Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Bimbang


__ADS_3

“Kamu baik-baik saja sayang?” tanya Alana. Ia melihat luka di pelipis Averyl. “Ini kenapa?”


“Averyl baik-baik saja mah, ini hanya terbentur sudut meja karena Averyl tidak hati-hati.”


Alana terdiam memandangi luka Averyl. Entah kenapa perasaan tidak enak saat melihat luka itu. Meskipun Averyl terlihat biasa saja, tapi batinnya mengatakan tidak. Alana merasa harus mencari tahu.


“Ma, tolong ajarkan Averyl memasak makanan kesukaan Eduard ya,” ujar Averyl sambil tersenyum. Ia tidak ingin rencananya hancur, setidaknya Averyl merasa harus mengetahui penyebab sikap Eduard sebelum memutuskan untuk pergi.


“Boleh, ayo kita ke dapur.”


Averyl mengangguk dan berjalan bersama. Alana membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan makanan untuk mereka masak.


“Averyl tolong bantu Mami cuci Ayamnya.” Melihat Averyl yang biasa saja membaca Alana sedikit tersenyum, ternyata Averyl bukan wanita yang manja. Ia teringat Asyila, di minta untuk duduk menemani memasak saja tidak mau apalagi membantu.


“Apa kamu sering memasak untuk Eduard?”


Averyl yang sedang mencuci ayam menoleh pada Alana. “Tidak. Averyl pernah mencoba satu kali, tapi Eduard tidak menyukainya,” Averyl tersenyum malu.


“Mami akan ajarkan kamu masak, Eduard pasti akan senang dengan masakanmu.”


“Terima kasih, Mam.”


Memasak memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Averyl memandangi masakan yang tersaji di atas meja makan. Averyl menyimpan mangkuk berisi udang goreng tepung bersama dengan lauk pauk lainnya.


Averyl menarik kursi dan duduk sejenak. Rasanya sangat lelah. Ia terkejut saat gelas berisi air putih tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Lelah ya, minum dulu sayang.”


Averyl menerima gelas pemberian Alana lalu meminumnya. Tenggorokannya masih terasa sakit, Averyl merasa beruntung karena kejadian semalam Tidak mempengaruhi pita suaranya. “Terima kasih Mam.”

__ADS_1


Alana menarik kursi di samping Averyl. “Mami sudah bosan mendengar ucapan terima kasih. Gak perlu sungkan ya sama Mami, kamu anak Mami juga. Sama seperti yang lainnya.”


“Te-“ ucapan Averyl terpotong karena tatapan garang Alana. “Maaf ma, Averyl lupa.”


Alana menanggapinya dengan tersenyum. “Bersiaplah dulu, sebentar lagi Mami akan meminta Eduard untuk pulang dan makan bersama.”


Averyl mengangguk dan beranjak dari duduknya. Ia berjalan meninggalkan Alana. Bau tubuhnya cukup membuat Averyl risi, ini pertama kalinya dalam sejarah seorang Averyl memasak segala macam menu. Badannya sudah bau keringat di tambah segala macam bau masakan menempel pada bajunya.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya Averyl kembali ke ruang makan. Sudah ada Eduard yang duduk di temani Alana.


“Bagaimana keadaan ibu sekarang?” Tanya Alana pada Eduard.


“I-ibu baik-baik saja.”


Entah mengapa Averyl merasa raut wajah Eduard sedikit berbeda saat Alana bertanya tentang ibunya.


“Apa Eduard sudah membawamu bertemu ibu kandungnya?”


Averyl melirik Eduard sebentar lalu menatap wajah Alana. “Belum Mam. Kalau boleh Averyl sangat ingin menjenguknya.”


Tanpa Alana dan Averyl sadari tangan Eduard mengepal erat.


“Eduard lain kali ajak Averyl untuk bertemu ibu.”


Eduard mengangguk, ia mengambil air putih dan menenggaknya. Perasaannya mulai tidak karuan, namun Eduard berusaha bersikap biasa saja. Dia tidak ingin siapa pun tahu tentang kematian tragis ibunya sebelum pelakunya berhasil di tangkap. “Lihat saja Namira akan aku hancurkan semua keturunanmu! Termasuk Averyl,” batin Eduard.


Selesai makan malam Eduard dan Alana berbincang, sementara Averyl pamit untuk istirahat lebih dulu.


Averyl duduk di atas tempat tidur, kakinya yang terlentang ia pijat dengan perlahan. Bibir Averyl terangkat membentuk senyuman, ia senang melihat Eduard makan begitu lahap. Sepertinya besok ia harus mencoba memasak lagi, mungkin Eduard tidak suka pancake makannya tidak mau makan.

__ADS_1


Averyl mengelus perutnya. “Baby besok kita masak lagi ya, kamu harus kuat jangan mengkhawatirkan ibu.”


Averyl menghentikan mengelus perutnya saat pintu terdengar di buka. Ternyata Eduard yang masuk. Averyl berdiri. “Kau mabuk, ini kamarku.”


“Mami menginap.”


Averyl melipat kedua tangannya di dada. “Takut ketahuan ya, kalau kita ada masalah ... Bukan masalah, lebih tepatnya kamu mencari masalah.”


Sindiran Averyl selalu saja berhasil membangkitkan amarahnya. Eduard melayangkan pukulan ke wajah Averyl namun ia teringat Alana.


Averyl tersenyum kecut melihat kepalan tangan Eduard yang terhenti beberapa centimeter di depan wajah Averyl.


Averyl menepuk-nepuk pipinya. “Ayo pukul, yang keras hingga kau puas. Kalau tidak cukup sekali berkali-kali juga aku akan diam dan menerimanya!”


Eduard menarik kembali tangannya dan berjalan melewati Averyl. Ia merebahkan tubuhnya.


Averyl memilih keluar dari kamar. Ia membuka pintu lemari pendingin. Membawa minuman alkohol dengan kadar rendah menuju halaman belakang.


Averyl duduk membuka minuman tersebut dan menuangkannya ke dalam gelas kecil lalu meminumnya.


Averyl memandang langit yang gelap tanpa bintang. Lalu menghela nafas. Ia menuangkannya dan meminumnya lagi.


“Averyl apa masalahmu begitu berat?”


***


Jangan lupa dukungannya berupa like, komentar, vote, dan hadiahnya. Terima kasih 💕


Mood nulisku lagi gak baik-baik aja, tapi karena kalian menunggu, aku bersusah payah meskipun telat update 😌

__ADS_1


__ADS_2