Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Pertahanan Diri


__ADS_3

Mata Alana membelalak saat Jordan berani menyentuh bibirnya, bahkan pria itu dengan lancang memanggilnya sayang dengan nada sensual. Bahkan barusan Jordan menerima panggilan entah dari siapa dengan sebutan sayang.


Dengan jarak sedekat ini Alana dengan mempraktikkan pertahanan diri yang di ajarkan Arvan. Dia mendorong tubuh Jordan agar menjauh darinya untuk memberikan ruang agar Alana mampu memberikan pukulan di wajah Jordan yang sangat di bencinya.


Jordan menahan tangan Alana yang hampir mengenai wajahnya, “Bagus caramu, tapi sayang kau kalah cepat,” Komentar Jordan.


Alana menarik tangannya yang di pegang Jordan dengan kasar. Jordan benar-benar menyulut emosinya, “Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajah berengsekmu lagi.”


“Papi … Mami.”


Mendengar suara Arsya yang memanggilnya Jordan dan Alana berjalan dengan cepat ke arah tempat tidur Arsya. Alana yang lebih dulu sampai memberikan senyuman pada Arsya, “Apa Arsya ingin minum?” tanya Alana dengan suara lembut.


Arsya mengangguk kecil, dia memperhatikan Jordan yang berdiri di ujung ranjangnya dengan hidung yang mengeluarkan darah. “Hidung Papi kenapa, sakit?” tanya Arsya dengan suara lemah.


Jordan meraba hidungnya menggunakan jari tangan, dia mendapati jarinya yang basah karena darah yang keluar dari hidungnya.

__ADS_1


Asrya bangkit dari tidurnya, dengan posisi duduknya Arsya meraba hidung Jordan yang berdarah. “Papi jawab Arsya, ini kenapa?”


Jordan memberikan senyuman untuk Arsya, “Papi tidak kenapa-napa.”


Arsya membersihkan hidung Jordan menggunakan tangannya, “Tapi kenapa berdarah?” Arsya masih penasaran penyebab hidung Jordan yang berdarah.


Alana yang sedang memegang gelas minum untuk Arsya, hanya diam memperhatikan wajah Arsya yang tampak mengkhawatirkan keadaan Jordan.


“Tadi Papi tidak sengaja menabrak tembok.” Jordan sengaja berbohong, ini masalah orang dewasa Arsya tidak perlu tahu kejadian yang sebenarnya. Karena ini salah dirinya yang sengaja memancing kemarahan Alana.


“Papi kok enggak hati-hati,” keluh Arsya.


Alana melirik Jordan sekilas, “Nanti Papi biar obati sendiri,” jawab Alana cuek sambil membantu Arsya untuk minum.


“Sama Mami,” ucap Arsya dengan manja.

__ADS_1


Jordan hanya menahan senyum melihat sikap manja Arsya, “Papi bisa sendiri kok.”


“Enggak Papi, pokoknya harus sama Mami. Mami itu paling jago kalau menyembuhkan luka,” jawab Arsya polos. Karena selama ini jika dia jatuh, atau kepalanya terkantuk meja Alana selalu berhasil membuatnya sembuh.


“Papi sudah besar sayang, tidak perlu bantuan Mami,” elak Alana. Meskipun hidung Jordan berdarah karena pukulannya, rasanya malas sekali jika harus membantu Jordan.


“Enggak, pokoknya mami harus bantu Papi,” rengek Arsya.


Alana hanya bisa pasrah melihat kelopak mata Arsya yang hampir basah, dan siap meluncurkan butiran bening. Dia tidak ingin melihat Arsya menangis lagi karena dirinya, dengan sangat terpaksa Alana menyanggupi permintaan jagoan kecilnya. “Iya, Mami bantu Papi. Tapi Arsya tidak boleh menangis yah.”


Wajah sedih Arsya berbinar-binar mendapati Alana yang setuju untuk membantu Jordan menyembuhkan hidung yang berdarah.


“Terima kasih Mami,” ucap Arsya.


Alana tersenyum senang saat Arsya memeluknya. “Sama-sama, sayang,” ucap Alana sambil memberikan kecupan di kepala Arysa.

__ADS_1


Jordan melihat kasih sayang yang di berikan Alana pada Arsya tidak pernah tanggung-tanggung, bahkan demi Arsya Alana bisa menurunkan egonya untuk melihat kebahagiaan anaknya.


Padahal Jordan tahu, Alana benar-benar kesal karena kejadian barusan, tapi dengan mudah gadis kecilnya itu tampak biasa saja di depan Arsya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka sebelumnya.


__ADS_2