Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Mengulang Kembali


__ADS_3

“Kamu pikir aku akan mudah percaya dengan ucapan dustamu. Pilih aku atau Asyila?”


Eduard membuka blazer yang di kenakannya. Dan menatap Averyl. “Kalau ucapanku hanya dusta, untuk apa aku kemari? Lebih baik aku istirahat di rumah ... Aku sedang berusaha menyelesaikan pekerjaanku, agar kita bisa pergi bulan madu. Jadi jangan berpikir aku menghabiskan waktu hanya untuk menemani Asyila.” Eduard bangkit dari duduknya, dan pergi dari kamar Averyl.


Ucapan Eduard terus menerus terngiang-ngiang di kepala Averyl. Ada perasaan senang bercampur dengan rasa bersalah. Averyl tidak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau ia mulai merasa nyaman dengan Eduard. Dan tidak ingin ada perempuan yang lain yang merebut posisinya.


Averyl membawa blazer milik Eduard ke dalam genggamannya. Averyl baru menyadari bahwa Eduard belum sempat berganti pakaian, blazer yang di pegangnya sama dengan blazer yang di pakai Eduard tadi siang.


Perasaan bersalah itu menguap begitu saja saat Averyl teringat ucapan Eduard yang mengatakan bulan madu. “Apa Eduard akan mengajakku pergi bulan madu sungguhan?”


Hanya dengan memikirkannya saja membuat pipi Averyl bersemu merah. Averyl tidak bisa menutupi rasa senang dalam dirinya, bibirnya membentuk sebuah senyuman.


“Kenapa tersenyum?”


Averyl merubah raut wajahnya, saat suara Eduard berhasil membuatnya terkejut. “Tidak kenapa-kenapa.”


Eduard mengeluarkan makanan yang baru saja ia beli. “Aku melewatkan makan siangku. Kamu ingin makan juga?”


Averyl memandang ayam yang di balut tepung serta kentang goreng. Eduard tidak salah makan junk food malam-malam?


“Hanya ini yang jaraknya paling dekat.” Eduard melahap ayamnya tanpa memedulikan efek yang akan di timbulkan oleh makan junk food ini. Toh selama beberapa tahun ini ia tidak pernah memakannya sama sekali.


Awalnya Averyl hanya memperhatikan Eduard yang terlihat lahap. Namun lama kelamaan ia juga tertarik untuk mencobanya. Averyl mengambil satu potong ayam, rasanya enak. Averyl menghabiskan dua potong ayam. Meskipun setelahnya ia merasa bersalah pada perutnya.


Eduard sudah menghabiskan tiga potong ayam bersama kentang goreng. Tetapi perutnya masih belum merasa puas, apalagi burger yang ia beli seperti melambai-lambai menggodanya. Akhirnya Eduard mencobanya. Rasanya tidak terlalu buruk.

__ADS_1


Averyl memperhatikan Eduard yang menggigit burger. Entah kenapa burgernya terlihat lezat, bahkan Averyl terus menerus memperhatikan.


“Maaf aku hanya membeli satu, mau mencobanya?” tawar Eduard seraya mendekatkan burger pada mulut Averyl.


Averyl mengangguk dan mencoba menggigitnya. Averyl mengunyah sambil memperhatikan Eduard yang menghabiskan burger. Rasanya tidak sesuai ekspektasi, tapi entah mengapa jika Eduard yang makan terlihat sangat lezat.


“Masih mau burgernya? Aku akan turun ke bawah dan membelinya sekarang.”


“Tidak perlu, perutku sudah kenyang.”


Eduard menghabiskan minumannya sebelum angkat bicara. “Soal masalah tadi siang aku minta maaf.”


“Kamu yang memintaku untuk datang, tapi kamu juga yang mengusirku.”


“Asyila terkena Agoraphobia. Dia tidak bisa ditenangkan jika ada orang yang baru di kenalnya. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya siang tadi, aku tidak ingin Asyila pingsan karena tidak cepat di tangani.”


Eduard memeluk Averyl. “Kamu mau memaafkan kesalahanku? Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”


Averyl membalas pelukan Eduard lalu menengadahkan wajahnya untuk menatap Eduard. “Jangan di ulangi lagi.”


Eduard mengangguk, dan memberikan ciuman di bibir Eduard. “Kita pulang, aku ingin istirahat dengan nyaman.”


Averyl mengangguk dan melepaskan pelukannya. Ia menatap tangannya yang di genggam oleh Eduard. Jantungnya berdebar seperti biasa jika bersentuhan dengan Eduard.


Averyl harus merelakan mobilnya di tinggal, dan mereka pergi menggunakan mobil Eduard. Selama di perjalanan Averyl sesekali mencuri pandang pada Eduard yang fokus menyetir.

__ADS_1


Mobil yang di kendarai Eduard akhirnya sampai. Averyl dan Eduard turun dari mobil. Mereka masuk ke rumah.


Averyl dan Eduard cukup terkejut saat melihat Asyila yang duduk dengan santai di sofa.


“Ada apa Asyila?”


“Ada yang harus aku bicarakan, ini penting.”


Eduard menatap Averyl sebentar. Ia melihat rasa tidak rela dalam raut wajah Averyl. Akhirnya Eduard mengecup bibir Averyl. “Nanti aku menyusul ke kamar.”


***


Averyl sudah menunggu tiga puluh menit setelah ia selesai mandi, namun belum ada tanda-tanda Eduard kembali. Akhirnya Averyl keluar untuk mencari keberadaan Eduard.


Saat ia hendak memasuki ruang tamu terdengar jelas suara Asyila. “Aku mohon.”


Averyl bersembunyi di balik dinding pembatas untuk melihat apa yang di lakukan Eduard dan Asyila.


“Tidak Asyila.”


Averyl mengepalkan tangan, saat melihat Asyila menyender pada bahu Eduard. “Ayolah Ka, aku mohon,” ujar Asyila dengan nada memelas.


“Baiklah.”


“Aaaa terima kasih,” ujar Asyila. Ia memeluk Eduard dengan sangat erat. Sementara hati Averyl bergemuruh melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


***


Agorafobia atau agoraphobia adalah rasa takut atau cemas berlebihan pada tempat atau situasi yang membuat penderitanya merasa panik, malu, tidak berdaya, atau terperangkap. Umumnya, agoraphobia timbul ketika penderitanya sudah pernah mengalami satu kali serangan panik atau lebih.


__ADS_2