Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Coklat Layak Konsumsi


__ADS_3

Alana menghentikan tawanya setelah cukup puas, dia memandangi Jordan dengan serius.


“Aku ingin perjanjian di atas kertas, apa yang kau ucapkan sekarang bisa berubah jika tidak ada bukti yang kuat!”


“Baik.” Jordan merogoh ponselnya untuk menghubungi Nik. “Bawa surat perjanjian yang kau buat!”


Alana memperhatikan Jordan yang menutup telepon lalu menatapnya, “Kalau aku tidak berhasil memberimu keturunan bagaimana?” Alana tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, dia tidak ingin berakhir tragis.


“Kau akan mendapat upah satu juta dolar, dan kau boleh pergi.”


Alana menganggukkan kepalanya, mungkin tawaran Jordan menggiurkan 30% dari kekayaannya itu banyak sekali, apalagi jaminan hidup anaknya akan tercukupi. Kalaupun Alana tidak bisa memberikan anak dia bisa pergi dengan uang pemberian Jordan untuk memulai kehidupannya.


“Oke aku setuju.”


Tidak lama suara seseorang mengetuk pintu, Alana dan Jordan bangkit dari tempat tidur.  Melihat pintu yang terbuka Nik memberikan jalan untuk tuan dan nona. Mereka bertiga masuk ke ruangan khusus rapat.


Lewat tatapannya Jordan menyuruh Nik untuk memberikan surat perjanjian pada Alana. Nik mengangguk dan memberikan map di tangannya untuk Alana baca.


“Silakan nona.”


Alana menerima map dari Nik, dia membaca dengan serius setiap isi di dialamnya. Alana terkejut saat mengetahui jangka waktu di dalam surat itu. “Hanya tiga puluh hari?”

__ADS_1


“Iya nona, tiga puluh hari nona akan di periksa hamil atau tidak, jika tidak sesuai dengan isi perjanjian itu nona bisa pergi membawa satu juta dolar,” jawab Nik.


‘Itu pun kalau tuan muda rela melepaskan nona’ ungkap Nik di dalam pikirannya.


Alana menimbang-nimbang waktunya terlalu cepat, tiga hari lagi Alana akan memasuki haid habis itu masa suburnya akan tiba. Mungkin cukup waktu tiga minggu untuk benih Jordan hinggap di rahimnya.


“Oke aku setuju,” ucap Alana memberi keputusan.


Nik menunjukkan lembaran untuk di tandatangani oleh Alana, setelah selesai. Nik meminta tanda tangan tuan muda.


Jordan bangkit dari duduknya dia menarik Alana untuk keluar bersamanya. Jordan membawa Alana kembali ke kamar mereka.


“Itu coklat layak makan, kau tidak perlu takut keracunan lagi.”


Alana menahan senyumnya, ternyata Jordan benar-benar membelikannya coklat sungguhan, bukan coklat seperti tadi yang sudah tidak jelas bentukannya.


Jordan memperhatikan Alana yang duduk lalu membawa coklat itu ke pangkuannya, dia pun ikut duduk di samping Alana.


Alana mencoba satu coklat, mencoba merasakan manisnya coklat yang lumer di mulutnya. Alana merasa heran, coklat ini beda dari coklat yang dia makan, Alana melihat label harga di pojok bawah toples.


Mulut Alana terbuka sempurna bahkan matanya hampir keluar,  saat melihat angka di dalam label harga tersebut.

__ADS_1


‘Coklat begini seratus dolar?’ ungkap Alana di dalam hatinya. Alana melirik Jordan yang tampak tenang memperhatikannya.


Mata Alana kembali fokus pada coklat di depannya, seratus dolar hanya untuk coklat sementara Alana hanya di beri upah satu juta dolar jika tidak hamil. ‘Mungkin anakku akan senang menikmati harta milik Jordan, aku tidak ingin anakku hidup susah sepertiku’.


Alana merasa tidak salah mengambil langkah, dia akan mendapatkan keuntungan. Anaknya pasti senang menikmati kemewahan ini, dia akan mendapat nilai plus kalau Jordan bisa jatuh cinta padanya.


‘Sepertinya aku harus berusaha keras untuk mendapatkan cinta Jordan, supaya aku bisa merasakan kebahagiaan dalam pernikahan ini’ tekad Alana.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2