
Nita dan Syila menundukkan kepalanya, tangannya mencengkeram map yang dia pegang. “Kami permisi tuan, nona.”
Alana menatap kepergian Syila dan Nita, dirinya belum puas. Mereka melukai hati Alana, dan Alana hanya menghukum mereka dengan sebuah tamparan. Padahal Nita membuat bahunya terasa sakit sekarang, dan Syila membuat wajah Alana kepanasan saat itu.
Pintu ruangan tertutup Nik menghadap Alana, “Nona bukankah tuan sudah menghina nona, kenapa tidak mendapat tamparan juga,” ucap Nik dengan nada tenang.
Jordan yang berdiri di hadapan Nik memberikan tatapan tajam pada Nik, tapi sepertinya sekretarisnya itu sedang kurang ajar padanya.
“Terima kasih Nik, kau sudah mengingatkanku.” Alana menghadap Jordan, mengikis jarak di antara mereka.
Jordan terkejut saat Alana mencium pipinya, lalu berbicara di dekat telinganya. “Hukuman untuk tuan muda yang berani menghinaku tidak lah sulit, hanya berpuasa satu minggu penuh aku rasa cukup,” ucap Alana dengan gaya sensualnya.
Jordan menarik tengkuk Alana, menghisap bibir Alana dengan lembut.
Rencana Nik gagal, dia malah teracuni dengan adegan dewasa tuan dan nona mudanya. Nik berjalan meninggalkan mereka yang masih berciuman, lalu membanting pintu ruangan Jordan.
‘Sepertinya aku harus benar-benar mencari istri.’
Jordan melepaskan ciumannya setelah mendengar suara pintu yang di banting Nik, bola coklat Alana tampak bergairah. “Sepertinya kau belum puas dengan permainan kita semalam.”
Ucapan Jordan membuat pipi Alana bersemu merah, dia mencubit pinggang Jordan pelan, lalu memberikan tatapan tajamnya pada Jordan.
__ADS_1
“Apa bahumu terluka?” tanya Jordan melihat bahu Alana yang terekspos tampak merah.
Alana duduk di sofa, ciuman barusan ternyata mampu menyulut gairahnya, “Sedikit, aku haus.”
Jordan mengambil botol minum untuk Alana, membuka tutupnya sebelum di berikan pada Alana.
“Terima kasih,” ucap Alana sambil menampilkan senyumnya. Tenggorokannya terasa segar, Alana menyimpan botol minum di atas meja.
Jordan mengambilnya lalu menghabiskan sisa minum Alana, “Sepertinya aku suda lama tidak berteriak,” ucap Jordan sambil meraba lehernya.
“Pantas saja mukamu tidak terlalu menyeramkan, sepertinya kurang latihan,” cibir Alana.
Jordan merasa terhina atas ucapan Alana, tapi entah kenapa amarahnya menghilang saat Alana memeluknya. Jordan membelai rambut Alana dengan lembut.
“Untuk apa?” Jordan menarik dagu Alana agar menatapnya.
“Aku merasa kamu melindungiku, dan memberi aku kesempatan untuk membalas mereka.” Mata Alana berkaca-kaca, dia senang dengan sikap Jordan. Pria itu kini terlihat lembut padanya, ‘Apa Jordan mulai mencintaiku?’ pertanyaan itu muncul di benak Alana.
Jordan menatap bola coklat Alana, “Sama-sama sweetheart.”
Alana tersenyum malu-malu mendengar panggilan Jordan yang menggelikan baginya, “Menggelikan, kau harus ingat umur sayang!” protes Alana.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak suka?”
Alana mengangkat bahunya, “Entah lah, panggilan itu cocok untuk anak muda. Kita harus ingat umur.”
“Memangnya umurmu berapa?”
Alana diam, dia menghitung tahun kelahirannya. “Dua puluh tiga, kamu?”
Jordan diam mengikuti gaya Alana saat berpikir dengan menopang dagunya menggunakan tangan kanan. “Masih tujuh belas tahun.”
Alana memukul lengan Jordan, “Enggak ada CEO pecicilan kaya kamu!”
“Sudah bercandanya, nanti kharisma seorang Jordan Mikhael Anderson hilang lagi gara-gara kamu,” tuduh Jordan sambil menekan hidung kecil Alana.
Alana menepis tangan Jordan yang menekan hidungnya, “Kok gara-gara aku?”
Jordan memperhatikan hidung Alana yang kecil. “Apa kau tidak kesulitan bernafas dengan hidung kecilmu itu?”
Alana berkacak pinggang, “Kau sedang menghinaku lagi,” tegas Alana.
“Aku hanya bertanya, sayang,” rayu Jordan.
__ADS_1
Alana membuang mukanya ke arah lain, Jordan menyebalkan juga ternyata.