
Selamat merayakan hari idul Fitri 1443 hijriah đź’•
Minal aidin wal faidin. Mohon maaf lahir dan batin 🙏
***
Eduard mengguncang tubuh Averyl. “Bangun.”
Averyl menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Lalu membuka mata dan menatap Eduard. “Ada apa?”
“Ayo turun, kita singgah sebentar.”
Averyl menggelengkan kepalanya. “Aku lemas ingin tiduran saja.”
Tidak ingin waktu terbuang Eduard membawa Averyl ke dalam pangkuannya. Ia keluar dari kapal feri menapaki jalan kayu menuju bibir pantai.
Sinar matahari membuat Averyl menyipitkan matanya. “Ed turunkan aku, kau berlebihan.”
Eduard membawa Averyl ke bibir pantai. Dan menjatuhkan tubuh Averyl ke dalam air.
Averyl cukup terkejut saat tubuhnya jatuh ke dalam air. Baru saja ia hendak berdiri sebuah hiu-hiu berukuran sebesar pahanya melintas tepat di depan mata Averyl.
Averyl segera berdiri dan memeluk tubuh Eduard. Kakinya ia angkat setinggi mungkin, ia takut jika hiu tersebut melahap tubuhnya. “Eduard, ayo cepat kita pergi,” teriak Averyl ketakutan.
“Dia jinak Averyl, ayo turun.” Eduard berusaha melepaskan cengkeraman Averyl pada tubuhnya.
Averyl menggelengkan kepalanya. “Tidak Eduard, bawa aku ke pantai,” pinta Averyl.
Eduard menjatuhkan dirinya ke air, agar tubuh Averyl juga ikut jatuh.
“Aaa Eduard,” teriak Averyl ketakutan. Ia segera bangkit dan berlari sendiri menghindari hiu yang berenang di sekitarnya.
__ADS_1
“Sana pergi,” teriak Averyl. Saat seekor hiu memutari tubuh Averyl yang gemetar.
“Eduard tolong aku.”Averyl menahan tangis, ia benar-benar ketakutan.
Eduard tersenyum dan menghampiri Averyl. Ia membawa Averyl pada pangkuannya.
Averyl memegang kuat-kuat tubuh Eduard, ia takut jika terjauh. Eduard hanya tersenyum melihat reaksi ketakutan Averyl.
Setelah sampai di pinggir pantai, tepat di bawah pohon kelapa yang sedikit rimbun agar Averyl tidak kepanasan. Eduard menurunkan tubuh Averyl. Eduard melepaskan kemeja dan celananya yang basah. Menyisakan celana berenang yang membentuk sempurna bagian bawah perut Eduard.
Averyl duduk tanpa alas, ia memandang punggung tegap Eduard yang berjalan menuju air. Averyl bergidik ngeri saat tubuh Eduard di kelilingi beberapa hiu yang berputar. Sementara Eduard berenang dengan gaya mengapung terlentang dalam air.
Seorang fotografer yang Eduard bawa sudah siap dengan dron yang berada di atas tubuh Eduard dengan ketinggian lima meter untuk mencari posisi yang pas sebelum memotretnya. Setelah di rasa cukup fotografer memberi tanda pada Eduard.
Eduard berdiri dan melambaikan tangannya pada Averyl agar ikut. Namun Averyl malah menggelengkan kepala. Akhirnya Eduard berjalan menghampiri Averyl. “Ayo, kita harus foto.”
“Aku takut.”
Saat kakinya tergenang air Averyl menghentikan langkahnya. “Ed.”
“Ayo Averyl tidak apa-apa.”
“Eduard,” teriak Averyl. Ia takut saat betisnya tersenggol hiu.
Eduard membalikkan tubuhnya, “ Tidak apa-apa, ayo kita foto.”
“Aku tidak mau berenang terlentang,” tegas Averyl. Perhatiannya terus menatap sekitar pada hiu-hiu yang berenang di sekitar tubuhnya.
***
Akhirnya Eduard dan Averyl telah selesai berfoto, mereka duduk di pinggiran pantai menikmati semilir angin. Air yang jernih, serta pasir pantai yang putih menambah keindahan pulau CI.
__ADS_1
“Setelah ini kita ke mana?” tanya Averyl.
“Pulau karts.”
“Gak aneh-aneh lagi kayak barusan kan?”
Eduard tersenyum dan mencubit pipi Averyl karena gemas. “Tidak sayang,” bohong Eduard.
“Baiklah, awas saja mengerjaiku.”
***
Setelah selesai berganti pakaian. Mereka melanjutkan perjalanan menuju pulau Karts.
Kedatangan Averyl dan Eduard di sambut oleh batu karang besar yang menjulang tinggi.
“Jangan bercanda Ed, mau apa kita ke sini?”
“Mendaki,” jawab Eduard enteng tanpa rasa bersalah.
“Ini bukan bulan madu, tapi kamu liburan sendiri dan membuatku sengsara!”
Ponsel Eduard terus menyala menampilkan panggilan dari Simon, namun ponselnya sudah di atur menjadi mode silent saat Eduard melakukan penerbangan.
Simon berdecap kesal karena panggilannya tidak juga di angkat oleh Eduard.
“Masih tidak di angkat juga?” Arsya memberikan copy perjanjiannya dengan Namira.
Simon menerimanya. “Tidak di angkat.”
“Pelajari baik-baik, kita berdua akan di untungkan oleh perjanjian ini.”
__ADS_1
“Kau benar-benar gila Arsya!” bentak Simon.