
Hallo 😊
Terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Aku senang karena kalian masih memberikan like dan komentar. Aku sayang kalian 💕
Happy reading 😘
Eduard melonggarkan dasinya yang terasa kencang. Suara pintu yang terbuka menarik perhatian Eduard.
“Hebat,” ucap Arsya bangga seraya bertepuk tangan.
Eduard memandang Arsya dengan tatapan kesalnya. “Ya jelas aku hebat, dan lebih pintar darimu.”
Arsya tidak tersinggung dengan ucapan Eduard. Ia duduk di sofa sambil tersenyum. “Padahal sedikit lagi, perusahaanmu boom. Hancur seketika.”
Eduard melempar bolpoin pada Arsya. Namun sasarannya meleset karena Arsya berusaha menghindar. “Kalau itu terjadi kepalamu taruhannya!”
“Harusnya kamu berterima kasih padaku Ed. Sekarang Namira tahu bahwa kau bukan lawan yang mudah di kalahkan. Kira-kira bagaimana reaksi suaminya jika perusahaannya akan bangkrut?”
“Pikir saja sendiri!” Eduard melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya. Ia berjalan keluar dari ruangannya. Namun suara Arsya berhasil menghentikan langkah Eduard.
“Averyl.” Bibir Arsya tersenyum melihat Eduard yang langsung membalikkan badannya.
Eduard terdiam menunggu kelanjutan ucapan Arsya.
“Ah tidak jadi, aku rasa itu bukan urusanku.”
“Cepat katakan!” Bentak Eduard. Ia tahu Arsya senang bermain-main, tapi Eduard tidak suka jika menyangkut Averyl.
“Averyl membawa map pengajuan perceraian.”
__ADS_1
Eduard segera keluar dari ruangannya. Ia tidak akan membiarkan Averyl pergi.
“Tuan mau ke mana?” tanya Simon.
“Bertemu Averyl.”
“Mau saya antar Tuan?”
“Tidak perlu.” Eduard segera melanjutkan langkahnya.
***
Averyl baru saja sampai di rumah. Ia duduk di kursi tempat bersantai yang ada di kamar.
Tatapannya tertuju pada buket bunga pemberian Arsya. Averyl juga tidak ingin banyak berbicara dengan Arsya karena moodnya sedikit berantakan.
Di tambah beberapa hari ke depan sudah memasuki jadwal menstruasinya. Averyl diam saja saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dia ingin menunjukkan rasa kesalnya pada Eduard.
“Aku rasa itu bukan urusanmu lagi,” ketus Averyl.
Eduard mengambil buket bunga tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
Averyl menghela nafas. “Sikapmu terlalu kekanak-kanakan.”
“Aku tidak akan memberikan kesempatan pada pria mana pun untuk mendekatimu.”
“Bunga itu dari Arsya.” Averyl memilih pergi untuk membersihkan tubuhnya.
Eduard segera menarik tubuh Averyl hingga masuk ke dalam pelukannya. “Apa kamu tidak merindukan aku?”
Averyl menengadahkan kepalanya. “Bukannya kamu yang tidak merindukan aku? Pesanku pun tidak ada yang kamu balas. Aku tidak butuh secarik kertas di pagi hari, aku hanya butuh kehadiran ka-“ Averyl mengatupkan mulutnya. Ia kesal pada dirinya sendiri, bisa-bisanya berbicara seperti itu padahal ia sedang marah pada Eduard.
__ADS_1
“Benarkah kamu menginginkan kehadiranku?” gelengan kepala Averyl membuat Eduard gemas pada istrinya. Apalagi bibirnya cemberut. Tanpa ragu Eduard melum*at bibir Averyl dengan bersemangat.
Sementara Averyl memilih diam. Ia masih marah pada Eduard.
Eduard mengakhiri serangannya karena Averyl tidak membalasnya. Dari raut wajah Averyl yang tampak kesal, Eduard mengakui kesalahannya sangat keterlaluan. “Maafkan aku membiarkanmu merasa sendirian.”
“Tidak aku maafkan.”
“Kamu ingin apa? Mobil baru atau rumah baru?”
Averyl melepaskan tubuhnya dari pelukan Eduard. “Aku bukan jala*ngmu Ed!”
“Lalu kamu mau apa?”
Averyl terdiam sambil melirik Eduard. “Dinner romantis.”
***
“Harusnya aku menceraikan wanita bodoh sepertimu dari dulu!”
Namira tertunduk. Tangannya mengepal erat. “Maaf Pram, Aku tidak bermaksud untuk membuat perusahaan kita merugi.”
Pria yang berbicara dengan Namira adalah suaminya, Pram. Pram melepaskan ikat pinggangnya. “Bersujud!”
Namira berjongkok di hadapan suaminya. Kelopak matanya tertutup saat tubuhnya merasakan cambukkan Pram.
Tidak ada rasa kasihan sedikitpun di wajah Pram saat melihat istrinya kesakitan. Bahkan Pram terus menerus mencambuk Namira.
Wanita itu bukan hanya menghancurkan perusahaan, tapi Pram masih memiliki dendam karena Namira membunuh anak Pram dari wanita yang sangat ia cintai.
Tubuh Namira ambruk ke tanah. Namira sudah tidak kuat menahan sakit di tubuhnya. Namira hanya bisa meneteskan air matanya melihat kepergian suaminya.
__ADS_1
Namira berusaha mengeluarkan ponselnya, ia menelepon orang kepercayaannya. “Aku ingin dia mati, sekarang juga!”