Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Anakku


__ADS_3

Mendengar tangis Arsya sambil memanggil namanya membuat hari Jordan sakit. Saat Alana menutup pintu mobil terlihat jelas Arsya meronta dengan memukul kaca jendela mobil.


Jordan menarik tangan Alana saat wanita itu hendak masuk ke dalamnya mobil.


Alana mengentakkan cengkeraman tangan Jordan, lalau memberikan tatapan permusuhan pada Jordan.


“Jangan seperti itu Alana, Arsya masih ingin bersamaku,” tutur Jordan.


“Memangnya kau siapa hah?” ucap Alana dengan nada mengejek, selama ini dirinya yang mengurus Arsya. Sekarang pria di hadapannya seenak jidat mengaturnya.


“Arsya anakku.”


Alana mendorong dada bidang Jordan menggunakan seluruh tenaganya.


“Anak kau bilang, selama ini kau ke mana saja. Dasar pria tidak tahu diri!”


Alana membuka pintu mobilnya, dan masuk ke dalam kursi kemudi.


Saat pintu tertutup mobil Alana hendak tertutup, Jordan menahan pintu itu dengan telapak tangannya.


Alana mengepalkan tangannya, Jordan benar-benar membuat emosinya meluap.


Dia mendorong pintu mobil dengan sekuat tenaga hingga Jordan terhuyung ke belakang.


Namun dia tidak melepaskan tangannya, supaya Alana tidak bisa menutup pintu mobil itu.


Jordan ingin egois kali ini, dia tidak bisa melihat Arsya yang menangis kencang.


Jordan mundur saat Alana turun dari mobil, hati Jordan terasa sakit melihat tatapan kebencian yang di berikan Alana untuknya.

__ADS_1


Alana mendekat dan memberikan satu pukulan telak di wajah Jordan.


Jordan terkejut mendapati Alana yang berani memukulnya.


“Kau bukan siapa-siapa Jordan, kau tidak berhak mengatur hidup aku dan Arsya.”


Arsya yang melihat Alana memukul Jordan turun dari mobil melalui pintu kursi kemudi yang terbuat.


Dengan tangis yang tidak reda Arsya berjalan menghampiri Alana, dan memeluk kaki ibunya.


“Mami jangan marahi Papi, Arsya mohon,” ucap Arsya dengan air mata yang terus meluncur membasahi pipi gembilnya.


Alana tidak pernah mendengar Arsya memohon seperti itu pada Alana.


Jordan mendekat pada Arsya lalu membelai puncak kepala anaknya dengan lembut.


“Arsya pulang yah sama Mami.”


Alana berdecap kesal, dia tidak tega melihat Arsya memohon seperti itu padanya.


Jordan ikut menatap wajah Alana, ikut memohon seperti yang di lakukan Arysa.


Alana memalingkan wajahnya, jika tidak ada Arsya di sini. Dia benar-benar ingin menendang wajah Jordan yang terlihat menjijikkan.


“Oke hari ini saja.”


Alana mengalah untuk kali ini, dia tidak bisa bersikap lebih kasar lagi pada Arsya hanya karena pri menyebalkan yang kini tersenyum.


“Horee,” teriak Arysa dengan gembira.

__ADS_1


Alana tersenyum melihat Arsya yang memeluk kakinya erat.


Jordan melihat raut wajah Alana yang berubah drastis, hanya karena melihat kegembiraan anakknya.


“Terima kasih, Mami.”


Alana mengelus rambut Arsya dengan pelan.


Jordan merasa lega melihat Alana memberikan ijin untuk Arsya.


Alana terpaksa mengikuti keinginan Arsya yang ingin tahu rumah Jordan. Setelah berceloteh ria Arsya kembali tertidur di pangkuan Jordan.


Selama di perjalanan menuju rumah Jordan Alan memilih diam, dia tidak ingin berbicara sedikit pun.


Alana menenangkan debaran jantungnya saat melihat pintu gerbang tinggi itu terbuka lebar.


Semua memorinya berputar tanpa Alana minta, dia mengepalkan tangannya mengingat perlakuan kasar Jordan.


Hari ini pria itu benar-benar membuat emosinya mudah tersulut.


Jordan turun dari mobil, sementara Alana menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan.


Dia memasang wajah datarnya, menutupi rasa kalut di hatinya saat berjalan masuk ke rumah Jordan yang menjadi saksi bisu betapa menderitanya yang Alana rasakan selama bersama Jordan.


Saat memasuki ruang tamu yang menyambut kedatangannya, tubuh Alana membeku seketika.


***


Selamat pagi

__ADS_1


Maaf yah, ternyata gantung lagi 🤭


__ADS_2