
Alana sudah mulai tenang dia menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya. Alana bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah pagar pembatas yang memiliki ketinggian sebatas perutnya.
Alana memandang laut lepas di depannya, gelap persis seperti hatinya. Hanya deruan ombak yang menjadi teman Alana di keheningan malam.
Alana menengadahkan wajahnya ke langit yang tampak cerah. Bulan yang bersinar sempurna di temani taburan bintang yang menghiasi langit malam itu.
Jika di ibaratkan Jordan sebagai bulan yang bercahaya mampu menyinari bumi, mungkin Alana hanya sorang bintang yang tidak akan pernah bisa mendampingi Jordan, hanya matahari yang mampu menyinari bumi di siang hari yang pantas bersanding dengan bulan.
Surat nikah yang sah di mata negara tidak bisa mengubah status Alana yang sebagai penghangat ranjang. Alana sadar diri dia tidak pantas menjadi istri CEO MA Group, dia tidak layak untuk di jadikan ratu. Kalau pun Alana bisa mengubah dirinya menjadi ratu, memang Jordan mau menganggapnya.
Bahkan barusan dia mengatainya jal*ng, hanya karena Alana menatap tubuh seksi Jordan.
Sungguh sangat keterlaluan, Alana merasa sangat terhina, meskipun kenyataannya dia hanya penghangat ranjang Jordan.
Ingat Alana kau hanya penghangat ranjang, senyum miris terlukis di bibir Alana.
Satu bulir air mata Alana keluar dari kelopak matanya, hatinya sakit.
__ADS_1
Kenapa aku harus mencintai pria seperti Jordan, bahkan dia tidak mencintaiku.
Butiran air mata Alana berlomba-lomba meluncur membasahi pipinya.
Alana mendengar langkah kaki seseorang di belakangnya, sepertinya pemilik kaki itu berdiri di belakang Alana dengan jarak satu meter.
“Maaf.”
Alana tahu siapa pemilik suara itu, Jordan. Alana tersenyum sini, bahkan setelah mengatainya jal*ang pria itu hanya meminta maaf.
Alana memilih diam, dia memandangi lautan yang gelap. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di belakang tubuh Alana.
Alana melepaskan tangan Jordan yang memeluk perutnya, dia berbalik menghadap Jordan. Di dalam taman yang gelap Alana dengan berani menatap bola hitam itu, masih terlihat datar tanpa rasa bersalah.
Alana menghembuskan nafasnya dia berjalan meninggalkan Jordan, dia berlari menuruni undakan tangga dan masuk ke kamarnya. Alana mengunci pintu kamarnya, dia tidak ingin bertemu dengan Jordan.
Hatinya sakit, Alana sangat kecewa. Sementara Jordan bisa setenang itu tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Ya tuhan terbuat dari apa hati Jordan, kenapa sekeras itu.
Alana menghapus air matanya dengan kasar, dia berjalan menuju kamar mandi.
Alana berharap berendam air hangat akan membuat hatinya ikut menghangat, Alana memejamkan matanya menikmati sensasi hangat dan aroma sabun yang di pakainya.
Tetapi tetap saja, ucapan Jordan yang mengatainya jal*ang bagaikan kaset rusak yang terus berputar di kepalanya.
Alana bangkit dari bath up ternyata air hangat tidak bisa menghilangkan ucapan Jordan dari kepalanya. Alana membersihkan tubuhnya, dia memakai handuk kimono dan berjalan keluar.
Ada suara seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, Alana mengabaikannya. Dia memilih baju tidur dan memakainya.
Tubuhnya terasa lelah, seharian ini begitu banyak drama yang menghiasi harinya. Alana merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya berharap mimpi yang indah akan menyambutnya.
Jordan mengetuk pintu kamarnya yang di kunci oleh Alana, dia mengetuk pintu yang terakhir kali. Berharap Alana akan membuka pintu dan menyambutnya.
***
__ADS_1
Mimpi aja kamu Jorjor!