
Alana bangun dari tidurnya karena mendengar suara sepatu Jordan yang beradu dengan lantai.
Alana merasakan ciuman di keningnya, “Tidur kembali, nanti siang Nik akan menjemputmu.”
Alana yang masih setengah sadar hanya menganggukkan kepalanya, dengan mata yang setengah terbuka.
Jordan membelai rambut Alana hingga gadisnya tertidur. Setelah memastikan Alana tidur Jordan keluar dari kamar, dia harus segera berangkat Nik sudah menunggunya di depan.
***
Alana terlihat nyaman dibalik selimutnya, tubuhnya terlalu lelah. Semalam dia melayani Jordan hingga menjelang pagi. Bahkan suara ketukan di pintu tidak mampu membangunkan Alana.
Di alam bawah sadarnya Alana mengingat Jordan yang mengatakan bahwa Nik akan menjemputnya. Alana membuka mata, dia melirik jam di kamarnya.
‘Baru juga jam dua belas’ gumam Alana, dia sudah menutup matanya kembali untuk tidur. Namun ada sesatu yang janggal, Alana kembali membuka mata menatap jam di kamarnya dengan saksama.
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, Alana memandang tubuhnya yang polos di balik selimut. Dia tidak mungkin membuka pintu jika tanpa pakai baju.
__ADS_1
Alana bangkit dari tidurnya, dia memungut baju yang jatuh di lantai akibat di lempar Jordan. Alana rasanya ingin menangis, bajunya sobek sempurna sepertinya Jordan terlalu buas semalam.
Sekarang suara ketukan di pintu kembali terdengar dengan panggilan, “Nona.”
Alana berjalan ke arah pintu tanpa membukanya, “Iya ada apa?” tanya Alana sedikit berteriak.
“Tuan meminta saya menjemput nona.”
“Iya Nik, sebentar aku siap-siap dulu.”
Alana berlari menuju kamar mandi, dengan mandi ekspres ala Alana tidak memakan banyak waktu. Alana tidak tahu Jordan akan membawanya ke mana, Alana asal pilih baju. Dia mengeringkan rambut, tidak cukup untuk sekedar meluruskan rambutnya. Memoles makup seadanya, hanya bedak dan lipstik.
“Mari nona tuan tidak suka menunggu lama.” Nik melihat jam di pergelangan tangannya, sudah dua jam dia menunggu Alana.
Alana berjalan mengikuti Nik, sesampainya di halaman Nik membukakan pintu untuk nona. Alana masuk ke mobil dan duduk dengan tenang.
Mobil yang di kendarai Nik membelah jalanan, perjalanan kali ini tidah memakan banyak waktu karena jam makan siang sudah usai satu jam yang lalu.
__ADS_1
Alana memperhatikan jalanan di depannya, dia merasa hafal jalan yang di lalui Nik, “Nik kita ke kantor?” tanya Alana memastikan.
Nik melirik lewat kaca spion di bagian depan, “Iya nona, tuan sudah menunggu di kantor.”
Tubuh Alana membeku, dia tidak menyangka akan secepat ini harus menginjakkan kaki di tempat yang paling membuat Alana merasa di titik terendahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Nik membukakan pintu mobil untuk Alana.
Alana menelan, dia menarik nafas dalam-dalam sebelum keluar dari mobil. Sekelebat ingatan buruk terus menari-nari di kepalanya.
Alana keluar dari mobil, dia berjalan dengan perlahan. Kaki Alana gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Alana berjalan perlahan mengikuti Nik yang sudah memasuki loby, dia menggigit kecil bibir bawahnya. Rasa gugup, takut, marah membaur menjadi satu.
Alana menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kakinya baru melangkah memasuki area loby. Namun tatapan tajam dari orang-orang di sana seakan menyambut kedatangannya.
Alana mencoba menenangkan dirinya, dia menghiraukan tatapan-tatapan itu, meski Alana tahu mereka semua sedang memperhatikan setiap langkahnya.
__ADS_1
Tatapan itu bagaikan anak panah yang siap melesat melumpuhkan tubuh Alana.