebuah kotak makan berada di atas meja kerjanya. Averyl mengambil secarik kertas yang berada di atas tempat makan. “Habiskan, aku tidak ingin memiliki calon istri yang terlalu kurus,” ucap Averyl membaca deretan kata yang berhasil membuat dahinya berkerut.


Averyl membuka kotak makan tersebut, ia cukup terkejut saat mendapati isi kotak makan tersebut adalah menu yang di pesannya semalam saat makan bersama Eduard.


Ting!

__ADS_1


Sebuah notifikasi datang di ponselnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. [Maaf karena ulahku kau jadi tidak bisa menikmati makan malam mu] Pengirim pesan tersebut Averyl yakini adalah Eduard.


Pipi Averyl terasa memanas saat ingatannya kembali pada kejadian semalam saat Eduard mengecup pipinya. Averyl menepuk-nepuk pipinya, “Sadar Averyl, jangan banyak bermimpi. Ini dunia nyata!”


Averyl menutup kembali kotak makan tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Averyl menatap secarik kertas yang masih di genggamannya, ia meremasnya dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia berjalan kembali ke meja kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya.


Jam kerja sudah usai Averyl ingin cepat sampai di apartemennya. Pikirannya cukup kacau hari ini, karena kepalanya terus di penuhi kejadian semalam bersama Gumelar Eduard. Bahkan ia tidak sadar tidak sempat mengisi perutnya karena jam istirahat sudah usai.


Sesampainya di apartemen Averyl masuk. Ia membuka sepatunya dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia juga melemparkan tasnya ke kursi santai. Saat Averyl hendak ke dapur untuk mengambil minum ia cukup terkejut melihat punggung seorang pria yang berdiri tegap beberapa meter di depannya.


***


Ada yang tahu siapa pemilik punggung tegap yang tiba-tiba berada di apartemen Averyl?


Hallo selamat malam teman-teman. Setelah di nyatakan positif dan harus isoman mood nulisku cukup terganggu. Maaf karena aku menghilang tanpa kabar, dan baru kembali.


Semoga kalian di beri kesehatan dan di jauhkan dari berbagai macam penyakit.


Sampai jumpa di bab selanjutnya, semoga hari kalian menyenangkan 💕

__ADS_1


__ADS_2