
“Aku senang bermain-main denganmu sayang. Mari kita lanjutkan permainan ini.” Ucapan dingin Eduard berhasil menambah kengerian dalam diri Averyl. Tamatlah riwayatku.
Averyl memejamkan kedua matanya. Ia merasakan dinginnya pisau yang berada di lehernya. Hatinya ingin memberontak, ia tidak suka berada dalam tekanan orang lain. “Kalau kau ingin mengakhiri hidupku silakan!”
Eduard menarik pisaunya. Ia mendaratkan kecupan di pipi Averyl. “Jangan terlalu serius sayang, aku ingin memberikan penyiksaan yang memabukkan.”
Averyl kini bernafas dengan lega. Saat Eduard menjauh darinya. “Mandilah, aku muak melihatmu memakai gaun itu!”
Derap langkah Eduard bagaikan semilir angin di tengah musim panas. Averyl membersihkan tubuhnya. Setelah selesai acara mandinya ia keluar dan mendapati ruang kamar Eduard yang kosong.
Averyl tidak melihat ada baju untuknya. Akhirnya ia kembali ke walk in closet untuk mencari baju yang biasa di kenakannya.
Baju yang ada di walk in closet semuanya berisi kemeja serta setelan jas milk Eduard. Tidak ada baju perempuan. Ya jelas saja tidak ada baju perempuan karena ini kamar milik Eduard.
Averyl menimbang-nimbang baju yang akan di pakainya. Ia tidak mungkin hanya memakai handuk kimono saja, yang ada habis tubuhnya di kuliti Eduard.
Akhirnya Averyl menarik satu kemeja berwarna hitam milik Eduard. Tubuhnya hampir saja tenggelam dalam baju tersebut. Namun Averyl tidak kehabisan akal, ia sedikit menggulung lengan kemejanya yang terlalu panjang.
Tubuh Averyl terasa pegal-pegal karena hari ini ia harus berlari dengan jarak yang cukup jauh demi menghindari kejaran sopir Gumelar. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang cukup empuk dan nyaman. Matanya Terpejam menikmati kenyamanan yang di rasakannya hingga tanpa sadar Averyl ketiduran.
Sementara di sisi lain Eduard berjalan menuju kamar dengan menenteng paper bag berisi baju untuk Averyl. Saat pintu di buka Eduard mendapati tubuh Averyl dengan posisi terlentang di atas tempat tidurnya. Seulas senyum muncul di bibir Eduard saat melihat Averyl mengenakan kemeja miliknya. Bagian tubuh Averyl yang tidak terbalut kemeja tampak sangat kentara berwarna putih, karena kemeja hitam yang di pakainya.
Eduard menaruh paper bag yang di bawanya ke atas lemari kecil yang ada di samping tempat tidur. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh Averyl.
Eduard keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang kerja untuk mengurus beberapa pekerjaan yang belum di selesaikannya.
__ADS_1
***
Averyl meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Perlahan ia ingin membuka kelopak matanya, namun rasanya sangat lengket untuk sekedar terbuka akhirnya kelopak mata Avery menutup sempurna kembali . Tidak biasanya ia tidur senyaman ini, andai saja perutnya tidak berbunyi rasanya Avery ingin menghabiskan waktunya di balik gulungan selimut.
Averyl merasakan aroma berbeda dari kamar di apartemennya. Kelopak matanya langsung terbuka sempurna ia baru sadar kalau dirinya masih berada di kediaman Eduard.
Averyl memandang selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Seingatnya ia tertidur tanpa sempat menarik selimut lalu siapa yang memakaikannya selimut. Pandangan Averyl tertuju pada sebuah paper bag yang menarik perhatiannya. Ia mengambilnya dan melihat apa yang ada di dalam paper bag tersebut. Ternyata isinya baju.
Averyl mengeluarkan baju tersebut memandang gaun selutut dengan desain simpel, berwarna merah muda. Rasanya Averyl sedikit jijik, selama ini ia tidak suka dengan warna merah muda. Tetapi dari pada memakai kemeja Eduard yang kebesaran di tubuhnya, gaun itu lebih baik.
Setelah memakai gaun tersebut Averyl hendak keluar dari kamar Eduard, untuk mencari keberadaan siapa saja. Tetapi ia lebih berharap dapat bertemu Simon. Pria itu sudah berjanji akan mengantarkannya pulang.
Keberuntungan berpihak pada Averyl. Baru saja berjalan beberapa langkah dari kamar Eduard ia mendapati asisten Eduard yang berjalan di depannya.
Karena merasa terpanggil Simon membalikkan tubuhnya. Ia melihat Averyl melambai padanya. “Ada apa Nona?”
Averyl berjalan mendekat ke arah Simon. “Antarkan aku pulang, kau sudah berjanji akan mengantarkanku ke apartemen.”
“Nona ingin pulang?” Averyl mengangguk antusias.
“Mari berpamitan pada Tuan Eduard terlebih dahulu.” Averyl mengikuti langkah Simon untuk mencari keberadaan Eduard.
Ternyata Eduard ada di ruang makan. Tengah menikmati secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
“Putri tidur sudah terbangun.” Sindiran Eduard terdengar dingin di telinga Averyl. Sementara Averyl menampilkan sikap tidak peduli dengan ucapan Eduard. Kini ia hanya ingin pergi dari kediaman Eduard dan kembali ke apartemen miliknya.
__ADS_1
“Tuan, Nona Averyl ingin berpamitan untuk pulang.” Ucapan Simon sungguh menggelitik di telinga Eduard. Ia menatap wajah Averyl yang tampak tenang.
“Averyl kau sekarang milikku. Karena Gumelar sudah menjualmu kepadaku. Dan aku telah membayar mahal, jadi sekarang kau harus menuruti semua keinginanku.”
Refleks Averyl sungguh luar biasa. Ia menggebrak meja makan yang ada di depannya dengan kekuatan penuh. “Apa-apaan, kau pikir aku barang yang bisa di perjual belikan. Aku tidak terima! ... Ini hidupku kau tidak berhak mengaturnya sesuai keinginanmu.”
Ucapan Averyl yang berapi-api bagaikan sebuah bendera yang berkibar gagah di atas tiang. Namun ia lupa bahwa kini hidupnya ada di dalam genggaman Eduard.
“Kalau kau bisa mengganti uang yang aku keluarkan untuk membelimu, maka aku akan memberimu kebebasan.”
Tawaran yang sangat menyenangkan bagi Averyl. “Berapa uang yang harus aku ganti?”
“Sembilan ratus juta dolar,” jawab Eduard sambil tersenyum meremehkan Averyl.
Averyl terkejut bukan main mendengar jawaban Eduard yang di luar perkiraannya. Ia tidak menyangka Eduard akan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membelinya. Tabungan Averyl saja sudah sangat tipis. Dan sekarang ia hanya seorang pengangguran. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk mengganti uang yang di keluarkan Eduard.
“Jika dalam dua puluh empat jam kau tidak bisa menggantinya. Kau harus mau menikah denganku!”
Tidak. Averyl tidak ingin menjadi budak Eduard. Pernikahan yang penuh dengan cinta saja enggan untuk Averyl arungi. Apalagi pernikahan dengan penuh paksaan seperti ini, jelas-jelas Averyl akan menolaknya mentah-mentah. Namun ia tidak tahu harus meminjam uang sebanyak itu pada siapa.
***
$900.000.000 itu kalau di rupiahkan Rp12.944.880.000.000,00.
Ada yang punya uang sebanyak itu enggak ? tolong dong kasih pinjam Averyl kasihan 😭
__ADS_1